Neo-Fungsionalisme Dalam Uni Eropa: Studi Kasus Krisis Finansial di Eurozone

Berdasarkan pengertian European Union External Action, Uni Eropa bukan merupakan sebuah negara federal ataupun organisasi internasional, akan tetapi merupakan sebuah badan otonom diantara keduanya disebut dengan ÔÇťOrganisasi Supranasional. Dalam praktiknya, organisasi suprananasional melakukan penggabungan kedaulatan. Memiliki arti bahwasanya negara-negara anggota mendelegasikan sebagian kuasa mereka dalam hal pengambilan keputusan untuk masalah-masalah tertentu yang melibatkan kepentingan bersama yang dapat diambil secara demokratis pada tingkat Eropa (EEAS, 2015).  Proses integrasi ini pada mulanya didominasi oleh isu ekonomi, namun dalam perkembangannya mengalami penambahan terhadap bidang-bidang lainnya seperti politik, keamanan dan pertahanan. Adanya ketidakmampuan Masyarakat Eropa dalam menghadapi krisis ekonomi di tahun 1970-an akhirnya membuat Komisi Eropa menerbitkan Buku Putih (White Paper) untuk memotivasi semangat integrasi seperti yang dirumuskan dalam Traktat Roma. Buku putih ini juga memberikan saran untuk menghapuskan semua bentuk hambatan perdagangan sampai tahun 1992 dengan ditandatanganinya Traktat Maastricht sebagai dasar dari adanya penggunaan mata uang tunggal bersama, yaitu Euro (Gilpin, 2000).   Di dalam Traktat Maastricht sendiri menetapkan tiga pilar yang menjadi tonggak penggerak integrasi, yaitu European Community, Common Foreign and Security Community serta Justice and Home Affairs. Setelah proses penetapan yang cukup panjang, maka pada akhirnya di tahun 1999 mata uang tunggal Euro diberlakukan di 11 negara

Upaya Jepang Dalam Menyelesaikan Terorisme di Afghanistan

Jepang yang membentuk militernya sebagai batas pertahan diri dalam menyelesaikan konflik sengketa internasional, batasan pertahan militer yang dilakukan oleh Jepang dianggap langkah yang bijak untuk negaranya agar ditakuti oleh negara-negara