Ketegangan Korea Selatan-Cina Terkait Penempatan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD)

Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) sendiri pada awalnya dikembangkan oleh Amerika Serikat, yang terinspirasi dari rudal Scud buatan Uni Soviet yang digunakan oleh tentara Iraq ketika pecahnya Gulf War (Perang Teluk) pada 1991. Akhirnya pada 1992 Amerika Serikat mulai serius untuk mengembangkan proyek sistem pertahanan anti rudal atau THAAD, hingga pada tahun 1996 mereka mulai memproduksi rudal tersebut (Zaenudin, 2017).  

Medio Juli 2016 Korea Selatan bekerja sama dengan Amerika Serikat terkait penempatan sistem pertahanan anti rudal atau Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Wonsan, Korea Selatan. Hal ini dilakukan Korea Selatan semata-mata guna merespon terkait memanasnya hubungan mereka dengan negara tetangga Korea Utara, sekaligus mengamankan negara sekutu Amerika Serikat yang berada di wilayah itu.  

Atas tindakan yang dilakukan oleh Korea Selatan dengan penempatan Terminal High Altitude Area Defense THAAD di wilayahnya, membuat Cina sebagai negara yang bertetangga dengan Korea Selatan merasa berang. Cina merasa apa yang dilakukan oleh Korea Selatan ini membuat kedaulatannya negaranya menjadi tertanggu, sebab Cina merasa radar yang terdapat di THAAD justru akan membuat sistem penangkis nuklir mereka menjadi lemah. Terlebih lagi, sebagian masyarakat Tiongkok melihat apa yang dilakukan Korea Selatan sama halnya seperti sebuah pengkhianatan terhadap negaranya (Changzheng, 2013) 

Cina merasa kerja sama Korea Selatan dan Amerika Serikat dalam penempatan THAAD, akan semakin membuat pengaruh Amerika Serikat di semenanjung Korea semakin bertambah dan sudah barang tentu akan membatasi power Cina di wilayah ini. Dampak dari penolakan Cina atas penempatan THAAD di wilayah Korea Selatan, tentu akan menimbulkan ketegangan di antara kedua negara dan juga akan mengganggu stabilitas di Semenanjung Korea (Bluth, 2011).  

Ketegangan antara Korea Selatan dan Cina bisa dilihat dari penarikan duta besar Cina untuk Korea Selatan tak lama setelah penempatan THAAD, seraya mengajukan keberatan dan protes terhadap apa yang dilakukan oleh Korea Selatan. Kemudian Cina terus bersikukuh terhadap sikap yang mereka tunjukan, yaitu sikap kontra terhadap penempatan THAAD. Kemudian Cina tetap menunjukan sikap kontranya dengan keputusan Korea Selatan untuk penempatan THAAD, dengan adanya pelarangan konten budaya Korea untuk masuk ke Cina yang ditujukan untuk menghalangi pengoprasian bisnis asal Korea Selatan yang beradi di Cina, berikutnya memberhentikan perusahaan asal Korea Selatan yaitu Lotte yang disinyalir menyediakan lahan kosong untuk penempatan THAAD di Korea Selatan, kemudian pelarangan bagi agenti pariwisata untuk melakukan penjualan paket wisata dengan tujuan ke Korea Selatan.  

Dengan adanya respon negatif dari pemerintah Cina yaitu berupa sanksi ekonomi terhadap penarikan duta besar mereka di Korea Selatan, hingga pelarangan persebaran konten budaya Korea. Seraya berharap jika Korea Selatan melakukan pembatalan proyek penempatan THAAD. Banyak yang sekali faktor yang kemudian mempengaruhi Cina untuk mengeluarkan ultimatum dan memaksa Korea Selatan untuk setidaknya membatalkan kerja sama dengan Amerika Serikat terkait penempatan THAAD. 

Referensi: 

Bluth, C. (2011). Crisison the Korean Peninsula. Potomac Book 

Changzheng, D. (2013). Economic Cooperation and Regional Stability in East Asia: Perspective from China. Journal of Global Policy and Governance, 2(2), 133-143. https://doi.org/10.1007/s40320-013-0031-6 

Zaenuduin, A. (2017, 4 Mei). Melindungi Korea Selatan Dengan THAAD. Tirto.id. https://tirto.id/melindungi-korea-selatan-dengan-thaad-cn1k 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *