Hegemoni China melalui Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) Sebagai Pesaing Bank Dunia dan IMF

China kian semakin kuat pengaruhnya dalam berbagai bidang, bukan hanya di bidang Militer saja yang semakin agresif, seperti dibuatnya pulau-pulau buatan untuk pangkalan militer mereka di Laut China Selatan yang merupakan kawasan sengketa, melainkan pengaruh China di Asia dalam bidang perpolitikan dan perekonomian internasional juga tidak terbantahkan. Tahun 2014 IMF menyatakan bahwa China merupakan negara perekonomian terbesar ke-2 dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) Nominal, dan yang terbesar mengalahkan Amerika Serikat dalam perhitungan PDB Purchasing Power Parity (PPP). China juga telah melampaui Amerika Serikat sebagai negara perdagangan terbesar di dunia pada tahun 2013.  

Kebangkitan China juga menjadi faktor kesuksesan banyak negara-negara Asia lainnya terutama di kawasan Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir ini dalam pembangunan ekonomi negaranya. Contoh saja Indonesia, kondisi perekonomian Indonesia sangatlah dipengaruhi oleh kondisi perekonomian China. Pertumbuhan ekonomi luar biasa yang dialami China, mengakibatkan tingginya permintaan untuk berbagai macam komoditas yang dimana bisa Indonesia ekspor ke China, sehingga hal ini memicu pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di Indonesia selama era pemerintahan SBY (Gibran & Pakpahan, 2017). 

Kondisi ekonomi China perlahan mengejar Amerika Serikat hingga ke posisi kedua dunia, namun posisi yang mereka dapatkan tidak signifikan di dalam sistem ekonomi dunia. China hanya memiliki peran yang kecil di lembaga keuangan internasional seperti World Bank dan IMF. Pada tahun 2015, China berhasil menciptakan lembaga keuangan internasional yang bernama Bank Investasi Infrastruktur Asia (Asian Infrastructure Investment Bank/AIIB). Kehadiran AIIB ini dipandang sebagai upaya China untuk meningkatkan peran penting dalam sistem ekonomi dunia. 

AIIB adalah sebuah bank pembangunan multilateral/Multilateral Development Bank (MDB) berbasis pengetahuan modern yang fokus terhadap pembangunan infrastruktur dan sektor produktif di kawasan Asia. Dalam keanggotaannya bukan hanya negara Asia saja, tetapi negara di seluruh dunia pun boleh terlibat sebagai anggota, tercatat ada 104 total negara yang menjadi anggota AIIB. Meskipun demikian, beberapa kalangan menyebut bahwa AIIB merupakan sebuah bentuk institusi keuangan internasional baru yang mengandung unsur kepentingan geopolitik dan geoekonomi China serta merupakan alat yang digunakan untuk menanamkan hegemoninya terhadap negara-negara anggota (Fanny & Augusta, 2019). AIIB dianggap sebagai bentuk pesaing terhadap institusi keuangan internasional yang telah berdiri seperti Bank Dunia dan IMF karena dianggap konservatif dan didominasi oleh Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Pemerintah China mengatakan bahwa dibangunnya AIIB sebagai bentuk sikap frustrasi pemerintah China terhadap lambannya reformasi dan tata kelola ekonomi global (Debora, 2017). 

Mekanisme keuangan yang telah ada seperti Bank Dunia dan IMF, atau bahkan Asian Development Bank (ADB), terkadang tidak memadai dalam implementasi kebijakan ekonomi, dan seringkali memerlukan perubahan kebijakan negara atau mekanisme manajemen yang tepat untuk mendapatkan bantuan keuangan. AIIB hadir berbeda, China berjanji untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri negara penerima. Pendekatan ini sangat menarik bagi negara-negara kurang berkembang, ketika tidak semua negara siap dan mampu memenuhi persyaratan manajemen, standar lingkungan dan tenaga kerja yang populer di negara maju. 

Dalam Tien et.al (2019) Menteri Keuangan Luksemburg Graham Meniasaid mengatakan, jika AIIB mampu menerapkan prinsip fair governance, transparansi dan profesionalisme, niscaya akan menjadi bukti lain dari rebalancing ekonomi global. Keinginan China menggunakan AIIB untuk mentransfer kelebihan pasokannya yang luar biasa dan memenuhi permintaan konstruksi yang besar dari negara-negara berkembang bukanlah hal yang buruk, dan bahkan dapat menjadi kasus yang saling menguntungkan. AIIB sama sekali tidak seperti IMF atau Bank Dunia dengan persyaratan pinjaman tambahan untuk peminjam, termasuk reformasi ekonomi dan politik. Jika memungkinkan untuk menyeimbangkan ekonomi global, untuk memastikan bahwa negara-negara berkembang memiliki kesempatan untuk memilih pinjaman yang lebih baik, AIIB dan China akan memiliki pengaruh besar pada struktur sistem keuangan internasional di masa depan. 

Kehadiran AIIB akan mengancam posisi monopoli Bank Dunia dan IMF. Pada saat yang sama, IMF dan Bank Dunia akan terdorong untuk beroperasi secara lebih demokratis, efektif dan standar, sehingga mendorong restrukturisasi sistem keuangan serta memperkuat demokrasi dalam kerja sama internasional. Meskipun namanya regional, jelas bahwa tujuan AIIB adalah untuk memperluas secara global dengan anggota pendiri dari Eropa dan Afrika. Para ahli mengatakan bahwa AIIB dibentuk untuk bersaing dengan IMF dan Bank Dunia, tetapi banyak dari mereka yang mengatakan bahwa tidak mungkin AIIB bersaing dengan tiga lembaga internasional secara bersamaan di tiga bidang yang berbeda. 

Pembentukan AIIB memiliki signifikansi ekonomi dan geopolitik yang besar dan melambangkan tren pembangunan penting. Asia merupakan wilayah padat penduduk, terhitung 60% dari populasi dunia. Sebelum revolusi industri di Eropa, PDB Asia menyumbang 60% dari dunia, menurut perkiraan ADB pada tahun 2050, PDB per kapita di Asia akan mencapai $40.000, setara dengan standar Eropa saat ini. Dengan kata lain, Asia memiliki potensi dan prospek pertumbuhan yang luar biasa. Asia akan membutuhkan banyak investasi dalam waktu dekat, terutama di bidang infrastruktur (Tien et al., 2019). Oleh karena itu, dalam konteks perkembangan kawasan Asia saat ini dan kebutuhan ke depan, AIIB hadir tepat waktu. Kemunculan AIIB tidak hanya mencerminkan tren perkembangan menuju Asia di pusat keuangan global, tetapi juga kemunculan China yang kuat, membangun sebuah tanda untuk kembali posisinya di kancah internasional.  

Dengan demikian, kemunculan AIIB merupakan sebuah tantangan bagi lembaga keuangan yang ada. AIIB bukan hanya mempromosikan pembangunan Asia membantu banyak orang keluar dari kemiskinan, melainkan juga untuk meningkatkan kelas menengah di kawasan Asia, menciptakan pasar konsumen yang besar untuk ekonomi lain di luar Asia. Meskipun ada beberapa risiko yang harus dipertimbangkan, partisipasi dalam AIIB merupakan solusi yang memadai bagi negara-negara yang membutuhkan modal untuk mengembangkan infrastrukturnya, serta negara-negara maju yang menghadapi kesulitan ekonomi akibat krisis ekonomi global. 

Referensi

Fanny, C. R., Arifianti, D. N., & Augusta, E. D. (2019). Asian Insfastructure Investment Bank (AIIB) Sebagai Bentuk Hegemoni Baru Tiongkok. Nation State: Journal of International Studies, 2(1), 71-87. https://doi.org/10.24076/NSJIS.2019v2i1.147 

Gibran, A. G., & Pakpahan, S. (2017). Kepentingan Ekonomi Politik Tiongkok Dalam Pembentukan Bank Investasi Infrastruktur Asia (Aiib) Di Negara-negara ASEAN. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, 4(2), 1-9. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/16005 

Tien, N. H., Do, P. C., Phong, V. T., Van Thuong, P., & Van Dung, H. (2019). AIIB as a Challenger for IMF and WB. American International Journal of Business Management (AIJBM), 2(10), 62-68. https://www.researchgate.net/publication/338719401_AIIB_as_a_Challenger_for_IMF_and_WB 

Debora, Y. (2017, 24 Desember) AIIB, Penantang Baru Bank Dunia dan IMF dari Cina. Tirto. https://tirto.id/aiib-penantang-baru-bank-dunia-dan-imf-dari-cina-cCcj 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *