Upaya Jepang dalam Meningkatkan Keamanan dan Mengimbangi Kekuatan Cina Di Kawasan Asia Timur

Jepang merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Asia Timur dan memiliki luas wilayah sekitar 337.815 Km². Jepang juga merupakan salah satu negara monarki tertua di dunia dan memiliki banyak pulau yang terdiri dari 6.852 pulau. Tidak hanya itu Jepang juga memiliki lebih dari 3000 pulau yang berada di pesisir Laut Pasifik di bagian timur (Nuraini, 2019). Jepang sebagai negara dengan monarki tertua di dunia sudah barang tentu memiliki sejarah yang panjang dan dikatakan bahwa sejarah Jepang sangatlah rumit.

Sejarah peradaban Jepang sendiri dimulai dengan periode bernama Jomon, yakni zaman sebelum terbentuknya Jepang dan dimulai dari 12.000 SM (sebelum masehi) sampai dengan sekitar 800 SM. Dalam periode era Jomon, mulai muncul dan bertumbuhnya budaya kelas sosial atau yang lebih dikenal dengan hirarki. Jepang saat era tersebut lebih dikenal dengan Wa atau panggilan kuno orang-orang Cina kepada kelompok yang menempati wilayah Jepang saat Zaman Tiga Negara di Cina sedang berlangsung. Pada tahun 538 masehi, merupakan awal dari zaman periode Asuka dan mulai adanya pengenalan buddhisme ke Jepang yang didatangkan dari Korea bahkan Pangeran Shotoku menjadi bagian dari buddha dan mempunyai hubungan baik dengan klan Buddha Shoga. Dalam periode tersebut mulai muncul adanya istilah ‘Nihon’ yang digunakan bangsa Jepang sendiri dalam mengenalkan identitas mereka kepada pihak luar. Setelah Pangeran Shotoku wafat mulai muncul kecemburuan dari para ketua klan kepada klan Shogo sehingga memunculkan suatu kejadian yaitu ‘Peristiwa Isshi” (Reditya, 2021).

Kaisar Kotoku sebagai pengganti dari Pangeran Shotoku kemudian menetapkan sebuah peraturan baru setelah adanya insiden tersebut yaitu Reformasi Taika yang dimana ini menjadi pendorong masuknya Jepang kedalam Periode Nara. Pada masa tersebut, pemerintahan pusat kekaisaran berusaha dalam membentuk politik lanskap Jepang dengan cara membentuk aturan-aturan baru kepada pemerintahan Jepang yang terinspirasi dari sistem hukum milik Cina pada dinasti Tang. Memasuki pada Periode Heinan, merupakan puncak dimana karya seni dan sastra Jepang sangat berkembang dan kemudian juga muncul kembali persaingan suksesi tahta yang mengarah pada persaingan antara keluarga militer dan melahirkan era keshogunan. Dalam era tersebut Jepang berada didalam periode perang sampai pada Perang Sekigahara yang kemudian dimenangkan Tokugawa Ieyasu dan beliau kemudian mendirikan Keshogunan Tokugawa dan harus berakhir pada tahun 1853. Di tahun tersebut muncul kapal hitam yang memasuki edo bay yang dikomando oleh Komodor Perry yang meminta Jepang mengakhiri kebijakan isolasionisnya (Reditya, 2021).

Dihadapkan oleh realitas tersebut membuat Jepang secara terpaksa harus membuka pintu kepada pihak asing dan mulai melakukan hubungan internasional. Demikian tidak semua pihak tidak setuju dengan kebijakan yang diambil oleh Jepang dan akhirnya mengarahkan Jepang ke dalam perang saudara yang akhirnya mendorong Restorasi Meiji dan menyebabkan Jepang terpengaruh akan budaya dari barat mulai dari cara berpakaian dan menyebabkan industrialisasi yang modern secara masif kepada Jepang. Akan tetapi saat Jepang mengikuti Perang dunia 2 mereka harus menelan kekalahan dan ekonominya hancur akibat perang. Setelah pendudukan dan demokratisasi oleh Amerika, kemudian Jepang bergabung dengan blok barat dan mengalami peningkatan ekonomi yang dahsyat dan membuatnya menjadi salah satu negara dengan perekonomiannya yang sangat kuat di dunia pada tahun 1950 sehingga bisa dikatakan bahwa Jepang mempunyai dominasi ekonomi di kawasan Asia Timur, namun demikian hal tersebut tak berlangsung lama karena pada dasarnya muncul aktor baru dalam mengimbangi Jepang di kawasan yaitu Cina.

Akibat hasil dari reformasi ekonomi yang dilakukan China pada tahun 1970 menyebabkan Cina bisa melesatkan ekonominya dengan cepat. Perkembangan dan kebangkitan ekonomi Cina dianggap sebagai suatu kekhawatiran bagi Jepang karena dipandang sebagai suatu ancaman bagi keamanan dalam kawasan wilayah Asia Timur dan keamanan nasional mereka. Hal ini dikarenakan jika suatu negara mengalami peningkatan ekonomi yang signifikan secara tidak langsung akan menunjang modernisasi dan perkembangan militernya, hal inilah yang kemudian menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi dari China akan memperbarui persenjataan China (Al Syahrin, 2018).

Hal tersebut bisa dilihat dari pengeluaran anggaran dana yang sangat fantastis dalam belanja militer yang disebutkan dalam artikel bernama ‘Huffington Post, China Lands First Jet On Its Aircraft Carrier’ bahwa Cina telah membeli berbagai macam alutistsa mulai dari rudal, kapal perang, dan teknologi nuklir. Selain itu disebutkan dalam setiap tahunnya angka belanja militer Cina selalu naik dimana misalnya pada tahun 2014 anggaran militernya sebesar 130 juta dollar dan naik menjadi 145 juta dollar pada tahun 2015 (Fathun, 2016). Akibat peningkatan belanja militer yang dilakukan oleh Cina menimbulkan sebuah security dilemma bagi Jepang sendiri dimana hal ini direspon dengan peningkatan anggaran belanja militer oleh Jepang dan semakin mempererat hubungan aliansi keamanan AS, Jepang dan Korea Selatan di kawasan Asia Timur dalam membendung dominasi Cina, selain itu memajukan pertahanan dalam bidang ruang angkasa dengan tujuan mengantisipasi dan menangkal serangan yang berasal dari ruang angkasa serta Jepang selalu berupaya merevisi undang-undang mereka terhadap pasal 9 yang membolehkan negara Jepang untuk memiliki angkatan bersenjata yang bukan hanya memiliki kemampuan dengan tujuan bertahan namun juga untuk menghadapi dinamika ancaman yang sewaktu-waktu muncul kapan saja. Revisi terhadap pasal 9 ini akan membuat Jepang bisa kembali menjadi sebuah negara yang normal dan memiliki angkatan bersenjata kembali seperti negara lain pada umumnya. Amandemen tersebut semakin mendesak terlebih dengan dinamika konflik yang melibatkan Jepang dan Cina sebagai kekuatan militer baru di Asia terkait persengketaan di Laut Jepang Timur (Rachmat, 2017).

Referensi

Nuraini, T. N. (2020, 9 Juni). 7 Kerajaan Tertua di Dunia Masih Ada Hingga Kini, Usianya 1.085 Tahun. Merdeka. https://www.merdeka.com/trending/7-kerajaan-tertua-di-dunia-masih-ada-hingga-kini-usianya-1085-tahun.html

Reditya, T. H. (2020, 6 November). Sejarah Jepang: Dari Negeri Matahari Terbit sampai Era Modern. Kompas. https://internasional.kompas.com/read/2021/10/06/110945770/sejarah-jepang-dari-negeri-matahari-terbit-sampai-era-modern?page=all

Fathun, L. M. (2016). Pengaruh Peningkatan Kekuatan Militer Tiongkok terhadap Keamanan Stabilitas Regional Asia Timur. The Politics : Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 2(2), 183-204. https://journal.unhas.ac.id/index.php/politics/article/view/3038

Al Syahrin, M. N. (2018). Kompleksitas Keamanan Kawasan dan Tantangan Kerja Sama Keamanan Asia Timur. Nation State: Journal of International Studies, 1(1), 24-44. https://doi.org/10.24076/NSJIS.2018v1i1.88

Rachmat, A. N. (2017). Security Dilemma Dalam dinamika Hubungan Bilateral China dan Jepang. Jurnal Interdependence, 5(1), 1-9. http://e-journals.unmul.ac.id/index.php/JHII/article/view/1343

Author:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *