Upaya Jepang Dalam Mengatasi Masalah Kehidupan Lansia

Jepang yang merupakan negara maju dengan lingkungan yang berkualitas, masyarakat bergaya hidup sehat dan tekonologi pengobatan yang canggih ini membuat banyak masyarakat Jepang memiliki umur yang panjang. Jepang apabila dibandingkan dengan negara – negara lain merupakan salah satu negara yang memiliki umur paling panjang (Mansyar, 2004). Sebelum terjadinya Perang Dunia II, Jepang menganut sistem keluarga besar ie. Dalam sistem ini, anak laki – laki yang pertama akan mewarisi harta warisan orang tua dan wajib merawat orang tua nya pada hari tua. Pada masa sebelum perang, perawatan orang tua cenderung lebih singkat di karenakan harapan hidup yang pendek. Tetapi pada masa saat ini, setelah di hapusnya sistem ie setelah Perang Dunia II, di dalam anggota keluarga hanya terdiri dari orang tua dan anak (Suherman, 2004). Adapun faktor lain nya yaitu banyaknya masyarakat usia muda yang sebagian besar mencari pekerjaan ke kota ini membuat jumlah keluarga semakin berkurang. Sehingga hal ini lah yang membuat sulit untuk mengatur siapa yang akan merawat dan menjaga lansia di dalam keluarga mereka.

Pada saat ini, Jepang mengalami jumlah peningkatan lansia yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Jepang. Pengaruh ini dapat dirasakan dalam merawat lansia di hari tuanya. Dengan panjangnya usia hidup masyarakat Jepang, waktu yang akan di butuhkan lansia dalam perawatan di masa tuanya pun semakin panjang, berkurangnya jumlah anak dalam keluarga dan hal ini lah yang menyebabkan perawatan kehidupan lansia menjadi salah satu permasalahan utama yang ada di Jepang saat ini (Chie, 1970). Jepang pada saat ini terus mengalami jumlah penurunan pada kelompok usia anak – anak dan kelompok usia kerja yang mengakibatkan ekonomi akan menyusut jika produktivitas tidak meningkat lebih cepat dari pada tingkat penurunan tenaga kerja.

Dalam mengatasi permasalahan kehidupan lansia ini, Pada tahun 1990 pemerintah Jepang meluncurkan sebuah proyek sepuluh tahun yang dinamakan Rencana Emas yang bertujuan untuk memperluas kapasitas rumah jompo dan untuk meningkatkan pelayanan sosial untuk para lansia yang tinggal dirumah. Pemerintah juga akan mempertimbangkan skema baru untuk menyediakan layanan perawatan dirumah. Pada tahun 1994, pemerintah Jepang memberikan kebijakan untuk menaikkan usia pensiun minimum menjadi 60 tahun dan kebijakan ini mulai berlaku pada tahun 1998. Dalam perusahaan swasta, pemerintah meminta untuk mempertahankan pekerja mereka setelah usia pensiun dengan memperpanjang pekerjaan mereka atau dengan mencarikan posisi lain untuk mereka yang sudah usia pensiun. Akan tetapi, partisipasi untuk angkatan kerja di kalangan orang tua telah mengalami penurunan sedikit dalam beberapa tahun terakhir akibat dari resesi ekonomi di Jepang. Di negara Jepang, orang yang sudah lansia cenderung tidak di lembagakan. Ajaran moral konfusius ini lah yang mewajibkan berbakti kepada orang tua yang memperkuat budaya malu dan biasanya melibatkan putra pertama dan istri dalam mengasuh orang tua mereka yang memerlukan perawatan (Gordon, 2014). Karena wanita merupakan pengasuh utama bagi orang yang sudah lanjut usia, maka perubahan yang terjadi pada status wanita pun juga berdampak pada perawatan lansia. Pendidikan wanita di jepang telah mengalami peningkatan selama beberapa dekade terakhir. Akibat terjadinya perubahan pendidikan wanita di Jepang yang terus meningkat ini, mengakibatkan para wanita melemahkan kewajiban mereka untuk merawat orang tua. Maka dari itu, permasalahan kehidupan masyarakat lansia di Jepang ini merupakan salah satu masalah utama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ekonomi di Jepang.

Referensi:

Chie, N. (1970). Japan Society. University of California Press.

Gordon, A. (2014). A Modern History of Japan. Oxford University Press.

Mansyar, A. (2004). Sistem Keluarga Jepang Pasca Perang Dunia II. USU Press Medan.

Suherman, E. (2004). Dinamika Masyarakat Jepang dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II. Humaniora.

Author: Tatiek Dwi Pangesti

Hubungan Internasional di Asia Tenggara dan Asia Timur (A)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *