The Japan – Singapore Economic Partnership Agreement

Secara historis hubungan Jepang dan Singapura memiliki hubungan yang sangat baik. Pada tahun 1942 Jepang sempat menduduki Singapura, yang dimana pada saat itu pasukan sekutu yang berasal dari Inggris masih menguasai Singapura dan tidak lama pada saat itu Inggris menyerahkan Singapura kepada Jepang (Budiarjo, 2008). Pada tahun 1966 Jepang dan Singapura pertama kali melakukan kerja sama antar kedua negara tepat pada saat setahun setelah merdeka nya negara Singapura. Setelah Singapura menyatakan kemerdekaannya, setahun kemudian Jepang hadir untuk mengadakan hubungan diplomatik dengan negara Singapura (Ikbal, 2016). Pada tahun 1999 Jepang dan Singapura menyepakati perjanjian perdagangan bebas antar negaranya. Pada tahun 2000 Jepang dan Singapura melakukan tahapan dan negosiasi antar kedua negara untuk sebuah perjanjian Free Trade Agreement (FTA).

The Japan – Singapore Economic Partnership Agreement (JSEPA) merupakan Free Trade Agreement (FTA) yang pertama kali nya dalam sejarah Jepang. Jepang memilih Singapura untuk menjadikan mitra pertamanya dalam sebuah kebijakan baru untuk memajukan ekonomi negara Jepang. Menurut Singapura, FTA yang memiliki kekuatan global seperti negara Jepang ini sangat berguna untuk melihat upaya agresifitasnya terhadap pengaturan perdagangan regional dan bilateral di luar kerangka World Trade Organization (WTO) dan untuk menekan pentingnya perdagangan yang berkelanjutan bagi ekonomi Singapura. Dalam kerja sama JSEPA ini Jepang akan menghapus tarif 3.800 produk dari Singapura dan meningkatkan proporsi impor non – tarif dari Singapura dari 84% sampai 94%. Tidak hanya Jepang, Singapura akan menghapus tarif minuman beralkohol dari negara Jepang karena produk ini akan meningkatkan proporsi impor non – tarif dari 99% menjadi 100%. Jepang dan Singapura berkomitmen untuk memberikan perlakuan nasional dan tidak mempertahankan tindakan non – tarif yang tidak sesuai dengan peraturan WTO. Dalam hal investasi, Jepang sendiri merupakan investor terbesar di Singapura dalam bidang manufaktur. Investasi ini telah menciptakan nilai bagi perekonomian Singapura melalui lapangan kerja yang terampil, pengenalan teknologi baru, dan inovasi ke dalam bidang (Loh, 2002). Melalui JSEPA ini, para investor Jepang akan memiliki kepercayaan yang lebih kuat untuk berinvestasi ke negara Singapura karena perjanjian ini telah menjamin peningkatan perlindungan, kemudahan dalam pengoperasian bagi investor Jepang. Begitu pula investasi dari Singapura ke Jepang juga akan memiliki perlindungan dan hak yang sama. JSEPA akan memperbolehkan perusahaan asing yang mempunyai operasi bisnis substantive di Singapura untuk mendapatkan keuntungan dari JSEPA ketika berinvestasi di negara Jepang.

Pada hal ini, JSEPA akan memainkan peran yang cukup vital dalam mempercepat dan mempromosikan pembangunan ekonomi dan integrasi di kawasan Asia. Melalui peningkatan hubungan ekonomi antara negara Jepang dan Singapura ini JSEPA akan menaruh kehadiran Jepang di kawasan Asia Tenggara. JSEPA akan meningkatkan kerja sama ekonomi dalam berbagai bidang. Berikut bentuk kerja sama JSEPA ini meliputi: Perdagangan Tanpa Kertas, Promosi Perdagangan dan Investasi, Keuangan, Layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi, Ilmu pengetahuan dan Teknologi, Kesepakatan para pihak untuk bekerja sama di bidang kekayaan intelektual (HAKI), Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penyiaran, Pariwisata, dan Usaha Kecil Menengah (Hasegawa, 1975). Hal ini yang akan memberikan peluang bisnis baru bagi perusahaan dan individu di Jepang dan Singapura. Oleh karena itu, makna penting JSEPA ini dapat berfungsi sebagai model untuk integrasi ekonomi regional dan memiliki makna penting untuk kontribusinya untuk kawasan Asia.

Referensi:

Budiarjo, M. (2008). Dasar – Dasar Ilmu Politik. PT Gramedia Pustaka Umum.

Hasegawa, S. (1975). Japanese Foreign Aid: Policy and Practice. Praeger.

Ikbal, M. (2016). Evolution of Japanese ODA 1945 – 2015: An analysis. International Journal of East Asia, 5(1), 14-28. http://jice.um.edu.my/index.php/IJEAS/article/view/18806

Loh, D. K. Y. (2002). The Japan – Singapore Economic Partnership Agreement: Underpinning of an East Asia Trade Bloc?. The Journal of World Investment and Trade, 3(3), 535-561. https://brill.com/view/journals/jwit/3/3/article-p535_1.xml

Author: Tatiek Dwi Pangesti

Hubungan Internasional di Asia Tenggara dan Asia Timur (A)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *