Self Defense Forces sebagai Jalan Pintas bagi Jepang

Setelah mengalami kekalahan pada perang dunia II, Jepang merelakan title sebagai negara militeristik dan tidak akan membangun kekuatan militer lagi. Hal ini disebutkan dalam pasal 9 yang dibentuk oleh otoritas Amerika Serikat setelah kekalahan telak Jepang. Semenjak pasal itu ditetapkan Jepang menjadi sekutu Amerika Serikat dan seolah menjadi “bawahan” atau “pesuruh” Amerika Serikat, karena setiap keputusan Jepang dalam permasalahan militer akan selalu ada Amerika Serikat dibelakangnya. Jepang memang harus merelakan title negara militeristiknya, tetapi ada keuntungannya juga Ketika Jepang memilih untuk menjadi sekutu Ameika Serikat, Jepang menjadi negara yang berfokus kepada sektor ekonomi dan bisa merajai pasar dunia pada saat itu. Hal itu menjadi kompensasi bagi Jepang yang telah merelakan tidak lagi menjadi negara yang kuat dalam sektor militer (Krauss & Pempel, 2004).  

Namun para penguasa pemerintahan Jepang khususnya Abe tidak bisa tinggal diam dan pasrah akan syarat pelepasan kekuatan militer Jepang dari Amerika Serikat tersebut. Mereka terus mencari cara untuk membuat Jepang memiliki kekuatan militer seperti zaman dahulu. Dilihat dari ancaman yang diterima Jepang semakin menguat mengingat banyaknya konflik di Kawasan Asia Timur, Jepang diharuskan memiliki kekuatan militer sendiri tanpa harus berada dibawah bayang-bayang Amerika Serikat lagi. Salah satu upaya Jepang untuk tetap memperkuat kekuatan militernya adalah dengan menjadi salah satu badan pemeliharaan perdamaian PBB, yaitu mengadakan Self Defense Force’s (SDF)Walaupun sebenarnya keberadaan SDF ini hanya sebagai badan pemeliharaan perdamaian dibawah PBB, tetapi mengikuti pengalamannya yang sukses di Kamboja SDF telah berhasil dikerahkan dalam berbagai operasi penjaga perdamaian dan juga misi kemanusiaan. Penting untuk dicatat bahwa kegiatan resmi SDF di semua penempatan di luar negeri memiliki batasan. Beberapa pembatasan telah dikurangi dari waktu ke waktu, seperti misalnya larangan penggunaan senjata dalam penempatan di luar negeri telah direvisi untuk memungkinkan pertahanan diri dan melindungi mereka yang berada dibawah kendali SDF.  

 Jepang juga telah memperdalam dan memperluas tanggung jawab SDF dalam konteks aliansi keamanan AS-Jepang. Pemerintah meresmikan peran yang diperluas untuk SDF dalam koalisi ergeser dari keijakan tradisional yang hanya menggunakan militer untuk pertahanan diri menjadi keijakan yang berupaya berkontribusi pada pemeliharaan perdamaian regional dan internasional ahkan menyelesaikan krisis militer (Singh, 2015). Karena kesuksesan SDF ini Jepang memiliki alas an untuk menaikkan anggaran perbelanjaan militernya dan memperbarui kekuatan militer negaranya. Terlihat pada tahun 2014, Kementerian Pertahanan Jepang mengajukan  permintaan anggaran belanja militer dengan jumlah terbesar sepanjang sejarah pertahanan  Jepang, sebesar ¥5.05 Triliun (Japan defence ministry…, 2014). 

Walaupun Jepang mengajukan anggaran belanja militer yang sangat besar pada saat itu, tidak ada penolakan baik dari pemerintah maupun publik Jepang dikarenakan mereka sudah paham bahwa kekuatan militer ini memang sangat vital bagi sebuah negara. Ditambah lagi ada SDF sebagai alibi Jepang untuk memperbarui kekauatan militernya. SDF ini sebagai jalan pintas bagi Jepang untuk menggapai cita-citanya kembali sebagai negara yang kuat dalam bidang militer. Sebelum pasal 9 direvisi Jepang masih bisa memperkuat kekuatan militernya tanpa harus mengambil jalan yang sulit. 

Referensi 

Krauss, E, S. & Pempel, T, J. (2004). Beyond Bilateralism: U.S-Japan Relations In The New Asia -Pacific. Stanford University Press. 

Singh, B. (2015). The Development of Japanese Security Policy: A Long-Term Defensive Strategy. Asia Policy19, 49–64. http://www.jstor.org/stable/249053000  

Japan defence ministry makes largest-ever budget request (2014, 29 Agustus). BBC News. https://www.bbc.com/news/world-asia-28978322 

Author: Egha Fauziah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *