Respon ASEAN Mengenai Ketegangan di Semenanjung Korea

Wilayah Semenanjung Korea telah terbagi serta berkembangnya kedua negara hingga dewasa ini menjadi bukti persaingan ideologi pada masa perang dingin di tahun 1945. Kedua negara tersebut dikuasai oleh dua kekuaatan besar yang ada pada saat itu, yang sedikit banyak mempengaruhi politik luar negeri baik negara Korea Utara maupun Korea Selatan (Syahrin, 2018). Pecahnya perang korea yang terjadi pada 25 Juni 1950 dimana Korea Utara bersama dengan Uni Soviet menginvasi wilayah selatan yang memang berpihak kepada barat atau Amerika Serikat, perang tersebut berlangsung selama 3 tahun yang berakhir karena adanya gencatan senjata serta dari perang yang terjadi mengakibatkan adanya korban jiwa yang menewaskan tentara dan juga warga sipil sebanyak 5 juta jiwa (Antaribaba, Salim, & Jumino, 2021). Pasca gencatan senjata yang dilakukan, baik negara Uni Soviet dan Amerika Serikat melakukan kesepakatan untuk memisahkan kedua wilayah dan resminya wilayah korea telah terpisah dengan adanya sebuah garis 38 derajat atau zona demiliterisasi (DMZ) yang juga memperluas jarak dan sifat kedua negara tersebut dalam sistem politik, ekonomi, keadaan sosial, serta pada output budaya yang dimiliki oleh masing-masing negara. Setelah gencatan senjata yang dilakukan tahun 1953 kedua negara semakin tidak harmonis dengan adanya konflik, serta pertentangan kekuatan militer terjadi semakin sering (Syahrin, 2018).

Melihat pada letak geografis baik wilayah dan Semenanjung Korea ini sangat strategis sebagai penghubung antara negara Jepang, Cina, bahkan Amerika Serikat. Upaya penyatuan telah dilakukan sejak terpisahnya kedua wilayah yang saat ini telah menjadi negara telah dilakukan oleh masing-masing negara, namun tindakan yang dilakukan sangat berbeda karena latar belakang kedua negara yang secara sifat memang berbeda. Korea Utara cenderung melakukan unifikasi dengan melakukan kebijkan militer di wilayah Semenanjung Korea, sedangkan Korea Selatan melakukan dengan cara soft yaitu melalui pendekatan diplomatik serta membangun dialog atau komunikasi yang baik dengan Korea Utara, namun upaya unifikasi yang dilakukan sejak awal pada beberapa dekade lalu belum mencapai hasil yang dinginkan hingga saat ini. Instabilitas keamanan yang terjadi di Semenanjung Korea atau bahkan kawasan Asia Timur sendiri dipengaruhi oleh banyak sekali faktor, salah satunya adanya kepentingan dari masing-masing negara dalam menjalankan kebijakan untuk memenuhi kepetingan nasional mereka di kawasan, dinamika hubungan yang terjadi di kawasan Asia Timur beberapa tahun terakhir ini dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas kekuatan militer serta ekonomi (Syahrin, 2018). Korea Utara juga melakukan pengembangan senjata nuklir yang menjadi hambatan dalam upaya perdamaian. ASEAN dan juga negara di kawasan Asia Timur khususnya Korea Utara dan Korea Selatan memiliki hubungan yang dapat dikatakan baik. Pada bidang politik dan keamanan ASEAN melakukan kerja sama dengan kedua negara korea tersebut yang diperkuat dengan melakukan berbagai pertemuan atau dialog dalam beberapa kesempatan diantaranya; KTT ASEAN-ROK (ASEAN-Korea Selatan), ASEAN Plus Three, ASEAN Defense Ministerial Meeting Plus (ADMM Plus). Lebih lanjut hubungan baik yang dilakukan oleh ASEAN tidak hanya dengan negara kedua negara korea saja, melainkan juga dengan negara Amerika Serikat dan Cina dalam berbagai perjanjian kerja sama diantaranya; US-ASEAN Trade and Invesment Framework Agreement (TIFA), Cina-ASEAN Join Committe on Cooperation and ASEAN Beijing Committe, dan US-Singapore Free Trade Argreement (FTA) (Mu’aqaffi, et al., 2018).

Hubungan yang telah terjalin oleh ASEAN baik dengan negara di kawasan Asia Timur dan juga Amerika Serikat mempengaruhi respon dan tindakan yang dilakukan atas konflik yang terjadi di semenanjung korea, baik dalam proses reunifikasi, perdamaian korea atau keinginan untuk menciptakan kondisi damai di Semenanjung Korea. ASEAN hingga saat ini berperan aktif untuk menjadikan Semenanjung Korea wilayah yang damai dengan melakukan kerja sama dengan Korea Selatan dalam ASEAN-ROK (Antaribaba, Salim, & Jumino, 2021). Kompeksitas yang terjadi di Semenanjung Korea terjadi karena meningkatnya pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara, serta respon  dan tindakan ASEAN untuk perdamaian maupun stabilitas Semenanjung Korea dengan melakukan komunikasi atau dialog sebagai forum regional untuk kepentingan negara-negara anggota ASEAN karena wilayahnya yang strategis antara Asia Timur dan Asia Tenggara (Syahrin, 2018).

Referensi

Syahrin, M. N. (2018). Keamanan Asia Timur Realitas, Kompleksitas, dan Rivalitas. Komojoyo Press.

Antaribaba, A., Salim, A., & Jumino, J. (2021). Analisis Peran ASEAN dalam Proses Unifikasi Semenanjung Korea. Gulawentah: Jurnal Studi Sosial, 6(1), 69-76. http://doi.org/10.25273/gulawentah.v6i1.9597

Mu’aqaffi, G., Ramadhani, H. Y., Ananda, R., Farras, A. N., Wahyudi, S., & Aryaguna, A. (2018). Bergayuh Agar Tak Lumpuh: Proyeksi Peran ASEAN dalam Penyelesaian isu Semenanjung Korea. Indonesian Perspective, 3(2), 87-110. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ip/article/download/22346/14785

Author: Noor Alzannah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *