Perjanjian Three NOs sebagai Titik Terang Hubungan Korea Selatan dan China Pasca Sengketa THAAD (Terminal High Altitude Area Defense)

Tahun 2016 lalu, Korea Selatan mengumumkan kesepakatannya dengan Amerika Serikat sebagai aliansi untuk menempatkan sistem anti rudal atau Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan, sebagai cara Korea Selatan untuk mewaspadai ancaman yang muncul akibat dari uji coba nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara. Tepatnya 2017, pembangunan sistem anti rudal tersebut mulai dilaksanakan. Banyak penolakan dari masyarakat sekitar karena dinilai mampu menimbulkan gangguan kesehatan akibat radiasi yang dihasilkan dari kawasan THAAD tersebut. Namun, pemerintahan Korea Selatan tetap bersikukuh dengan keputusannya. Dengan dipindahkannya kawasan THAAD ke Lotte Skyhill Seongju Country Club di wilayah Seongju, merupakan cara yang dilakukan oleh pemerintahan Korea Selatan untuk meredam kekhawatiran masyarakat sekitar (Paramitha, Prameswari & Nugraha, 2021).  

Diketahui bahwa hubungan diplomatik antara Korea Selatan dengan Tiongkok mulai terbentuk pada tahun 1992 pasca berakhirnya Perang Korea. Hubungan diplomatik antara kedua negara terjalin dengan baik yang dapat dilihat dari  berbagai  kunjungan  kenegaraan yang dilakukan oleh masing-masing kepala negara. Korea Selatan dan China menjalin hubungan politik, keamanan dan ekonomi yang relatif baik, meskipun kedua negara ini memiliki sistem pemerintahan yang berbeda (Paramitha, Prameswari & Nugraha, 2021).  

Keputusan Korea Selatan bekerjasama dengan Amerika Serikat dalam pembuatan THAAD ini mendaptkan respon keras dari China serta merusak hubungan baik antara Korea Selatan dengan China yang sudah terjalin lebih dari 10 tahun. Dilansir dari Kumparan.com, banyak ahli yang mengatakan bahwa penolakan dari China terhadap THAAD ini sebenarnya ditujukan untuk Amerika Serikat. Menurut China dengan adanya sistem pertahanan rudal Amerika di Korea Selatan, tentu akan menguntungkan Amerika untuk melacak keberadaan rudal balistik yang dimiliki China. Oleh sebab itu China merespon dengan keras upaya kerjasama bidang nuklir antara Korea Selatan dengan Amerika serikat ini. Namun berdasarkan pernyataan China, penolakan yang dilakukan China hanya untuk mencegah Korea Selatan dan juga Jepang menjadi negara boneka Amerika Serikat (Korea Chobo, 20217). 

China menunjukan respon kerasnya dengan menerapkan beberapa sanski ekonomi. Menurut Korean Tourism Organazition, banyaknya wisatawan asal China pada tahun 2017 menurun 48,3%, menjadi 4,17 juta orang akibat peristiwa sengketa ini (KBS World Radio, 2018). Lalu, Korea Selatan yang dikenal dengan budaya K-Pop dan Acara televisinya yang dikenal masyarakat luas mendapatkan dampaknya. China Central Television (CCTV), yang merupakan sebuah saluran TV milik pemerintah China, melaporkan bahwa pemerintah telah melarang penayangan acara TV Korea Selatan serta eskpor budaya populer lainnya pada September 2016. Liputan mengenai berita selebriti Korea Selatan dan review film Korea Selatan juga dihilangkan dari TV dan surat kabar China. Selain itu, beberapa acara di China yang menampilkan boyband serta girlband dan beberapa acara televisi telah dibatalkan, dan pembatalan tersebut mengakibatkan kecemasan di Korea Selatan yang menyebabkan harga saham beberapa perusahaan hiburan terbesar Korea Selatan terjatuh. Diketahui, saham SM entertaintment yang menaungi Super Junior, EXO, Girl Generation turun 8.2%, dan YG Entertainment Corp, agensi yang menaungi Big Bang dam BLACKPINK turun sebesar 6,9%. Akibatnya bisnis-bisnis milik Korea Selatan menedrita akibat boikot dan pemblokiran ini (Putri, 2016). 

Oleh karena itu, Korea Selatan berupaya memperbaiki hubungannya dengan China melalui upaya negosiasi. Proses negosiasi dilakukan melalui beberapa tahapan, yakni tahap Pranegotiation, dalam tahap ini Presiden Moon Jae In menyerukan untuk diadakannya perundingan bilateral untuk menyatukan pemahaman terkait THAAD melalui percakapan telepon seluler dengan Presiden Xi Jin Ping. Tahap Around-the-Table’ Negotiation, dalam tahap ini Korea Selatan mengirimkan utusannya untuk menghadiri berbagai pertemuan kenegaraan yang juga dihadiri Tiongkok dengan tujuan meyakinkan Tiongkok bahwa pemasangan THAAD adalah untuk perlindungan diri dan mencari jalan keluar dari permasalahan yang terjadi diantara kedua negara. Tahap Diplomatic Momentum, Korea Selatan pada 30 Oktober 2017 menyepakati poin Three No’s yang diinginkan oleh Tiongkok. Tahap Packaging Agreement, pada 31 Oktober 2017 kedua negara sama-sama mengeluarkan pernyataan resmi terkait dengan kesepakatan untuk melakukan normalisasi hubungan diplomatik. Tahap Following Up, dalam tahap ini kedua negara kembali melakukan kunjungan kenegaraan guna membahas berbagai kerja sama yang sebelumnya tertunda serta Korea Selatan meminta agar Tiongkok membuka boikot terhadap perekonomian Korea Selatan (Pramesti, 2019). 

Permasalahan THAAD menemukan titik terang setelah Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung Wha, menyatakan persetujuan terhadap poin Three NOs yang diinginkan Cina yaitu: 1) tidak ada pemasangan THAAD tambahan; 2) tidak berpartisipasi dalam jaringan pertahanan misil AS; dan 3) tidak ada pembentukan aliansi militer trilateral dengan AS dan Jepang. Menteri Kang mengumumkan hal tersebut dalam audit parlemen oleh Majelis Nasional pada 30 Oktober 2017 (Jung 2017). Kemudian pada 31 Oktober 2017, Kementerian Luar Negeri China mengumumkan normalisasi hubungan dengan Korea Selatan. 

Setelah kesepakatan Three NOs itu, China bersemangat untuk memulai kembali hubungan dengan Korea Selatan dibawah kepemimpinan Moon Jae In, dimana pada saat kepemimpinan sebelumnnya hubungan antara China dengan Korea Selatan tidak mampu diperbaiki, namun presiden Moon Jae In memberikan harapan baru untuk China. Meskipun begitu kedua pihak (Korea Selatan dan China) masih memiliki pandangan yang berbeda di kawasan THAAD, yang mampu memicu kembali sengketa anatra keduanya (Taylor, 2020). 

Referensi 

Paramitha, M, C., Parameswari, A, A, A, I., & Nugraha, A, A, B, S, W. (2021). Upaya Diplomasi Korea Selatan Memperbaiki Hubungan Ekonomi Dengan Tiongkok Pasca Pemasalahan Terminal High Altitude Area Defense (Thaad). Jurnal Hubungan Internasional 2021, 2(1). https://ojs.unud.ac.id/index.php/hi/article/view/72083/39176

Pramesti, D. (2019) Analisis Penggunaan Three NOs oleh Korea Selatan untuk Mengatasi Boikot di Cina Akibat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Journal of International Relations, 5(1), 1023-1032. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jihi/article/view/22710/20771

Chobo, K. (2017, 8 Maret). Ini Alasan China Marah Besar Pada Korea Selatan. Kumparan. https://kumparan.com/korea-chobo/ini-alasan-china-marah-besar-pada-korea-selatan/full

Taylor, A. (2020, 12 Desember). Korea Selatan dan China ‘Berbaikan’ Setelah Sengketa Pertahanan Rudal. Mata Mata Politik. https://www.matamatapolitik.com/news/korea-selatan-dan-china-berbaikan-setelah-sengketa-pertahanan-rudal

Putri, A, W. (2016, 30 November). China Memboikot K-Pop Gara-Gara Urusan Nuklir. tirto.id. https://tirto.id/cina-memboikot-k-pop-gara-gara-urusan-nuklir-b5Wv

Author:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *