Peran Jepang dalam Upaya Pengelolaan Sampah di Indonesia

Permasalahan lingkungan merupakan satu topik hangat yang sedang diperbincangkan di dunia internasional pada abad 21. Hal ini merupakan salah satu fokus yang membutuhkan peran tidak hanya dari individu namun juga negara. Maka dari itu isu ini adalah fokus bersama karena dapat dikatakan kompleks atas dampaknya pada lingkungan sekitar. Pengelolaan sampah merupakan sebuah upaya yang tepat dalam melindungi dunia dari kerusakan lingkungan serta mengurangi dampak setelahnya. Pengelolaan sampah juga dirasa harus bijaksana agar generasi muda semakin bertanggung jawab atas perhatian isu lingkungan ini.  

Dalam buku Jackson & Sorensen (1999) yang berjudul Introduction to International Relations menjelaskan mengenai pandangan nya terhadap teori hijau pada tahun 1960-an.T eori ini pada awalnya muncul untuk mengkritik perspektif liberalisme dan melihat isu-isu nyata ketika perang dingin telah mengakibatkan kerusakan lingkungan secara berlebihan (Jackson & Sorensen, 1999 : 322-323).  

Sebagai salah satu negara maju di kawasan Asia, Jepang berkomitmen tinggi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga level 25%. Hal ini akan diupayakan pihak Jepang dengan berbagai kegiatan pengurangan emisi di dalam negeri maupun kerja sama dengan negara lain. Jepang dan Indonesia telah merancang beberapa aturan dasar untuk implementasi JCM yang dilakukan sejak tahun 2013.   

Isu sampah adalah salah satu permasalahan yang cukup penting saat ini di Indonesia, hal ini karena permasalahan ini tidak hanya berdampak kepada kelestarian alam saja namun juga berpotensi untuk menimbulkan konflik pada masyarakat. Menurut angka dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan bahwa timbulan sampah secara nasional lebih dari 33 juta ton sampah per tahun (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,2020).  Dengan angka sebesar ini membuat pemerintah Indonesia harus turun tangan untuk turut mengatasi permasalahan global ini. Jepang yakni satu negara yang membantu Indonesia dalam upaya pengelolaan sampah. Melalui JICA (Japan International Cooperation Agency) Indonesia yang diwakili oleh Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya membuat sebuah Memorandum of Cooperation (MoC) mengenai pengelolaan sampah dibeberapa kota besar Indonesia.   

JICA sendiri memberikan sebuah program yang diimplementasikan oleh kota di Indonesia yaitu Balikpapan, melalui program 3R (reduce, reuse, recycle). Salah satu alasan program ini diberlakukan di Kota ini adalah karena kota Balikpapan dirasa mampu bekerja sama dalam hal isu lingkungan ini karena selama bertahun-tahun Balikpapan mendapatkan penghargaan adipura. Salah satu program prioritas yang diberikan JICA untuk Indonesia adalah Support For Environment untuk menanggulangi permasalahan lingkungan serta menerapkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, tentang Pengelolaan Sampah.   

Dalam implementasi nya ada beberapa upaya yang dilakukan oleh JICA dalam men sukseskan program 3R antara lain, memberikan bantuan non fisik yaitu melakukan survey untuk mendapatkan hasil kondisi topografi dan geografi Balikpapan agar memudahkan pembuatan sistem perencanaan dalam penanganan sampah dikota tersebut, lalu JICA juga bekerja sama dengan pemerintah kota untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dalam mengimplementasikan pengumpulan dan pengangkutan sampah supaya efektif serta memberikan penyuluhan mengenai pembuatan pupuk kompos (Saputra , 2019)  

Selain itu JICA juga memberikan bantuan berupa teknologi yang telah digunakan di negara nya sendiri untuk memudahkan dalam pengelolaan sampah yaitu Material Recovery Facility (MRF). Teknologi ini dapat memfasilitasi masyarakat untuk dapat mengolah material daur ulang sampah agar lebih efektif ketika diangkut. Hal ini juga didukung oleh bantuan berbentuk fisik yaitu pembangunan halte sampah dibeberapa titik dikota Balikpapan. Hal ini diharapkan akan membantu untuk menghindari pencemaran udara akibat penumpukan sampah yang berlebihan.   

Selain itu Indonesia dan Jepang juga membuat kerja sama tambahan untuk menyempurnakan kerja sama sebelum nya yaitu Indonesia – Japan Joint Committee on Waste to Energy Development in Indonesia pada tahun 2017. Dalam kerja sama ini pemerintah Indonesia tidak hanya fokus terhadap pengelolaan sampah nya saja namun juga berharap akan ada hasil yang bermanfaat dalam pengelolaan tersebut. Melalui kerja sama ini Indonesia dan Jepang mulai membangun pengolahan sampah yang dapat menghasilkan energi listrik. Melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) ini pihak Jepang memberikan bantuan kepada Indonesia dalam bentuk sebuah teknologi ramah lingkungan yang dapat menghasilkan sebuah energi namun tidak merusak lingkungan. (Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, 2018)  

Referensi  

Jackson, R & Sorensen, G. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press.  

Saputra, R.(2019).Bantuan Japan International Cooperation (JICA) dalam Pengelolaan Sampah di Balikpapan Tahun 2014-2017. eJournal Ilmu Hubungan Internasional https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2020/01/ejournal%20Rizqi%20(1)%20(01-09-20-05-00-13).pdf   

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. (2018). PLTSa Kerja Sama Indonesia-Jepang Bisa Jadi Solusi Masalah Sampah yang Ramah Lingkungan https://maritim.go.id/pltsa-kerja-sama-indonesia-jepang-bisa-jadi-solusi-masalah-sampah-yang-ramah-lingkungan/   

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2020).Capaian Kinerja Pengelolaan Sampah 2020. https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/  

Author:

5 thoughts on “Peran Jepang dalam Upaya Pengelolaan Sampah di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *