Penyebab Krisis Demografi di Jepang dan Upaya Mengatasinya?

Jepang dikenal sebagai salah satu negara di kawasan Asia Timur yang perekonomian yang maju walau memiliki keterbatasan dalam sumber daya alam. Namun, dibalik kemajuan perekonomiannya Jepang memiliki sebuah permasalahan domestik yang berpengaruh pada sektor ekonomi negaranya. contoh persoalan yang selalu terjadi di hampir seluruh dunia, baik dari negara berkembang ataupun negara maju adalah persoalan kependudukan. Persoalan ini tidak menjadi bersifat ke arah ruang lingkup negara dalam suatu negara saja melainkan telah menjadi permasalahan yang berskala internasional. Dalam permasalahan perubahan demografi terdapat beberapa bentuk yang dibagi menjadi pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat secara cepat (over population), penurunan jumlah penduduk (declining population) maupun penuaan populasi (aging population) (Sulistyana, 2019). Dalam hal ini, negara berkembang cenderung mengalami permasalahan berupa over population, sedangkan negara maju cenderung mengalami permasalahan berupa declining population ataupun aging population.

Jepang dalam beberapa dekade terakhir dihadapkan pada masalah yang berhubungan dengan kondisi demografi. Hal tersebut disebabkan karena terjadinya penurunan jumlah angka kelahiran dan pesatnya pertumbuhan populasi lansia (aging population) secara terus menerus. Fenomena rendahnya ataupun menurunnya jumlah angka kelahiran di Jepang dikenal dengan sebutan nama shoushika. Dalam hal ini shousika dianggap telah menjadi suatu problem yang besar terkait kemelut kependudukan yang tengah dilawan oleh warga Jepang saat ini. Fenomena ini telah terjadi sejak tahun 1975 yang mana angka kelahiran di Jepang mengalami pasang surut yang terus menurun hingga saat ini (Widiandari, 2016: 32). Jepang sebagai negara yang mengalami kekalahan saat PD II kemudian memutuskan untuk menahan laju kelahiran supaya dapat memfokuskan negaranya dalam mengendalikan kondisi kesehatan yang sangat parah setelah konflik dalam PD II serta membangun perekonomiannya kembali yang kemudian hal ini menjadi penyebab masyarakat Jepang sangat individual.

Salah satu penyebab terjadinya krisis demografi adalah Fenomena shousika. Dalam fenomena ini, terjadi peningkatan wanita yang bekerja berpikir bahwa sulit untuk mengatur jam kerja dan merawat anak-anak mereka nantinya pada saat yang bersamaan, sehingga pada akhirnya cara berpikir wanita di Jepang berubah lebih memilih untuk mengutamakan karir terlebih dahulu dan menunda pernikahan ataupun mempunyai anak atau berkeluarga (Br Karo, 2021: 97). Hal tersebut dikarenakan banyak pasangan dalam masyarakat Jepang yang berpikir bahwa biaya untuk membesarkan anak tidaklah sedikit sehingga banyak pasangan yang merasa khawatir tidak mampu membiayai anaknya nanti dengan baik. Selain itu, penyebab krisis demografi ini adalah karena ketidakpastian lapangan pekerjaan yang menyebabkan ketidakstabilan ekonomi bagi para pria muda di Jepang untuk menikah (Aisyah, 2021). Munculnya peristiwa tersebut kemudian memberikan efek pada perekonomian Jepang sendiri karena populasinya yang didominasi oleh para orang lebih tua atau lansia dan sedikitnya kaum muda sehingga menyebabkan kekosongan pada tenaga kerja dalam sektor industri milik Jepang.

Permasalahan krisis demografi yang terjadi di Jepang berdampak pada sektor ekonominya sehingga pemerintah Jepang tidak hanya tinggal diam melainkan melakukan berbagai upaya atau kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dalam hal ini, untuk mengatasi krisis tenaga kerja membuat pemerintah Jepang membentuk Undang-Undang Tenaga Kerja Asing dan Kebijakan Keimigrasian atau bisa dikatakan Jepang telah memberikan peluang bagi para tenaga kerja luar negeri untuk memenuhi sektor pekerjaan di Jepang menjadi pekerja yang ahli dalam meningkatkan ekonomi negaranya. (Br Karo, 2021:106). Selain itu, pemerintah Jepang telah meluncurkan beberapa upaya insentif untuk masyarakat Jepang guna untuk mendorong laju pertumbuhan penduduknya agar dapat mengurangi ataupun mengatasi permasalahan penurunan jumlah angka kelahiran (shousika). Pertama, dukungan dana pernikahan; pemerintah Jepang memberikan subsidi dana pernikahan bagi pasangan muda di bawah umur 34 tahun yang diharapkan dapat membantu pasangan muda dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di awal pernikahan. Kedua, sokongan dana kesehatan dimana karena banyak pasangan yang menghadapi kesulitan dalam keperluan anaknya, oleh karena itu pemerintah Jepang berusaha memberikan bantuan dalam program kehamilan. Ketiga, dana tunjangan anak dan santunan dana kelahiran; pemerintah Jepang akan memberikan dana ini kepada keluarga yang kurang mampu dengan membiayai anaknya mulai dari lahir hingga berusia 12 tahun serta para calon Ibu di Jepang dapat mengajukan santunan untuk meringankan beban biaya melahirkan di Jepang yang cukup besar (Ayu, 2021). Dari beberapa upaya serta kebijakan yang telah dilakukan, pemerintah Jepang berharap semua itu efektif dalam mengatasi permasalahan demografi di Jepang serta dapat mendorong perekonomian Jepang ke depannya.

Referensi

Br Karo, M., Hikmatullah, I., Puteri, M., Aulia, Q., & Shafira, N. (2021). Fenomena Shoushika: Analisis Kebijakan Pemerintah Jepang Pada Era Kepemimpinan Shinzo Abe. TRANSBORDERS: International Relations Journal, 4(2), 96-110. http://dx.doi.org/10.23969/transborders.v4i2.3939

Widiandari, A. (2016). Fenomena Shoushika Di Jepang: Perubahan Konsep Anak. Jurnal Universitas Diponegoro IZUMI, 5(1), 32-39. https://doi.org/10.14710/izumi.5.1.32-39

Sulistyana, T. A. (2019). Kerjasama Internasional Jepang Dengan Indonesia Dan Filipina Dalam Memenuhi Kebutuhan Tenaga Kerja Di Jepang. [Skripsi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta]. UMY Repository. http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/25932

Aisyah, N. (2021, 23 September). Ini Penyebab Jepang Alami Penurunan Jumlah Penduduk, Siswa Sudah Tahu? Detik News. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5735856/ini-penyebab-jepang-alami-penurunan-jumlah-penduduk-siswa-sudah-tahu

Ayu, I. (2021, 11 Maret). Cara Unik Pemerintah Jepang Dorong Pertumbuhan Penduduknya. Kumparan. https://kumparan.com/idaayucitraseni/cara-unik-pemerintah-jepang-dorong-pertumbuhan-penduduknya-1vKnlkRhpRN

Author:

Mahasiswa Hubungan Internasional IISIP Jakarta

One thought on “Penyebab Krisis Demografi di Jepang dan Upaya Mengatasinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *