Pendekatan ASEAN Dalam Upaya Penyelesaian Konflik Laut China Selatan

Konflik Laut China Selatan merupakan salah satu fokus yang menjadi perhatian dunia internasional sejak tahun 1970-an hingga saat ini (Aurel et al., 2021). Konflik wilayah yang berupa sengketa di perairan Laut China Selatan yang mulai memanas semenjak awal abad ke-21 ini telah mengganggu kestabilan politik di kawasan Asia Tenggara. Sengketa ini dimulai dengan klaim sepihak negara China yang memperluas wilayah perairannya hingga menjangkau wilayah perairan Filipina, Taiwan, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Menurut (Nainggolan, 2013, hlm. 7), sengketa kepemilikan atau kedaulatan teritorial di Laut China Selatan merujuk pada kawasan laut dan daratan di dua gugusan kepulauan yaitu Paracel dan Spratly yang kemungkinan memiliki cadangan besar sumber daya alam di sekelilingnya.  

Laut China Selatan merupakan suatu kawasan yang memiliki jalur perdagangan yang ramai. Karena selain letak geografisnya yang strategis, Laut China Selatan sangatlah penting bagi perekonomian negara-negara di dunia. Laut China Selatan merupakan kawasan yang dilewati oleh berbagai negara untuk mengangkut bahan-bahan energinya dan merupakan jalur masuk bagi perdagangan internasional. Wilayah Laut China Selatan mengandung sumber kekayaan alam yang sangat besar, meliputi kandungan minyak, gas bumi, keanekaragaman hayati dan perikanan serta kekayaan laut lainnya. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Asia, membuat China dan negara-negara di kawasan laut cina selatan, bahkan termasuk Amerika Serikat sangat ingin menguasai kontrol dan pengaruh atas wilayah tersebut yang dianggap sangat strategis dan membawa manfaat ekonomis yang sangat besar bagi suatu negara (Nainggolan, 2013). 

ASEAN sebagai organisasi regional yang mewadahi kerjasama negara-negara Asia Tenggara merasa memiliki kewajiban untuk mempertemukan negara-negara anggota ASEAN dengan China untuk menyelesaikan konflik Laut China Selatan ini. Dinyatakan dalam deklarasi ASEAN bahwa salah satu maksud dan tujuan ASEAN adalah meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional dan menjunjung tinggi keadilan serta tertib hukum dalam hubungan antar negara di kawasan Asia Tenggara dan berpegang pada asas Piagam PBB (Kementerian Komunikasi dan Informasi Teknologi, 2014). Dengan terlibatnya empat negara (claimant states) ASEAN dalam sengketa ini, yang dimana konflik ini berlangsung secara bilateral antara China dengan masing-masing negara ASEAN tanpa melibatkan ASEAN sebagai organisasi regional, namun ASEAN merasa memiliki kewajiban untuk membela dan melindungi negara-negara anggotanya, dan di sisi lain hubungan ekonomi antara ASEAN dan China pun sangat dekat. ASEAN menyadari posisinya sebagai organisasi regional yang berfungsi untuk menciptakan dan menjamin keamanan dan kestabilan di wilayah Asia Tenggara, yang juga membutuhkan China dalam kerjasama ekonominya, sehingga ASEAN memilih mengambil jalan damai dengan menggunakan diplomasi melalui berbagai pendekatan dalam upaya penyelesaian konflik Laut China Selatan. 

Menurut (Muhamad, 2013, hlm. 123) terdapat beberapa pandangan yang berbeda mengenai jalan penyelesaian sengketa menurut masing-masing negara claimant, China mengharapkan agar masalah Laut China Selatan tidak diinternasionalkan oleh negara-negara yang bersangkutan. China menginginkan agar penyelesaian sengketa Laut China Selatan dilakukan melalui perundingan bilateral dengan masing-masing negara claimant. Sedangkan Filipina dan Vietnam lebih menginginkan penyelesaian sengketa melalui forum multilateral sesuai dengan ketentuan hukum intenasional yang berlaku. Terkait perbedaan pandangan di antara China dan claimant state yang merupakan anggota ASEAN, dalam upaya penyelesaian sengketa di Laut China Selatan mengakibatkan sulitnya konflik tersebut untuk diselesaikan. Karena China menganggap konflik yang terjadi bukanlah urusan ASEAN sehingga ASEAN pun tidak berhak ikut campur dalam penyelesaiannya.  

ASEAN telah melakukan berbagai macam upaya guna menyelesaikan sengketa tersebut mulai dari penggunaan mekanisme informal seperti ASEAN Way, mekanisme formal seperti Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dan mekanisme semi-formal melalui ASEAN Regional Forum (ARF). Namun mekanisme-mekanisme tersebut memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Meskipun mekanisme-mekanisme tersebut belum mampu untuk menyelesaikan konflik Laut China Setatan secara menyeluruh, namun setidaknya ada perkembangan yang mengarah kepada jalan damai sebagai penyelesaian konflik. ASEAN Way mampu meyakinkan negara-negara intra-ASEAN untuk meyelesaikan konflik melalui jalan damai, dan tidak menggunakan paksaan melalui senjata dan militer melainkan menggunakan diplomasi dan negosiasi dalam meredam konflik. TAC berhasil membuka jalan bagi China untuk ikut serta menyuarakan kerjasama dalam perdamaian dan membuka diri dengan ASEAN. Sementara ARF telah berhasil membuka pandangan ASEAN akan pentingnya kerjasama multilateral, sehingga China bersedia untuk melakukan diskusi melalui forum ini. Maka dengan tiga tahapan yang dipromosikan oleh ARF yaitu confidence building, preventive diplomacy, dan conflict resolution diharapkan forum ini bukan hanya mampu untuk menyelesaiakan permasalahan tapi juga untuk melakukan kerjasama (Satnas-Asean.id, n.d.). 

Referensi

Aurel, A. C., Djuyandi, Y., & Illahi, A. Q. (2021). Konflik Laut China Selatan Serta Dampaknya atas Hubungan Sipil Militer di Asia Tenggara. Jurnal Ilmiah Muqodimmah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 5 (1), 113. http://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/muqoddimah/article/view/1944/pdf 

Muhamad, S. V. (2013). Sengketa Laut China Selatan dan Solusi Damai ASEAN. Dalam Nainggolan, P. P, Konflik Laut China Selatan dan Implikasinya Terhadap Kawasan (123). Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) dan Azza Grafika. 

Nainggolan, P. P. (2013). Konflik Laut China Selatan dan Implikasinya Terhadap Kawasan. P3DI Setjen DPR Republik Indonesia. https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/buku_tim/buku-tim-public-25.pdf 

Kementerian Komunikasi dan Informasi Teknologi. (2014). ASEAN: Komunitas ASEAN 2015.

Satnas-Asean. (n.d.). ASEAN Regional Forum (ARF) merupakan salah satu badan sektoral yang berada di bawah koordinasi Dewan Masyarakat Politik dan Keamanan ASEAN (ASEAN Political-Security Community). http://setnas-asean.id/asean-regional-forum-arf 

Author:

3 thoughts on “Pendekatan ASEAN Dalam Upaya Penyelesaian Konflik Laut China Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *