Kerjasama ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Dampaknya bagi Indonesia

Cina merupakan salah satu negara yang ekonominya dianggap melesat tinggi setelah tahun 1970an, hal ini tidak terlepas dari kebijakan era Deng Xiaoping dalam mereformasi ekonominya yang lebih terbuka di china. Setelah adanya reformasi ekonomi, Cina hadir sebagai raksasa ekonomi baru yang memiliki potensi untuk mengalahkan Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya dalam segala aspek dan diprediksi akan melampaui ekonomi AS pada tahun 2030 nanti. Keberhasilan Cina dalam membawa ekonominya seperti saat ini susah untuk ditiru oleh negara lain dalam mentransformasi ekonominya. Hal ini dikarenakan negara lain masih terlalu berfokus terhadap masalah struktural seperti ketidakstabilan politik ataupun masalah infrastruktur sedangkan Cina sudah berinovasi serta melangkah maju jauh kedepan dalam mengembangkan ekonominya (Citradi, 2019).

Berkembangnya Cina pada akhirnya malah menimbulkan bermacam-macam dinamika dalam perekonomian global. Cina dalam menumbuhkan ekonomi negaranya berupaya untuk menciptakan perjanjian dagang bebas. Dalam hal ini Cina berusaha menjalin kerjasama dengan seluruh negara di dunia dan juga termasuk negara di asia tenggara. Hal ini ditunjukan melalui instrumen politik luar negerinya yang berusaha mendekatkan Cina dengan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Menurut Swee-Hock, hubungan Cina dengan ASEAN bermula dari hadirnya Menteri Luar Negeri Cina pada sesi pembukaan ASEAN Ministerial Meeting (AMM) yang ke-24 pada 19 Juli 1991 di Kuala Lumpur, Malaysia dimana dalam acara tersebut Cina menyatakan ketertarikannya untuk bekerja sama dengan ASEAN. Pada tahun 1997, Cina dan ASEAN membentuk lima kerangka diantaranya adalah seperti ASEAN-China Joint Cooperation Committee (ACJCC), China-ASEAN Joint Committee on Scientific and Technological Cooperation, China-ASEAN Political Consultation, China-ASEAN Joint Committee on Economic and Trade Cooperation, dan ASEAN Beijing Committee. Selain itu juga dilakukan pertemuan konsultasi oleh Cina dalam ASEAN Regional Forum (ARF), the Joint Cooperation Committee (JCC) Meeting, The Post Ministerial Conference (PMC) 9+1, dan ASEAN-China Bussiness Council Meeting (Hanggarini, 2010).

Berawal dari hubungan pada tahun 1991 yang pada akhirnya membuat Cina dan ASEAN semakin terikat dan terjalinlah segala jenis kerjasama kedepannya. Tentu saja apa yang dilakukan keduanya dalam menjalin kerjasama membuat keduanya mendapatkan keuntungan dan manfaat masing-masing. Dimana hal ini bisa dilihat pada tahun 2003, perdagangan antara keduanya baik dari Cina dan ASEAN dianggap menjalani perkembangan yang sangat signifikan dengan tingkat rata-rata pertumbuhan sekitar 20,8 % dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2003. Pada tahun 2005 sendiri disebutkan bahwa Cina menjadi mitra keenam terbesar bagi ASEAN dan ASEAN menjadi mitra terbesar kelima bagi Cina. Pada bidang investasi sendiri dari tahun 1991 hingga 2000 yang dilakukan oleh ASEAN terhadap Cina meningkat sampai dengan angka 28%. Cina pada tahun 2001 mengusulkan untuk pembentukan perdagangan bebas yang bernama ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) (Hanggarini, 2010).

ACFTA didirikan pada tanggal 6 November tahun 2001 saat adanya forum puncak ASEAN dan Cina di Bandar Seri Bengawan yang mana hasil dari forum tersebut ASEAN dan Cina sepakat untuk berkomitmen membentuk kerjasama ekonomi dan mendirikan kawasan perdagangan bebas. Kerangka kerja sama ekonomi ASEAN-China FTA ditandatangani secara menyeluruh pada tanggal 4 November 2002 di Phnom Phen, Kambojaa. ACFTA bertujuan untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan cara mengeliminir segala macam hambatan perdagangan seperti tarif maupun non tarif, peraturan investasi, peningkatan akses pasar, dan peningkatan bidang kerjasama ekonomi untuk mendorong hubungan para pihak yang terlibat dalam kerangka kerjasama ini agar setiap pihak mendapatkan keuntungan dan mensejahterakan masyarakat ASEAN serta Cina (Siwi, 2010). Perjanjian ini berlaku secara sah pada tahun 2003, namun FTA akan dilaksanakan pada tahun 2010 dengan negara anggota lama ASEAN terlebih dahulu seperti Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. FTA lain dimulai pada tahun 2015 dengan negara anggota baru ASEAN seperti Myanmar, Kamboja, Laos, dan Vietnam (Hanggarini, 2010).

Disepakatinya ACFTA, dianggap sebagai sebuah jalan untuk memperluas pasar negara-negara anggota ASEAN melalui kerjasama bersama Cina, dimana kerjasama ini akan memberikan keuntungan bagi Cina dengan anggota ASEAN. Sementara itu dilihat dari sisi negatif kesepaktan ACFTA akan mengancam pasar dalam negeri di negara anggota ASEAN (Siwi, 2010). Indonesia sebagai salah satu negara anggota yang menyepakati kerangka kerjasama ini tentu akan terkena dari dampak kerjasama ini. Dimana perdagangan indonesia setelah tahun 2011 meningkat secara fluktuatif setelah diterapkannya ACFTA (Kusuma, 2017). Walaupun menunjukan peningkatan perdagangan, namun ini tidak menunjukan tanda positif bagi Indonesia dimana masih adanya defisit neraca perdagangan antara Indonesia dan Cina. Neraca perdagangan antara Indonesia-Cina sampai akhir tahun 2010 tercatat berada dalam posisi 49,2 milliar dolar AS dan 52 dollar AS. Persoalan ini menunjukan bahwa indonesia mengalami defisit sampai dengan 2,8 miliar dollar AS. Melihat hal tersebut tak heran jika banyak sekali komoditas yang berasal dari Cina memenuhi pasar Indonesia karena tingginya nilai impor Indonesia terhadap Cina (Siwi, 2010).

Dampak ACFTA bagi industri domestik juga mempengaruhi kepada dua sektor industri yaitu industri tekstil dan alas kaki. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan terkait impor Indonesia dari Cina terhadap komoditas tekstil serta alas kaki karena harganya yang lebih murah dan beragam. Hal ini menyebabkan pasar lokal dikuasai oleh produk dari Cina sehingga barang buatan lokal kalah bersaing. Walaupun kerja sama dari ACFTA memiliki banyak dampak negatif terhadap industri-industri lokal akan tetapi Indonesia cukup baik dalam memanfaatkan peluang dari kerjasama ini dengan cara meningkatan produk-produk unggulan dalam negeri untuk diekspor. Hal ini bertujuan untuk menopang perekonomian Indonesia dan mendapatkan keuntungan (Nurhayati, 2017).

Apabila dilihat dengan teori neorealisme apa yang dilakukan oleh Cina dalam kerjasama ini tentu untuk mendapatkan kepentingan nasionalnya hal ini bisa dilihat dari perdagangan Cina ke negara mitra ACFTA yang selalu surplus dan banyaknya barang-barang dari Cina yang masuk secara besar-besaran ke asia tenggara sejak adanya kesepakatan ACFTA ini. Senada apa yang dikatakan dengan teori neorealisme bahwa bahwa tujuan negara yang utama adalah untuk mencapai keuntungan yang mutlak. Selain itu, apabila dikaitkan dengan konsep relatif gains kasus kerjasama ACFTA ini mempunyai relevansinya dimana setiap pihak yang terlibat dalam suatu kerjasama akan mendapatkan keuntungan lebih daripada pihak lainnya sehingga masing-masing pihak akan merasa bahwa keuntungan yang didapatkan tidak sama rata atau relatif dari sudut pandang yang berbeda. Dalam hal ini kita bisa melihat bahwa kerjasama ini lebih menguntungkan kepada Cina dibandingkan negara ASEAN karena setiap aktivitas ekspor dan impor terjadi, negara-negara ASEAN selalu mengalami defisit terhadap Cina dimana adanya lonjakan ekspor barang-barang milik Cina.

Referensi

Citradi, T. (2019, 13 November). Kisah China: Dulu Kumuh Kini Jadi Raksasa Ekonomi Baru. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20191113145204-4-115001/kisah-china-dulu-kumuh-kini-jadi-raksasa-ekonomi-baru

Hanggarini, P. (2010). Interaksi Cina dengan ASEAN: Antara Kepentingan Nasional vs Identitas Bersama. Jurnal Global Strategis, 9(5), 19-32. http://journal.unair.ac.id/JGS@interaksi-cina-dengan-asean–antara-kepentingan-nasional-vs-identitas-bersama-article-3197-media-23-category-8.html

Siwi, A. P. (2010). Bilateral Free Trade: Hubungan Perdagangan Indonesia-China dalam Kerangka ACFTA. Jurnal Analisis Hubungan Internasional, 2(3), 111-127. http://journal.unair.ac.id/JAHI@bilateral-free-trade-article-5715-media-131-category-8.html

Kusuma, A. A. (2017). Dampak ASEAN-China free trade agreement (ACFTA)
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 15(1), 1-14. https://doi.org/10.29259/jep.v15i1.8778

Nurhayati, D. (2017). Dampak perdagangan bebas ASEAN terhadap perekonomian Indonesia. Jurnal Pendidikan Ekonomi, Kewirausahaan, Bisnis, dan Manajemen (JPEKBM), 1(1), 40-51. https://garuda.kemdikbud.go.id/documents/detail/1682311

Author:

One thought on “Kerjasama ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Dampaknya bagi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *