Kerja Sama Keamanan Maritim Jepang dan India Sebagai Balancing Terhadap China di Kawasan Indo-Pasifik

Secara geografis wilayah Indo-Pasifik merupakan kawasan strategis yang membentang di antara Samudra Pasifik bagian barat ke Samudra Hindia bagian timur dan terhubung dengan Selat Malaka. Kawasan Indo-Pasifik telah menjadi pusat kegiatan geopolitik bagi keamanan maritim, perdagangan dan lingkungan (Passarelli, 2014). Kawasan ini juga dikatakan sebagai jalur persimpangan bagi perdagangan dunia. Tidak heran jika Kawasan Indo-Pasifik memiliki kompleksitas tersendiri yang melibatkan banyak negara-negara kuat dengan berbagai macam kepentingan, seperti Amerika Serikat, India, Jepang, China, Australia dan negara-negara Asia Tenggara.

Pada abad ke-21, situasi keamanan Indo-Pasifik mengalami perubahan yang cukup signifikan, disebabkan oleh melemahnya pengaruh hegemoni Amerika Serikat dan meningkatnya ekspansi maritim China di kawasan. Pasalnya, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara dengan kekuatan paling dominan di kawasan ini, namun pasca Perang Dingin perkembangan Tiongkok semakin meningkat. Kehadiran Tiongkok bukan hanya menjadi ancaman bagi Amerika Serikat, namun juga bagi negara-negara lain yang juga memiliki kepentingan di Kawasan Indo-Pasifik. Merespon ancaman dari Tiongkok ini, Jepang dan India sebagai negara yang memiliki pengaruh kuat di Kawasan Indo-Pasifik mulai bekerja sama sebagai balancing terhadap pengaruh China di kawasan.

Schweller (1994) menjelaskan bahwa konsep balancing sendiri merupakan perlindungan terhadap nilai-nilai dan pertahanan diri. Dapat dikatakan balancing merupakan strategi suatu negara guna meningkatkan kapabilitas atau kemampuan militernya, sekaligus mengimbangi ancaman atau lawan. Balancing sendiri dilakukan dengan alasan ketika negara secara internal tidak mampu mengekang kekuatan hegemoni lawan, yang akhirnya memberikan ancaman bagi mereka. Lalu jika negara tersebut tidak melakukan balancing, maka resiko kegagalan dalam mengekang sebuah hegemoni ini akan semakin sulit. Oleh sebab itu, strategi teraman dalam sistem internasional yang anarki ini, bergabung atau melakukan aliansi dengan negara lain. Sama halnya dnegan kerja sama yang dilakukan oleh Jepang dan India dalam bidang keamanan maritim ini digunakan untuk survive atau mempertahankan diri, tujuannya demi menekan adanya dominasi power China di Kawasan Indo-Pasifik yang semakin meluas.

Demi mencapai balancing ini, Perdana Menteri Jepang yaitu Shinzo Abe menyampaikan pidato berjudul “Pertemuan Dua Laut” pada tahun 2007 di Parlemen India, dimana pidato tersebut menjadi dasar kuat bagi keamanan maritim Jepang dan India. Keduanya memprioritaskan operasi keamanan maritim untuk mencapai kepentingan nasional mereka. Jepang dan India berusaha untuk tidak lagi bergantung dengan Amerika Serikat, tetapi menginginkan adanya penguatan maritim yang lebih strategis dan komprehensif.

Sebagai dua negara dengan kemampuan ekonomi yang mumpuni, kerjasama keduanya dianggap sebagai inisiatif baru dalam integrasi di Kawasan Asia. Kerja sama keduanya juga didasari oleh adanya kesamaan persepsi ancaman (complementary interest) terhadap China. Seperti yang kita ketahui bahwa Jepang dan India memiliki perselisihan sejarah dengan China terkait dengan sengketa perbatasan dan kepulauan. Selain itu, kedua negara prihatin dengan modernisasi angkatan laut China di Kawasan indo-Pasifik. Belum lagi, agresifitas China di Selat Malaka yang semakin meningkatkan ketegangan dan mengancam kepentingan nasional, baik Jepang maupun India.

Pada tahun 2014, keduanya meningkatkan hubungan dalam special strategic dan global partnership, kemudian kedua negara sepakat dan mengumumkan visi Jepang dan India pada tahun 2025 mengenai strategi dalam mencapai kemakmuran dan perdamaian di Kawasan Indo-Pasifik (Agung & Tertia, 2018). Dengan adanya kerja sama ini, keduanya melakukan latihan angkatan laut yang bertujuan untuk meningkatkan operasi maritim di Indo-Pasifik. Sejak tahun 2012, Jepang dan India telah berkontribusi dalam latihan angkatan laut tahunan dengan nama Japan-India Maritime Exercise (JIMEX). Latihan tersebut dilakukan antara Indian navy dan The Japan Maritime Self Defence Force (JMSDF) dalam operasi tempo tinggi yang berfokus pada dimensi udara, serta bawah permukaan laut.

Angkatan Laut India menerjunkan kapal peluru kendali dalam negerinya, INS Kochi, dengan helikopter Sea King MK 42B, sebuah pesawat pengintai maritim jarak jauh P-8I dan pesawat tempur MiG 29K. JMSDF mengerahkan pengangkut helikopter kelas Izumo dan rudal berpemandu Murasame bersama dengan helikopter SH60K integral mereka (“India, Japan hold bilateral..”, 2021). Pesawat pengintai P-81 ini memberikan dukungan pengintaian maritim untuk kedua angkatan laut. Beberapa simulasi serangan ini juga menunjukkan skenario perang di laut, sehingga keduanya dapat berlatih dan menerapkan simulasi serangan. Selain angkatan laut, keduanya juga melakukan latihan penjaga pantai (coast guard) di lepas pantai Chennai, Sahyog Kaijin. Latihan tersebut meliputi pencarian dan penyelamatan, pemadaman kebakaran eksternal, interaksi olahraga dan budaya antar personel, serta berbagi praktik lainnya. Latihan ini juga saling menguntungkan dan memperkuat hubungan bilateral yang ada, serta memungkinkan kedua Penjaga Pantai bekerja sama untuk melindungi kepentingan bersama.

Kerjasama angkatan laut antara Jepang dan India yang terjadi selama bertahun-tahun ini mengalami peningkatan. Kedua negara saling membangun rasa saling percaya antara kedua ngkatan laut dan mengedepankan jalinan persahabatan antara kedua negara. Jepang dan India juga berkolaborasi dalam meningkatkan infrastruktur sipil di Kepulauan Andaman dan Nicobar, sebuah kepulauan India yang dipandang sebagai aset penting untuk melawan ekspansi China di Indo-Pasifik, terutama untuk melacak angkatan laut China di laut India (Barry, 2016). Jepang dan India akan dapat membatasi pergerakan angkatan laut China dan mampu meningkatkan operasi maritim di Laut Cina Selatan. Walaupun Jepang dan India tidak memiliki klaim wilayah di Laut China Selatan, namun kedua negara mengkhawatirkan perkembangan China untuk menjadi kekuatan ekonomi dan militer terbesar di Kawasan Indo Pasifik dan Asia. Oleh karena itu, kerja sama ini dilakukan sebagai bentuk balancing terhadap hegemoni China di Kawasan Indo-Pasifik.

Referensi

Passarelli, D. (2014). Sea Change: Evolving Maritime Geopolitics in the Indo-Pacific Region. Stimson Center.

Agung, B & Tertia, J. (2018). India-Japan Maritime Security Cooperation In Indo-Pasific: Creating A Maritime Power Nexus In Balancing China. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, 10 (19), 1-12. https://ojs.uph.edu/index.php/JHIV/article/view/1306

Schweller, R. (1994). Bandwagoning for Profit: Bringing The Revisionist State Back In. International Security, 19(1), 72-107. https://doi.org/10.2307/2539149

India, Japan hold bilateral maritime exercise. (2021, 09 Oktober). Thehindu. https://www.thehindu.com/news/national/india-japan-hold-bilateral-maritime-exercise/article36907981.ece

Barry, E. (2016, 11 Maret). As India Collaborates With Japan on Islands, It Looks to Check China. Nytimes. https://www.nytimes.com/2016/03/12/world/asia/india-japan-china-andaman-nicobar-islands.html

Author:

Silvia Nur Khalifah mahasiswa Hubungan Internasional IISIP jakarta

6 thoughts on “Kerja Sama Keamanan Maritim Jepang dan India Sebagai Balancing Terhadap China di Kawasan Indo-Pasifik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *