Kebangkitan Jepang Melalui Restorasi Meiji

Pada musim gugur 1868, era bernama Meiji diproklamasikan. Edo, berganti nama menjadi Tokyo (Ibukota Timur), ditunjuk sebagai pusat pemerintahan baru. Pada musim semi berikutnya, kaisar pindah ke bekas Kastil Edo. Maka dimulailah era Meiji, yang berlangsung hingga 1912 (Hane & Perez, 2013 : 83). Restorasi Meiji lebih dari sekedar restorasi dinasti, perubahan rezim akan mengarah langsung pada transformasi yang membuat zaman yang dikenal dalam bahasa Jepang sebagai Meiji Ishin. Restorasi Meiji sering dibandingkan dengan Revolusi Perancis dan Revolusi Agung Inggris. Restorasi Meiji menunjukkan reformasi dimana Jepang berubah dari yang sebelumnya feodal, menjadi negara bersatu modern, Revolusi Prancis dan Revolusi Agung adalah revolusi demokratis yang diarahkan melawan absolutisme penguasa negara modern (Horie & Yasuzo, 1937).  

Dalam waktu empat tahun Restorasi Meiji, otonomi han akan digantikan oleh sistem prefektur yang tersentralisasi, dan sistem empat kelas samurai, petani, pengrajin, dan pedagang. Dimana samurai, elit militer turun-temurun yang menikmati status khusus tidak berlaku lagi. Perubahan ini diikuti dengan berakhirnya monopoli samurai tradisional atas dinas militer pada tahun 1873, penghapusan hak mereka yang terhormat untuk memakai pedang pada tahun 1876, dan akhirnya, pada tahun yang sama, konversi tunjangan tahunan mereka menjadi obligasi pemerintah. Bersamaan dengan perubahan politik dan sosial yang besar ini, munculah kebijakan “peradaban dan pencerahan” yang mendorong studi tentang barat dan melibatkan pengenalan institusi dan sistem bergaya barat, terutama sistem pendidikan dasar modern pada tahun 1872. Dua tahun sebelumnya Kementerian Pekerjaan Umum didirikan untuk mempromosikan teknologi Barat dan pada tahun yang sama pinjaman diajukan ke Inggris untuk pembangunan jalur kereta api pertama di Jepang, dari Yokohama ke Tokyo. Perubahan dan inovasi seperti itu hanyalah ciri yang paling jelas dari tahap awal transformasi Jepang menjadi negara-bangsa modern yang didedikasikan untuk mengejar ketertinggalan dari kekuatan Barat (Sims, 2001). 

Pemerintah Meiji merasa perlu untuk meningkatkan pasukan militernya sendiri, kebutuhan akan tentara nasional umumnya disepakati, tetapi ada perselisihan mengenai pertanyaan tentang jenis tentara yang harus dibentuk. Adanya perbedaan pendapat dalam sistem modernisasi militer Jepang mengakibatkan tujuan untuk memperkuat militer menjadi sedikit terhambat dengan adanya permasalahan tersebut, pihak konservatif menginginkan militer Jepang diisi oleh para Samurai elit dan pihak pemikir liberal memilih untuk mengadakan wajib militer sebagai syarat menjadi tantara Jepang. Namun demikian, pada tahun 1883 wajib militer menjadi sistem militer yang mapan dan seluruh tentara Jepang berasal dari wajib militer. Pemerintah juga dihadapkan pada tugas membangun angkatan laut modern, tetapi rencana untuk ini tidak terwujud dengan cepat, dan baru pada tahun 1875 pemerintah memesan tiga kapal perang dari Inggris. Hingga tahun 1889, Jepang hanya memiliki tiga kapal lapis baja dan tiga kapal komposit (besi dan kayu). Para prajurit tidak memiliki esprit de corps (jiwa korsa), tidak memiliki rasa identitas dengan kepentingan nasional atau konsep pelayanan publik, dan karena itu pemerintah berusaha untuk menumbuhkan sikap prajurit dengan mengeluarkan peraturan-peraturan (dokumen) kekaisaran kepada para prajurit dan pelaut pada tahun 1882. Ini menekankan kebajikan seperti kesetiaan, tugas, pengabdian, ketaatan, dan keberanian yang mendesak laki-laki untuk menjauhkan diri dari kegiatan politik. Dokumen itu secara khusus menekankan peran khusus yang harus mereka mainkan sebagai pelayan kaisar (Hane & Perez, 2013 : 95-96). Semangat untuk membangun kekuatan militer, Jepang akhirnya berhasil memenangan perang atas Dinasti Qing pada tahun 1895 dan Rusia pada tahun 1905 yang kemudian berdampak pada sejarah baru dunia (Dickinson, 2018). 

Perlunya untuk revolusi ekonomi yang pada dasarnya agraris dan mengubah bangsa menjadi masyarakat industri, jika kebijakan “memperkaya dan memperkuat bangsa” ingin diwujudkan, Meiji harus memasuki tahap pertumbuhan ekonomi modern, dan ini mengharuskan: (1) penerapan pemikiran ilmiah dan teknologi modern untuk industri, transportasi, dan pertanian; (2) peningkatan produk riil per kapita yang terus-menerus dan cepat bersamaan dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi; (3) transformasi struktur industri yang cepat dan efisien (misalnya, pergeseran dari pertanian ke manufaktur); dan (4) kontak internasional (Hane & Perez, 2013 : 97). Kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh Shohoshi (sebuah biro Pemerintah Meiji yang mengambil alih kebijakan ekonomi antara April tahun pertama Meiji dan Maret tahun berikutnya). Kebijakan ekonomi yang ditempuh biro ini adalah mengakomodir negara dengan dana untuk mengembangkan industri, kemudian pemerintah daerah membeli dan menjual produknya. Dengan cara ini, dimaksudkan untuk menghilangkan para pedagang dan rentenir, yang mengambil semua keuntungan, sekaligus memajukan kesejahteraan produsen dan meningkatkan pendapatan Pemerintah Pusat. Dengan kata lain, biro tersebut bertujuan untuk meletakkan dasar bagi perkembangan Jepang menjadi negara yang kaya dan kuat dengan memperluas ke skala nasional, kebijakan mendorong produksi provinsi atau sistem monopoli klan, yang ditempuh oleh berbagai klan di periode Tokugawa. Namun demikian, kebijakan tersebut dianggap tidak relevan dengan kondisi yang berlaku di Jepang saat itu. Di dalam negeri, kapitalisme komersial telah mencapai tingkat kemajuan yang tinggi, dan terutama setelah pembukaan pelabuhan Jepang untuk perdagangan luar negeri, pedagang lokal membuat kemajuan yang luar biasa sehingga kapitalis komersial yang menikmati manfaat penuh dari kegiatan ekonomi bebas akan segera mencapai posisi kapitalis industri. Selain itu, karena bantuan keuangan yang diberikan oleh pedagang kaya di berbagai distrik, merupakan salah satu penyebab keberhasilan Restorasi Meiji dan hampir tidak mungkin bagi Pemerintah Meiji untuk melakukan sesuatu yang efektif untuk menghilangkan atau menekan kelas komersial (Horie & Yasuzo, 1937). 

Pentingnya Restorasi Meiji yang paling kuat adalah Meiji mewakili banyak tren global abad kesembilan belas yang jauh lebih luas. Disisi lainnya, Meiji juga memainkan peran penting dalam membentuk tren ekonomi dan politik global. Meiji menunjukkan bahwa industrialisasi abad kesembilan belas dan pembangunan negara abad kesembilan belas bersifat global, bukan hanya negara-negara barat. Negara-negara barat tidak akan muncul secara signifikan pada akhir abad kesembilan belas tanpa adanya Meiji dan kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905 menunjukan kepada dunia bahwa Jepang akan memiliki posisi krusial di Asia-Pasifik (Dickinson, 2018). 

Referensi 

Dickinson, F. R. (2018). Japan and the Modern World: Lessons from Meiji. Japan Review, 2(2), 45-52. http://id.nii.ac.jp/1658/00001060/ 

Hane, M., & Perez, L. G. (2018). Modern Japan: A historical survey. Routledge. 

Horie, & Yasuzo. (1937). The economic significance of the Meiji restoration. The Kyoto University economic review, 12(2), 63-81. https://doi.org/10.11179/ker1926.12.2_63 

Sims, R. (2019). Japanese Political History Since the Meiji Restoration, 1868-2000. Springer. 

Author: Bagas Arraafi

Mahasiswa di kelas Jepang dan Negara Industri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *