Jepang Melakukan Pembatasan Eskpor Bahan Baku Semikonduktor ke Korea Selatan, Apa Penyebabnya?

Kepentingan suatu negara untuk memenuhi kebutuhannya merupakan salah satu yang harus diutamakan, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan melakukan kerjasama antar negara dengan berbagai macam bentuk baik dalam kerjasama yang telah terikat oleh organisasi regional sampai internasional ataupun perjanjian yang telah disepakati oleh pihak – pihak yang terlibat. Apabila kerjasama cenderung memberikan kerugian maka kepentingan negara yang menjalin kerjasama tersebut akan terhambat, maka negara yang menjalin kerjasama tersebut akan keluar dari perjanjian yang telah disepakati (Nurbaiti, 2021). Jepang dan Korea Selatan merupakan negara yang aktif dalam organisasi kawasan di Asia Tenggara dan saling bekerjasama dalam meningkatkan ekonomi antar negara, namun tidak selamanya kerjasama akan bertahan lama.

Pada tanggal 1 Juli 2019, Jepang mengeluarkan kebijakan pembatasan ekspor bahan baku semikonduktor ke Korea Selatan. Bahan baku semikonduktor merupakan elektronik isolator dan konduktor yang berfungsi untuk menghantarkan panas, bahan – bahan tersebut merupakan komponen penting bagi produsen barang yang menggunakan memori digital, komputasi dan fungsi elektronik. Pada tanggal 4 Juli 2019, kebijakan pembatasan ekspor bahan material teknologi tinggi seperti dan hydrogen fluoride, photoresists, fluorinated polymide yang merupakan bahan untuk memproduksi bahan baku semikonduktor. Jepang mengeluarkan kebijakan bagi para eksportir harus meminta perizinan ketika akan mengekspor bahan baku semikonduktor ke Korea Selatan.

Perdagangan internasional Korea Selatan yang bergantung pada bahan baku semikonduktor dengan Jepang menjadikan kerugian akan hubungan antar negara dikarenakan kebijakan tersebut. Masyarakat Korea Selatan melakukan aksi boikot pada produk dan membatalkan perjalanan wisata ke negara bunga sakura serta pemerintah Korea Selatan mengancam akan memberhentikan kerjasama intelijen dan keamanan bagi kedua negara. Bagaimana permasalahan antara Jepang dan Korea Selatan dapat terjadi?.

Permasalahan pembatasan ekspor disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah penurunan perekonomian Jepang yang disebabkan oleh bubble ekonomi di tahun 1991. Pertama, pertumbuhan rata-rata GDP Jepang pada tahun 1995-2002 hanya berkisar 1,2% yang menyebabkan stagnasi pertumbuhan ekonomi Jepang. Kedua, pada tahun 2008-2009 krisis global Amerika Serikat – Eropa yang menyebabkan penurunan saham Jepang. Ketiga, pada tahun 2011 terjadi bencana alam berupa tsunami yang menyebabkan kehancuran pembangkit listrik tenaga nuklir dan kerugian sebesar sekitar US$ 360 juta (Nurbaiti, 2021). Faktor internal tersebut menyebabkan turunnya produktivitas bahan semikonduktor di Jepang.

Faktor eksternal mengenai hubungan Jepang dan Korea Selatan yang disebabkan pada tahun 2018, Mahkamah Agung Korea Selatan memberikan hukuman kepada perusahaan Jepang harus memberikan ganti rugi terhadap korban kerja paksa serta meminta maaf kepada keluarga korban comfort women (Jugun ianfu) yang merupakan wanita yang melakukan layanan seksual kepada anggota Tentara Jepang pada masa penjajahan Jepang. Perusahaan yang dituntut untuk memberikan ganti rugi sebesar 350 juta won merupakan perusahaan Nippon Steel, Sumitomo Metal Corps, dan Mitsubishi Heavy. Ketiganya perusahaan besar tersebut merupakan penggerak dalam industri semikonduktor di Jepang (Gracellia, 2020). Hal menyebabkan produktivitas industri semikonduktor mengalami menurun, sedangkan industri semikonduktor ini yang menopang perekonomian Jepang. Korea Selatan mengirimkan kembali bahan ekspor dari Jepang menjadi bahan kimia yang berbahaya ke negara-negara lain.

Pada tahun 2019, Pemerintah Jepang meminta konsultasi diplomatic dengan Korea Selatan mengenai permasalahan ganti rugi tersebut. Namun, Korea Selatan tidak memberikan respon mengenai diplomatik. Disisi lain, Korea Selatan berhasil mengalahkan Jepang sebagai pemimpin industri teknologi global dan selama dua dekade Jepang mengalami stagnasi kehilangan pangsa pasar akibat menaikkan harga barang produksinya. Pada tanggal 1 Juli 2009, Jepang mengeluarkan kebijakan pembatasan bahan semikonduktor berdasarkan UU Devisa dan Perdagangan Luar Negeri mengenai ekspor bahan semikonduktor ke Korea Selatan dengan adanya aturan izin dan kebijakan tersebut mulai berlaku pada tanggal 28 Agustus 2019. Konsep membatasi ekspor Jepang adalah adanya penerapan kontrol ekspor terhadap item-item tertentu.

Penerapan kontrol ekspor tersebut berdasarkan sistem kontrol ekspor keamanan Jepang. Kontrol ekspor keamanan bertujuan untuk menjaga keamanan dan perdamaian Jepang. Secara garis besar, pengendalian ekspor untuk mencegah adanya penyalahgunaan transfer teknologi dan barang menjadi senjata atau alat militer yang dapat membahayakan keamanan Jepang. Kepentingan penerapan kebijakan pembatasan ekspor ini untuk menghindari kerugian akan perusahaan Jepang yang memiliki produksi penting dalam bahan semikonduktor harus membayar kompensasi terhadap korban kerja paksa berdasarkan keputusan Mahkamah Agung Korea Selatan.

Referensi

Nurbaiti, L. (2021). Kepentingan Jepang Membatasi Ekspor Bahan Baku Semikonduktor ke Korea Selatan. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 8(1), 1-14. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/29958  

Gracellia, J. (2020). Implikasi Penanganan Masalah Comfort Women Terhadap Hubungan Jepang dan Korea Selatan Pada Tahu  2015-2019 (The Impact of Resolving The Comfort Women Issue To Japan and South Korea Relations During 2015-2019. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 11(21), 44-55. http://dx.doi.org/10.19166/verity.v11i21.2451

Author: Aslam Syam

Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, Jepang dan Negara Industri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *