Hambatan Timor Leste dalam Menjadi Anggota Tetap di ASEAN

Pada 8 Agustus 1967, ASEAN (Association of South East Asia Nations) dibentuk atas dasar keinginan Malaysia, Indonesia, Singapura, Filipina dan Thailand untuk mempercepat pertumbuhan kawasan dalam berbagai aspek antara lain, ekonomi, politik, sosial dan budaya. Selain itu, tujuan lain dibentukanya ASEAN adalah menciptakan keamanan dan stabilitas kawasan di Asia Tenggara. Diharapkan dengan berdirinya ASEAN negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan terintegrasi serta diharapkan meningkatkan kegiatan kerjasama antara negara-negara anggota.  

Sebelum berdirinya ASEAN, negara-negara di kawasan Asia Tenggara telah berupaya menggalang kerjasama regional yang bersifat intra maupun ekstra kawasan seperti Assosiation of Southeast Asia (ASA), South East Asia Ministers of Education Organization (SEAMEO), Malaya, Philipina, Indonesia (MALPHILINDO), Asia and Pasific Council (ASPAC) dan South East Asia Treaty Organization (SEATO). Namun beberapa organisasi tersebut dinilai kurang memadai untuk meningkatkan integritas kawasan. Oleh sebab itu, untuk mnghindari persetuan antara negara-negara kawasan Asia Tenggara dan membentuk kerjasama kawasan yang lebih kuat, maka lima menteri luar negeri Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura mengadakan pertemuan di Bangkok, Thailand untuk merencanakan Joint Declaration yang mengatur kerjasama regional kawasan tersebut pada Agustus 1967 (Swastia, 2016). Lalu disusul oleh Brunei Darussalam pada 1984, kemudian Vietnam pada 1995, Laos dan Myanmar pada 1997, dan terakhir Kambodja pada 1999 (Seknas ASEAN, 2021). 

Pada 2011, Timor Leste mengajukan permohonan untuk menjadi anggota tetap ASEAN, namun pada saat itu ASEAN belum memberi respon. Keinginan Timor Leste untuk bergabung ke dalam ASEAN didasarkan pada kebijakan luar negeri Timor Leste itu sendiri, serta alasan geografis yang berdekatan dengan negara-negara anggota tetap ASEAN. Selain itu, sesuai dengan prinsip-prinsip diplomasi dari Timor Leste sendiri. Tetapi hingga saat ini, status keanggotaan Timor Leste dalam ASEAN hanya negara observer (Zaenudin, 2021). 

Bukan persoalan yang mudah untuk menjadi anggota tetap di ASEAN. Meskipun Timor Leste telah mendapatkan dukungan dari beberapa negara seperti Indonesia, Kamodja dan Thailand, ternyata masih banyak pertimbangan dari ASEAN untuk menjadikan Timor Leste sebagai anggota tetap yang akhirnya menjadi hambatan tersendiri untuk Timor Leste. Hambatan yang dirasakan oleh Timor Leste untuk mendaptkan status keanggotaaan penuh di ASEAN didasarkan pada permasalahan politik keamanan, ekonomi, sumber daya manusia serta hukum. Dalam permasalahan poltik keamanan, Timor Leste yang masih dianggap sebagai “negara baru” masih dipandang rentan terhadap konflik dan aksi kekerasan akibat pertenatngan elit politik naisonalnya. Selain itu, negara anggota ASEAN yang lain melihat bahwa Timor Leste juga masih menghadapi persoalan ekonomi dan sumber daya manusianya (Choir, 2019).  

ASEAN Charter menghendaki anggotanya menyelaraskan kerangka hukum  dengan menyetujui atau merubah produk hukum yang sudah ada, setidaknya ada 64 perjanjian dalam ASEAN Charter ini yanga harus di setujui oleh anggota-anggota ASEAN. Sementara itu, Timor Leste (sebagaimana yang sudah termuat dalam laporan Asian Development Bank berjudul “Democratic Republic of Timor-Leste: Capacity for Regional Economic Integration“) hanya memiliki 1,6% produk hukum yang selaras dengan ASEAN di tahun 2015, dan pada tahun 2018 baru mencapai 50%. Belum selarasnya hukum Timor Leste dengan ASEAN memungkinkan kecilnya kesempatan Timor Leste untuk menjadi anggota tetap di ASEAN (Zaenudin, 2021). 

Lalu baru-baru ini, mengenai respon Timor Leste terhadap permasalahan di Myanmar juga bertolak belakang dengan respon yang diberikan oleh anggota-anggota ASEAN lainnya. Timor Leste memilih “abstain” atau dengan kata lain tidak memberikan suara ketika PBB melakukan voting untuk merespon krisis di Myanmar. Sedangkan, negara anggota ASEAN lainnya memilih untuk memberikan sanksi bagi Myanmar (Zaenudin, 2021). Dapat disimpulkan bahwa, dalam waktu dekat ini kemungkinan Timor Leste untuk menjadi negara anggota tetap ASEAN hanyalah sebuah angan saja. Hubungan timbal balik anatara Timor Leste dengan negara-negara ASEAN lainnya masih belum tercapai hingga 100%. Hal ini dapat dilihat dari permasalahan politik keamanan, ekonomi, sumberdaya manusia serta hukum yang bersebrangan dengan pandangan negara anggota lainnya. 

Referensi 

Alkatiri, I, M. (2012). Hambatan Timor Leste Mendapatkan Status Keanggotaan Penuh ASEAN. http://eprints.upnyk.ac.id/9251/1/RESUME.PDF 

Choir, M. (2019). Kesesuaian Timor Leste dengan Komunitas ASEAN. Jurnal Sentris KSMPMI 1 – 2019, 106-115. https://doi.org/10.26593/sentris.v1i1.4170.106-115

Swasita, S, A. (2016, Oktober). Diplomasi Timor Leste Bergabung dalam Keanggotaan Tetap ASEAN. JOM FISIP, 3(2), 1-12. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/11409/11057

Sekretariat Nasional ASEAN-Indonesia. (2021). Tentang ASEAN. http://setnas-asean.id/tentang-asean

Zaenudin, A. (2021, 13 September). Cerita Timor Leste yang Tak Kunjung Menjadi Anggota ASEAN. tirto.id. https://tirto.id/cerita-timor-leste-yang-tak-kunjung-menjadi-anggota-asean-gjns

Author:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *