Arti Penting Kawasan Asia Tenggara terhadap Japanese Popular Culture

Dalam dunia internasional, budaya merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan dalam untuk mencapai kepentingan dari suatu negara. Kebudayaan sendiri digunakan sebagai alat diplomasi, atau lebih dikenal dengan sebutan diplomasi kebudayaan. Jepang merupakan salah satu negara di Asia Timur yang kebudayaannya sangat terkenal di seluruh dunia. Kebudayaan Jepang sendiri terbilang unik dan memiliki ciri khas tersendiri, seperti Komik (Manga), Kartun atau Animasi (Anime), serta makanan khas Jepang. Dengan keunikannya, kebudayaan Jepang berhasil melebarkan sayapnya tidak hanya di kawasan Asia Timur saja, tetapi juga berhasil memasuki kawasan Asia Tenggara.

Sebelum abad ke-19, budaya Jepang sudah terlebih dahulu ada, yang mana saat itu Jepang dipimpin oleh para elit kerajaan.  Pada saat itu, para pedagang di Jepang mulai menjualkan lukisan-lukisan yang menggambarkan tradisi kebangsawanan dan menjadi sangat populer karena merupakan karya sastra yang bernilai tinggi (Paul, 2000). Pada era itu juga sudah terdapat penulis ternama serta ada juga seni pertunjukan Kabuki Teater, sebuah pertunjukan yang menggabungkan seni teater, musik dan tarian (Tsutsui, 2010). Ada pula sebuah pertunjukan seni teater yang menggabungkan drama, musik serta pertunjukkan manipulasi wayang yang dimainkan oleh beberapa orang, pertunjukkan tersebut disebut dengan Bunraku (Tsutsui, 2010). Kemudian pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pada masa Tokugawa, Jepang mulai mengisolasi negaranya dari pengaruh asing. Sekitar tahun 1858, barulah muncul perjanjian dagang Jepang sehingga kala itu Jepang mulai memuka diri terhadap dunia luar. Saat itu kaum intelektual Jepang mulai memperkenalkan budaya Jepang kepada Amerika Serikat dan juga Eropa. Sebagai gantinya, Jepang juga mulai mempelajari seni yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan Eropa. Ketika rezim baru berkuasa, pasca Restorasi Meiji pada 1868, masyarakat Jepang menginginkan adanya pembaruan di berbagai sektor, dimulai dari sektor industri, gaya hidup, hiburan, dan pola-pola barat pada area serta ruang publik (Tsutsui, 2010). Pada tahun 1870-an, barang-barang seperti Kimono, lukisan yang menggunakan papan kayu, tato dan peninggalam masa Tokugawa yang lainnya, menjadi souvenir kunjungan ke Jepang (Tsutsui, 2010).

Bangsa Barat mulai memperkenalkan kebudayaan mereka, di awali dari cara berpakaian, olahraga seperti Rugby serta Baseball, alat musik dan jenis musik Rock dan Jazz, serta mulai memperkenalkan sistem politik negara mereka, pendidikan dan tidak lupa militer.

Pasca Perdang Dunia ke-II, Jepang mulai mencampurkan kebudayaan mereka dengan kebudayaan Amerika Serikat dan Eropa. Demi meningkatkan perekonomian negaranya, Jepang pada saat itu menggunakan pendekatan low profile yang artinya, Jepang ingin mengubah diriya sebagai negara yang raksasa di bidang ekonomi akan tetapi kerdil di bidang politik (Soesastro, 1980). Jepang pasca Perang Dunia II mulai mengimpor budaya-budaya barat seperti komik, kartun, film dan produk budaya barat lainnya.

Pada tahun 1980-an, Jepang mulai menerbitkan komik-komik yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan manga. Manga kemudian sangat populer di kalangan anak-anak, lebih dari 1,8 juta manga diproduksi oleh Jepang dengan tema yang beragam, seperti Scient Fiction, olahraga, tema mengenai perkelahian, serta aksi-aksi samurai. Pada tahun 1990-an, melalui anime, Jepang sudah menjadikan beberapa negara besar sebagai pasar mereka termasuk beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Dengan adanya anime Pokemon, Sailor Moon serta Dragon Ball berhasil membawa Jepang kepada kesuksesannya di mata dunia.

Kawasan Asia Tenggara sendiri memiliki arti yang penting bagi Jepang, karena Jepang melihat pembentukan asosiasi ASEAN sebagai asosiasi yang positif untuk membantu pembangunan Tokyo. Jepang beberapa kali telah mengusulkan agar dapat menjadi salah satu anggota asosiasi tersebut, namun usahanya selalu gagal dan ditolak. Pada tahun 1966, Pemerintah Jepang mengadakan Konferensi Tingkat Menteri untuk Pembangunan Ekonomi Asia Tenggara yang mana konferensi tersebut diartikan sebagai fokus kebijakan Jepang terhadap kawasan (Sudo, 1988). Fokus kebijakan Jepang terhadap kawasan Asia Tenggara semakin serius dengan adanya Doktrin Fukuda. Sayangnya, pergerakkan kebijakan Jepang terhadap kawasan Asia Tenggara harus mengalami kendala terutama perubahan politik yang terjadi di kawasan, berakhirnya perang Vietnam, dan revitalisasi ASEAN pada KTT Bali pada Februari 1976. Hal-hal tersebutlah yang membuat Jepang terpaksa menata sejumlah kerangka baru dari kebijakan regional mereka, yang juga dipengaruhi dari melemahnya dominasi Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara (Sudo, 2002).

Dari adanya fenomena tersebut mendorong pembuatan kebijakan baru terkait peran Jepang di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, Kementerian Luar Negeri Jepang mengambil langkah inisiatif dan memanipulasi proses pengambilan keputusan di Jepang bersama Perdana Menteri Fukuda yang kemudian menghasilkan kebijakan semu yang disebut dengan Fukuda Doctrine. Doktrin ini terdiri dari tiga prinsip: (1) Jepang menolak adanya peran militer; (2) Jepang akan melakukan yang terbaik untuk mengkonsolidasikan hubungan saling percara berdasarkan pemahaman “heart to heart”; (3) Jepang akan menjadi mitra sejajar ASEAN sementara yang bertujuan untuk membina sikap saling pengertian dengan negara-negara Indocina (Sudo, 1992). Sejak Doktrin Fukuda dideklarasikan, hubungan Jepang dengan ASEAN telah berkembang sangat pesat. ASEAN berharap bahwa kerja sama di antara kedua belah pihak akan mengarah pada lebih banyaknya investasi serta lebih cepatnya transfer teknologi.

Kawasan Asia Tenggara memiliki beberapa negara dengan pasar berkembang yang dinilai sebagai salah satu kawasan yang paling dinamis di dunia yang akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. Dengan terbentuknya asosiasi ASEAN telah dianggap bahwa asosiasi ini mampu menjadi salah satu organisasi diplomatik untuk mengelola isu-isu regional dan memperluas perdagangan. Mungkin ASEAN terlihat sebagai sekelompok negara yang sedang berkembang, namun secara keseluruhan ASEAN merupakan suatu kekuatan besar.

Jepang sendiri merupakan ekonomi terbesar di kawasan Asia Timur dan merupakan salah satu mitra ekonomi terpenting bagi ASEAN. Jepang juga menyediakan pasar penting bagi ASEAN dan investasinya dianggap sebagai salah satu faktor utama dalam industri manufaktur ASEAN. Jepang menjadi mitra dagang nomor tiga ASEAN pada tahun 2014, sedangkan ASEAN menjadi mitra dagang nomor dua ASEAN di tahun yang sama (Avisena, 2015).

Bersamaan dengan adanya Doktrin Fukuda berhasil mendorong Jepang untuk semakin mudah dan aktif dalam menjalankan setiap kebijakannya di kawasan Asia Tenggara. Doktrin ini juga berhasil membuat negara-negara di kawasan membangun kepercayaan dengan Jepang ditambah dengan terbentuknya ASEAN sebagai suatu asosiasi di kawasan Asia Tenggara. ASEAN sendiri telah mengeluarkan kebijakan integrasi ekonomi yang mana memberikan kemudahan bagi Jepang untuk melakukan industrialisasi di kawasan Asia Tenggara.

Referensi:

Avisena, M. (2015, 24 Agustus). ASEAN-RCEP: Ini Kerja Sama Dagang ASEAN + 6 Mitranya. Ekonomi Bisnis. https://ekonomi.bisnis.com/read/20150824/9/465238/asean-rcep-ini-kerja-sama-dagang-asean-6-mitranya

Jumlah Penduduk Asia Tenggara Tahun 2021: Daftar Negara & Ibukotanya. (2020, 26 Januari). Oriflameid. https://oriflameid.com/jumlah-penduduk-asia-tenggara-tahun-2020/

Sudo, S. (2002).  The International Relations of Japan ad South East Asia: Forging a New Regionalism. Routledge

Sudo, S. (1992). The Fukuda Doctrine: New Dimension in Japanese Foreign Policy. Institute of Southeast Asian Studies

Soesastro, H. (1980). Perkembangan Ekonomi dan Militer Jepang dan Pengaruhnya di Asia Tenggara. Lontara

Tsutsui, W. (2010). Japanese Popular Culture and Globalization. Association for Asian Studies.

Varley, P. (2000). Japanese Culture. University of Hawaii Press

Author:

5 thoughts on “Arti Penting Kawasan Asia Tenggara terhadap Japanese Popular Culture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *