Ancaman Keamanan dan Stabilitas ASEAN Terkait Konflik Laut China Selatan

Laut China Selatan merupakan sebuah wilayah perairan yang menjadi batas maritim antara Asia Tenggara dan Asia Timur. Laut China Selatan saat ini menjadi tempat sengketa bagi beberapa negara, yang terbagi menjadi dua yaitu claimant states dan non-claimant states. Wilayah ini merupakan jalur strategis yang dilintasi oleh banyak kapal internasional serta jalur penting bagi proses distribusi minyak mentah dunia dan gas alam dunia. Konflik yang terjadi berawal dari China yang mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan yang didasarkan oleh sejarah, dokumen-dokumen kuno, peta, dan relief yang didapatkan dari nelayan-nelayan mereka di 2000 tahun yang lalu. Hal tersebut memicu protes negara lain yang beranggapan bahwa sebagian besar wilayah yang diklaim China masih bagian dari wilayah negaranya (Anh, 2014).

China berupaya untuk mendapatkan kontrol atas wilayah ini. Dalam hal ini, China melakukan provokasi dengan meningkatkan kapal perang dan kapal patroli disekitar wilayah dan menggelar latihan militer di area Laut China Selatan. Provokasi yang dilakukan oleh China yaitu dengan mengadakan lebih dari 100 latihan militer di semua wilayah laut utama sejak bulan Mei 2021 (Aristyo, 2021). Hal ini memicu ketegangan pada masing-masing pihak yang memiliki kepentingan di wilayah tersebut. Ancaman lain dari konflik LCS ini ialah adaya potensi terjadinya perpecahan akibat perbedaan pendapat antar negara anggota ASEAN. Konflik ini menimbulkan dilema keamanan bagi negara anggota ASEAN yang kemudian menimbulkan peluang adanya perlombaan senjata karena peningkatan militer China.

Meskipun konflik ini mengancam stabilitas dan keamanan kawasan Asia Tenggara khususnya ASEAN, konflik ini masih dapat ditengahi sehingga tidak menimbulkan ancaman besar ataupun perang. Secara regional, stabilitas ASEAN dipengaruhi oleh adanya ketertarikan ekonomi negara-negara anggotanya yang sangat erat dikarenakan China merupakan mitra dagang terbesar ASEAN (Koga, 2018). Oleh karena itu, adanya keterikatan ekonomi ini juga membuat ASEAN dan China lebih melunakkan ketegangannya. ASEAN sebagai institusi regional di Asia Tenggara terus mengupayakan berbagai cara untuk tetap menjaga stabilitas kawasan dengan memfasilitasi jalannya sebuah dialog antar negara melalui Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) dan ASEAN mulai membentuk Code of Conduct on South China Sea (COC) sebagai aturan yang bersifat mengikat para anggotanya. Diadakannya COC ini ialah untuk meminimalisir adanya ketengangan yang terjadi di wilayah

Laut China Selatan. Pertemuan negosiasi di antara ASEAN dan China di Jakarta telah tertunda pada bulan Juni 2021 dikarenakan melonjaknya COVID-19 dan akan direncanakan ulang pada akhir tahun 2021. COC ini diharapkan bisa menjadi pedoman untuk menyelesaikan kasus ini secara damai serta dapat meningkatkan kerjasama antarnegara anggota (Suharman, 2019).

Meskipun ASEAN tidak dapat menyelesaikan kasus ini secara permanen, ASEAN terbukti dapat menjaga keamanan dan stabilitas kawasan serta menekan potensi adanya perang menggunakan prinsipnya yaitu mengutamakan pemahaman bersama (mutual understanding) dan lebih meningkatkan kerjasama dalam menghadapi kasus ini. ASEAN memerlukan sebuah strategi secara institusional yang dapat memampukannya untuk mengatur hubungan dengan negara-negara besar. Selain itu, ASEAN juga perlu melakukan perubahan dalam bidang keamanan dan juga menyusun sebuah divisi institusional yang memberikan ruang bagi negara-negara anggotanya untuk menjaga keamanan regional.

Referensi

Aristyo, R. (2021, 30 Juli). Towards a rigorous Code of Conduct for the South China Sea. Eastasiaforum. https://www.eastasiaforum.org/2021/07/30/towards-a-rigorous-code-of-conduct-for-the-south-china-sea/

Koga, K. (2018). ASEAN’s evolving institutional strategy: Managing great power politics in South China Sea disputes. The Chinese Journal of International Politics, 11(1), 49-80. https://doi.org/10.1093/cjip/pox016

Nguyen, T. (2014). Origins of the South China Sea Dispute. Territorial Disputes in the South China Sea, 15-35. https://link.springer.com/chapter/10.1057/9781137463685_2

Suharman, Y. (2019). Dilema Keamanan Dan Respon Kolektif Asean Terhadap Sengketa Laut China Selatan. Intermestic: Journal of International Studies, 3(2), 127-146. http://dx.doi.org/10.24198/intermestic.v3n2.3

Author: Septia Rizky

Mahasiswi kelas Hubungan Internasional Di Asia Tenggara Dan Asia Timur

6 thoughts on “Ancaman Keamanan dan Stabilitas ASEAN Terkait Konflik Laut China Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *