Faktor Keberhasilan Small And Medium Enterprises (SMEs) Jepang

Salah satu aspek dalam bidang ekonomi di suatu negara adalah Small and Medium Enterprises (SMEs). SMEs adalah perusahaan kecil yang cepat menyesuaikan diri dengan setiap fluktuasi lingkungan. Ini memberi mereka keuntungan besar dalam konteks perkembangan globalisasi dan kebangkitan masyarakat informasi. Small and Medium Enterprises mewakili 99% dari total perusahaan aktif di seluruh dunia serta 60-70% dari semua pekerjaan diciptakan oleh SMEs (Matejun, 2014). Krisis ekonomi telah mempengaruhi usaha mikro, usaha kecil dan menengah di seluruh dunia, tetapi kapasitas mereka untuk beradaptasi telah mengubah mereka menjadi tuas untuk melawan fenomena tersebut. Small and Medium Enterprises (SMEs) atau Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berperan penting dalam pembangunan ekonomi, karena mereka menjadi sumber utama penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Peran SMEs di suatu negara menjadi penting karena mereka memiliki potensi untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan ekspor (Pandya, 2012). Hal tersebut juga mengarah pada pengembangan kewirausahaan, industri dan ekonomi pedesaan.

Jepang, sebagai salah satu negara maju di kawasan Asia, merupakan negara yang menjadi contoh atas keberhasilannya terhadap pengembangan bisnis SMEs. SMEs di Jepang memiliki perang yang vital dalam perekonomian, dan bahkan memiliki persentase 50% bagi ekspor Jepang (Harvie & Lee, 2002). Salah satu bentuk upaya pemerintah Jepang untuk memajukan SMEs adalah dengan membuat usaha kecil menengah bermitra dengan bisnis atau perusahaan – perusahaan besar. Selain itu, sebagai negara yang dikenal dengan produk ekspor kualitas standar internasional, Jepang juga membuat sebuah program bernama One Village One Product (OVOP) yang bertujuan untuk membuktikan bahwa Jepang peduli terhadap pemerataan ekonomi dan sumber pendapatan warga negaranya (Widiyanti, 2018).

OVOP adalah gerakan yang dimulai di Oita, pulau Kyushu, 1000 kilometer ke selatan dari ibu kota Jepang, Tokyo. Konsep utama OVOP adalah untuk mendorong desa – desa di negeri sakura tersebut agar memiliki keterlibatan aktif warga dalam ekonomi dengan membuat prosedur yang unik untuk daerah. Jepang mengembangkannya menjadi kampanye nasional dan standar global selama akhir 1970-an (Widiyanti, 2018). Untuk mempromosikan gerakan OVOP ketika itu, pemerintah Prefektur (Pemerintah daerah) Oita dan pengawas OVOP memberikan berbagai dukungan termasuk bantuan teknis dan dukungan pemasaran, beberapa warga juga diberikan pelajaran keterampilan baru yang dapat membantu meningkatkan bisnis seperti akuntansi dan packaging (Widiyanti, 2018). Beberapa produk yang dikembangkan menjadi siap jual melalui OVOP di Oita adalah biskuit, madu, dan kerajinan tangan. Aktor atau produsen lokal diharapkan untuk mengembangkan produk siap jual tersebut bagi peningkatan ekonomi masyarakat desa. Sebagai hasil setelah 20 tahun implementasi, OVOP secara luas dianggap berhasil berkontribusi ke pembangunan lokal di Jepang (Widiyanti, 2018).

Jepang juga telah membuat banyak negara berkembang belajar dan mencoba untuk mengadopsi model OVOP, termasuk Indonesia. OVOP berperan sebagai tanggapan untuk mengubah demografi pedesaan-perkotaan dan terkait dengan migrasi dan kesenjangan pendapatan. Inisiatif OVOP telah menawarkan harapan untuk meningkatkan ketanggapan pemerintah daerah terhadap keefektifan kebijakan ekonomi yang dibuat untuk mengatasi masalah ekonomi. Dalam perkembangannya ini, OVOP juga bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dan tujuan awalnya yaitu untuk menghilangkan desa depopulasi. OVOP dilihat sebagai cara kreatif membuat masyarakat lokal jadi memiliki rasa berwirausaha dan bersemangat untuk menciptakan aktivitas yang menambah nilai dengan meningkatkan produk lokal dan sumber daya manusia dalam kerangka ekonomi lokal.

Jepang adalah salah satu negara pelopor komunikasi media massa di dunia, hal tersebut menjadi kunci sukses dalam pasar Jepang (Harvie & Lee, 2002). Maka dari itu, pemerintah Oita benar-benar mengambil kesempatan dari keunggulan media massa. Dalam hal ini, pemerintah mencoba menarik media massa untuk melakukan publikasi besar-besaran OVOP. Di sisi lain, pemerintah prefektur juga memberikan kesempatan kepada produsen OVOP untuk mempromosikan produk mereka dalam program televisi. Di samping itu, pemerintah prefektur telah bekerja keras untuk membantu pengembangan produk dan memberikan fasilitas dalam pameran produk lokal, pameran suvenir, online shop, dan untuk memberikan akses informasi yang luas (Widiyanti, 2018). Dari pemerintah pusat, ada juga bantuan teknis. Secara umum, produsen OVOP di Oita bersatu dalam kerja sama, jadi kondisi ini membuat mereka lebih mudah untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah.

Selain OVOP, salah satu faktor keberhasilan SMEs Jepang adalah SMEs bermitra dengan perusahaan besar. SMEs di negara Jepang beroperasi di bawah Ministry of Economy, Trade and Industry. Di tingkat nasional Jepang, ada dua organisasi untuk menerapkan aturan SMEs. Pertama, Small and Medium Enterprises and Regional Innovation Japan (SMRJ) yang bertanggung jawab atas aspek dukungan domestik, termasuk pembangunan daerah. Kedua, Japan External Trade Organization (JETRO) yang menyediakan dukungan, terutama di luar negeri, seperti perluasan pasar internasional, pendirian cabang di luar negeri, dan sebagainya (Hironaka et al., 2017). Pusat Dukungan SMEs didirikan di setiap prefektur. JETRO inilah yang berperan membantu kemitraan SMEs dengan perusahaan besar.

Ada beberapa perusahaan yang berafiliasi dengan pemerintah untuk membantu finansial SMEs. Mereka mendukung SMEs secara komprehensif dari tiga aspek, yaitu pinjaman, jaminan kredit, dan investasi. Contohnya adalah Shoko Chukin dan Japan Finance Corporation yang merupakan bank umum untuk SMEs (Hironaka et al., 2017). Mereka menyediakan berbagai pinjaman untuk mendukung SMEs secara finansial seperti pinjaman untuk penanaman modal dan modal kerja jangka panjang maupun jangka pendek. Mereka juga menawarkan pinjaman sebagai pengaman untuk SMEs yang mengalami penurunan pendapatan karena kondisi bisnis yang terkena bencana seperti gempa bumi, topan, dan lain-lain. Bank-bank ini juga mendukung dalam berinovasi teknologi dan memperluas bisnis mereka di luar negeri. Selain itu, ada Credit Guarantee Corporations yang didirikan untuk mendukung dan melayani SMEs sebagai penjamin untuk memudahkan mereka meminjam dana dari lembaga keuangan. Mereka terletak di setiap 47 prefektur dan empat kota di negara Jepang. Kedekatan dengan perusahaan – perusahaan multinasional atau bank khusus pinjaman untuk SMEs membantu meningkatkan aksesibilitas bagi SMEs (Hironaka et al., 2017).

Tidak dapat disangkal bahwa SMEs memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja ekonomi Jepang. 81% dari total angkatan kerja (negeri dan swasta) atau 49,11 juta orang bekerja di SMEs, sedangkan 51% dari total ekspor dihasilkan oleh SMEs, menambahkan setiap tahun sekitar 105 triliun yen untuk kegiatan ekonomi Jepang (Haron et al., 2015). Mengingat pentingnya SMEs bagi perekonomian Jepang sebagai salah bentuk pemerataan ekonomi agar tidak terjadi kesenjangan, maka tidak heran pemerintah Jepang memaksimalkan bantuan – bantuan yang dapat mendorong keberhasilan SMEs.

Referensi

Haron, H., Ismail, I., & Oda, S. (2015). Ethics, Corporate Social Responsibility And The Use Of Advisory Services Provided By SMEs: Lessons Learnt From Japan. Asian Academy of Management Journal, 20(1), 71 –100. http://eprints.usm.my/36633/1/Art_4_new_(71-100).pdf

Harvie, C., & Lee, C., B. (2002). The Role of SMEs in National Economies in East Asia. Edward Elgar Publishing Limited.

Hironaka, C., Zariyawati M., & Diana, F. (2017). A Comparative Study on Development of Small and Medium Enterprises (SMEs) in Japan and Malaysia. Saudi Journal of Business and Management Studies, 2(4), 357-374. https://www.researchgate.net/publication/317232338_A_Comparative_Study_on_Development_of_Small_and_Medium_Enterprises_SMEs_in_Japan_and_Malaysia

Matejun, M. (2014). The Role of Flexibility in Building the Competitiveness of Small and Medium Enterprises. Management, 18(1), 154-168. DOI:10.2478/manment-2014-0012

Widiyanti, A. (2018). A Comparative Study: One Village One Product (OVOP) as an Engine of Local Economic Development in Japan and Indonesia. Jurnal Litbang Sukowati, 1(2), 80-94. https://doi.org/10.32630/sukowati.v1i2.25

Pandya, M. (2012, September 6 – 7). Comparative Analysis of Development of SMEs in Developed and Developing Countries. [Paper Presentation]. The 2012 International Conference on Business and Management, Phuket, Thailand. https://www.researchgate.net/profile/Viral-Pandya/publication/266594413_Comparative_analysis_of_development_of_SMEs_in_developed_and_developing_countries/links/54a236e40cf256bf8baf7f37/Comparative-analysis-of-development-of-SMEs-in-developed-and-developing-countries.pdf

Author: Mudhy Azizah

Mahasiswi di kelas Jepang dan Negara Industri Baru

8 thoughts on “Faktor Keberhasilan Small And Medium Enterprises (SMEs) Jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *