Transformasi Politik China era Deng Xiaoping dan Pengaruhnya Terhadap Dinamika Ekonomi Politik Asia Timur

Kawasan Asia Timur merupakan kawasan yang selalu diperhitungkan global, jumlah populasi penduduknya yang besar, perkembangan ekonominya yang signifikan pesat dan kekayaan budaya nya yang berlimpah menjadikan kawasan Asia Timur begitu melekat di mata masyarakat global. Meskipun memiliki perkembangan yang signifikan dalam bidang ekonomi, hal ini lah yang tak jarang justru memicu instabilitas dinamika politik dan ekonomi di kawasan ini. China, Jepang dan Korea Selatan keluar sebagai aktor yang aktif dalam sektor ekonomi dan militer di kawasan Asia Timur. Namun, bagaimana bisa kawasan ini terus mengalami peningkatan yang signifikan dalam sektor ekonomi? Aktivitas kenaikan ekonomi di Kawasan ini bisa saja dipandang positif, melihat semangat para aktor negara untuk meningkatkan sektor ekonomi mereka, namun kita tidak bisa melupakan fakta bahwa kawasan ini adalah kawasan yang konflik tual, bahkan dilema keamanan kerap kali menyentuh kawasan ini. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah dinamika ekonomi politik kawasan Asia Timur ini di picu oleh suatu regulasi atau kebijakan suatu negara yang kuat sehingga dinamika ekonomi politik kawasan ini terus mengalami peningkatan ekonomi yang signifikan? aktor – aktor negara yang terlibat seakan terpacu untuk terus meningkatkan ekonomi mereka, apakah fenomena ini semata – mata dilandasi oleh kepentingan nasional atau mungkin sebagai wujud perlindungan diri dari dinamika politik kawasan Asia Timur yang dinilai penuh ancaman?

Mengaca dari grafik pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan lebih dari tiga dekade belakang dengan menjabatnya Presiden Deng Xiaoping sebagai Presiden China sejak 1982 silam, apakah kepemimpinan Deng Xiaoping ini merupakan faktor pendorong pesatnya kenaikan ekonomi China dan kawasan Asia Timur?

Kekuatan ekonomi China benar – benar di luar dugaan, bahkan dalam kurun waktu yang cukup singkat China mampu menguasai perekonomian tidak hanya di kawasan Asia Timur, bahkan China kini telah berada diurutan nomor dua negara dengan ekonomi terkuat global, meskipun telah dihadapkan dengan situasi pandemik Covid 19 sekalipun. hal ini berarti kekuatan ekonomi China dapat di nilai sangat stabil, namun tentunya peran pemerintah dalam membuat sebuah kebijakan pastinya merupakan kunci dari keajaiban ekonomi China. Hal ini relevan dengan pandangan Merkantilisme yang beranggapan bahwasanya keberhasilan ekonomi selalu disertai peran kekuasaan yang kuat, atau kita dapat memahami bahwa perekonomian tunduk di bawah kontrol komunitas politik, terutama pemerintah negara (Jackson & Sorensen, 2013). Argumentasi yang tak jauh berbeda juga dikemukakan kaum Marxis, Marxis melihat bahwa regulasi – regulasi politik kemudian menciptakan ekonomi pasar, ekonomi tersebut kemudian memiliki dinamika nya tersendiri. Pemikiran Robert Cox sebagai neo – marxis terkemuka juga sedikit banyak dapat menggambarkan proses kebangkitan China, Robert Cox memberikan pemahaman megenai ‘konfigurasi kekuatan tertentu’ yang terdiri dari adanya tiga kekuatan yang saling berinteraksi, yakni; kemampuan materi, ide, dan institusi (Cox & Sinclair, 1996). Kita dapat menerima argumen beberapa pandangan dalam hubungan internasional diatas dalam melihat keajaiban ekonomi China sebagai suatu out put dari regulasi – regulasi politik yang telah ditetapkan pemimpin China.

Jika China dikenal sebagai negara miskin yang terpuruk dan tertutup pada era Mao Zedong, Deng Xiaoping mentransformasikan identitas China terdahulu tersebut menuju China yang lebih terbuka terhadap hubungan atau kerja sama luar negeri dan memfokuskan kepentingan pada pembangunan ekonomi. Deng Xiaoping telah mentransformasikan karakteristik sistem ekonomi dari komunis sosialis bertransformasi ke sosialis pasar dan fokus pada pembangunan negara dengan menjalankan strategi Yangwei Zhongyong, atau mengandalkan kerja sama luar negeri untuk

mencapai kepentingan nasional China, yakni makmur dan maju. Transformasi politik Deng Xiaoping dimulai dengan membuka diri atas kerja sama dengan Amerika Serikat dan negara – negara barat, badan – badan usaha milik swasta juga diperbolehkan beroperasi diChina, bahkan China mulai terbuka terhadap modal asing, hal – hal tersebut yang kemudian menjadikan beberapa kota diChina keluar sebagai kota – kota yang bebas, sehingga pertumbuhan ekonomi maju sangat signifikan ( Zaenurrofik, 2008 ). Kebijakan ekonomi Deng Xiaoping ini memberikan efek yang berjangka panjang, sehingga angka pertumbuhan ekonomi China terus meningkat dari tahun ke tahun, bahkan semenjak tahun 1978 – 1995 Gross Domestic Product (GDP) China tumbuh hingga 8%, dalam proses kebangkitan ekonomi China ini, China dibantu oleh modal asing karena China telah mampu menyerap sumber daya manusia yang ada untuk melakukan kegiatan produksi dengan jumlah yang sangat besar.

Pada tahun 1978 – 1997 industri China berkembang dengan rata – rata persentase 12% pertahun, sehingga pada 1998, nilai tambah industry China berada pada nilai 2.254,1 miliar Yuan, atau mengalami peningkatan 9,37 kali lipat dari tahun 1978. Transformasi politik Deng Xiaoping juga memperlihatkan arah politik yang cenderung berfokus pada kepentingan ekonomi, ditandai dengan bergabungnya China ke dalam World Trade Organization (WTO) setelah membuka diri dalam hubungan kerja sama dengan Amerika Serikat dan negara – negara barat lainnya. Deng Xiaoping juga menerapkan sistem Pintu Terbuka, atau kita pahami juga sebagai liberalisasi perdagangan China dengan perdagangan luar. Sangat signifikannya peningkatan angka persentase ekonomi China, sedikit banyak telah berdampak pada dinamika politik dan ekonomi kawasan Asia Timur, dengan semakin meluasnya cakupan negara yang bekerja sama dengan China, terkhusus di kawasan Asia Pasifik tentunya menarik negara – negara kawasan Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan untuk juga membuka pasar dengan negara – negara kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang dan Korea Selatan. Dinamika politik dalam hal regulasi kebijakan negara – negara seperti Jepang dan Korea Selatan sebagai pemain pasar di kawasan Asia Timur dan Asia Pasifik tentunya akan sangat dipertimbangkan, mereka kini tak lagi dapat leluasa dalam memutuskan sebuah kebijakan karena adanya suatu negara yang telah berkuasa atas pasar Asia Timur dan Asia Pasifik.

Kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya, perjuangan Deng Xiaoping telah menjadikan China sebagai negara yang sangat berpengaruh pada sistem pasar yang ada di kawasan Asia Timur, Asia Pasifik, dan bahkan menuju global. Kuatnya China dalam seluruh aspek negaranya merupakan hasil dari regulasi politik yang tepat, sehingga ekonomi dan militernya dapat terus mengalami peningkatan, tentunya hal ini memberikan dampak bagi konstelasi politik di kawasan Asia Timur, negara – negara seperti Jepang, Korea Utara, dan Korea Selatan harus terus meningkatkan perekonomian mereka dengan memberlakukan kebijakan – kebijakan yang tepat, agar dapat bertahan dalam sistem pasar yang dapat berubah – ubah seiring dengan terus menjabatnya China dalam memimpin pasar ekonomi kawasan tersebut.

Referensi

Zaenurrofik, A. (2008). China Naga Raksasa Asia. Garasi.

Jakson, R., & Sorensen, G. (2013). Pengantar Studi Hubungan Internasional Teori dan Pendekatan Edisi Kelima. Pustaka Belajar.

Cox, R., & Sinclair, T. (1996). Approaches to World Order. Cambridge University Press.

Author:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *