Perkembangan Halal Tourism di Jepang

Memasuki peradaban modern seperti saat ini, pariwisata dianggap sebagai lifestyle masyarakat kelas menengah yang juga menjadi bagian internal yang cukup menjanjikan bagi sektor ekonomi dan bisnis suatu negara. Gaya hidup yang didominasi oleh kelas menengah tersebut menandai adanya perubahan pola konsumsi dari berbelanja produk bermerek menjadi berbelanja hiburan seperti melakukan swafoto atau vlog dengan latar pemandangan objek wisata tertentu. Fenomena ini tentu memicu adanya pergerakan laju ekonomi yang menguntungkan setiap tahunnya, terutama bagi sektor industri pariwisata. Dalam hal ini, pariwisata halal atau halal tourism menjadi salah satu fenomena baru yang lahir dari keuntungan industri pariwisata tersebut (Rahmah et al., 2020).

Halal tourism merupakan sebuah industri penyedia produk dan jasa yang berlandaskan dengan konsep halal dalam Islam. Adapun tiga komponen utama dalam konsep pariwisata halal, yaitu:

  1. Kebutuhan utama pariwisata halal harus dilandasi oleh konsep halal menurut Islam, sehingga wisatawan muslim dapat melaksanakan kewajibannya dalam beribadah;
  2. Terdapat permintaan dari masyarakat muslim sebagai motivasi untuk menciptakan pariwisata halal;
  3. Terdapat layanan atau fasilitas yang nyaman bagi para wisatawan muslim (Unsi, 2019).

Selama beberapa tahun terakhir, industri pariwisata khususnya halal tourism telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan di Jepang. Jepang merupakan salah satu negara maju di Asia yang paling diminati oleh para wisatawan luar negeri karena menawarkan perpaduan antara kemajuan teknologi yang dimiliki dengan keunikan budaya tradisionalnya. Perpaduan tersebut semakin diperkuat dengan potensi keindahan alamnya yang bahkan sekitar 20 objek wisata di Jepang telah terdaftar dalam UNESCO World Heritage (Wahidati et al., 2018).

Sejak awal tahun 2000-an, jumlah wisatawan asing di Jepang terus mengalami peningkatan. Peningkatan yang cukup drastis terjadi pada tahun 2013 dengan total wisatawan asing mencapai 10 juta orang dan sekitar 300 ribu di antaranya merupakan wisatawan muslim. Menurut laporan dari Global McKinsey, pada tahun 2015, kunjungan wisatawan internasional telah berkontribusi bagi perekonomian Jepang sebesar 3.5 triliun yen atau sekitar US$3.5 miliar (Rahmah et al., 2020).

Meski mayoritas penduduk Jepang menganut agama non-muslim dan letaknya jauh dari negara-negara Islam, namun Jepang dapat dikatakan sangat serius dalam mengembangkan wisata halalnya. Keseriusan tersebut dapat terlihat dengan diraihnya penghargaan sebagai World Best Non OIC Emerging Halal Destination dalam World Halal Tourism Award 2016 di Abu Dhabi.

Munculnya halal tourism sendiri di awali dengan tuntutan masyarakat muslim di Jepang yang merasa sulit menemukan makanan. Hal ini dikarenakan pada tahun 2012, hanya ada 27 toko dari 48 toko yang melayani kebutuhan makanan dan bahan halal, serta lebih banyak tersedia di Tokyo. Sebagai bentuk rasa keprihatinan terhadap kelompok sendiri, maka terbentuklah komunitas-komunitas muslim dengan skala kecil yang membantu masyarakat muslim lainnya agar lebih mudah mengkonsumsi makanan halal. Kemudian setelah wisatawan muslim terus mengalami peningkatan, pemerintah Jepang mulai mengembangkan sektor wisata halal dengan tujuan utama yaitu menjadi produsen produk halal ke negara-negara dengan mayoritas muslim (Unsi, 2019).

Pada tahun 2015, terdapat sekitar 52 restoran di Jepang yang menyediakan makanan halal untuk para wisatawan muslim. Angka tersebut terus mengalami peningkatan hingga sebanyak 788 restoran pada awal Oktober 2017. Meski di antaranya hanya 161 restoran yang memiliki sertifikat halal, namun sebanyak 456 restoran memastikan bahwa mereka menggunakan daging halal dalam produknya. Bahkan sebanyak 313 restoran menjamin peralatan dapur dan peralatan makannya  benar-benar halal dan terpisahkan dari peralatan yang digunakan untuk makanan non-halal (Wahidati et al., 2018).

Seiring berkembangnya halal tourism di Jepang, para wisatawan muslim juga menjadi lebih mudah untuk menemukan tempat ibadah. Setidaknya hingga tahun 2018 terdapat sekitar 241 tempat ibadah di berbagai tempat strategis di Jepang yang terbagi menjadi dua jenis yaitu masjid dan musala (Wahidati et al., 2018). Selain itu, adanya agen perjalanan pariwisata halal dan aplikasi yang muslim friendly juga mempermudah para wisatawan muslim untuk mencari berbagai fasilitas yang diperlukan. Fenomena ini tentu memberikan dampak yang baik tidak hanya bagi wisatawan asing saja, tetapi juga bagi masyarakat muslim lokal di Jepang.

Adanya perkembangan yang cukup signifikan terhadap industri pariwisata halal di Jepang sekaligus menggambarkan bahwa pemerintah Jepang sangat mendukung industri tersebut. Pemerintah Jepang juga turut melakukan promosi guna mengembangkan halal tourism melalui Japan National Tourism Organization (JNTO). Meskipun demikian, perkembangan pariwisata halal tidak dapat menggeser ataupun menghilangkan keaslian budaya Jepang.

Daftar Pustaka

Rahmah, H., & Tapotubun, H. H. (2020). Narasi Industri Pariwisata Halal di Negara Jepang dan Jerman. Jurnal Sosiologi Reflektif, 14(2), 287-305. https://doi.org/10.14421/jsr.v14i2.1830

Wahidati, L., & Sarinastiti, E. N. (2018). Perkembangan Wisata Halal di Jepang. Junal Gama Societa, 1(1), 9-19.  https://doi.org/10.22146/jgs.34043

Usni, A. H. (2019). Analisis Kerjasama Jepang-Malaysia dalam Pengembangan Industri Pariwisata Halal tahun 2018 [Skripsi]. Repository UIN Jakarta. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/49643

Author: Iqlima Putri Chaerani

International relations student. //

6 thoughts on “Perkembangan Halal Tourism di Jepang

  1. Wow ternyata Jepang menjadi negara yang cukup ramah bagi wisatawan beragama Islam, jadi tidak perlu khawatir tentang makanan yang berada disanaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *