Memahami Makna Seni Berperang Furin Kazan yang digunakan Takeda Shingen

Setiap negara dibelahan dunia ini pasti memiliki sejarah yang berbeda dalam perkembangan kualitas pertahanan dan keamanan. Keamanan suatu kelompok merupakan hal yang sangat penting untuk menciptakan citra yang kuat di mata kelompok lain lain. Hal tersebut penting, karena konflik adalah pusat sejarah manusia dan sering menjadi penyebab perubahan. Selain itu, karena dalam perspektif teori realisme klasik memandang bahwa dunia ini anarki, realisme klasik juga berasumsi bahwa tidak ada kawan sejati tetapi yang ada hanyalah musuh abadi. Perkembangan pertahanan dapat didorong oleh berbagai macam faktor, diantaranya yaitu bisa di tingkatkan melalui sistem persenjataan atau alutsista yang semakin canggih, angkatan bersenjata yang terlatih dan mumpuni, hingga strategi mempertahankan kekuatan agar memenangkan suatu perang.

Evolusi strategi pertahanan memiliki cara yang berbeda dari setiap masa. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang semakin canggih di era globalisasi seperti saat ini, strategi pertahanan lebih banyak digunakan oleh negara melalui implementasi konsep deterrence. Namun, di masa jauh sebelum era modern, strategi pertahanan lebih cenderung dilakukan melalui penyebar luasan atau bahkan doktrin pemikiran serta gagasan para pakar dan filsuf dalam dunia strategi perang (Black, 1998). Tidak terkecuali dengan sejarah strategi pertahanan dan keamanan Jepang, sebagai negara yang dahulunya konflik tual dan sempat menduduki Hindia Belanda, Jepang dikenal kejam dalam dunia peperangan, terutama dengan konflik internal di dalam negaranya sendiri yang terjadi antar klan. Jepang juga memiliki banyak pemimpin dan prajurit perang atau yang biasa disebut seorang samurai, di mana mereka menerapkan pemikiran para filsuf dan ahli strategi perang yang menciptakan gagasan atau pemikiran yang menjadi landasan untuk memenangkan peperangan dan membuat hal tersebut menjadi seni dalam berperang.

Salah satu seni berperang yang diterapkan dalam sejarah Jepang adalah Furin Kazan. Furin Kazan adalah seni berperang yang diterapkan oleh seorang daimyo atau orang yang berpengaruh besar atau juga bisa diartikan sebagai tuan tanah dari golongan samurai disuatu wilayah di negara Jepang, tepatnya di Provinsi Kai pada tahun 1493 sampai 1573, era di mana perebutan wilayah dan perang saudara melingkupi banyak wilayah Jepang. Daimyo yang terkenal menerapkan seni perang Furin Kazan tersebut bernama Takeda Shingen. Takeda Shingen merupakan seorang penguasa provinsi Kai di jaman Sengoku. Shingen merupakan putra tertua dari seorang panglima perang Jepang yang agresif bernama Takeda Nobutora. Selama periode Sengoku di abad 16, Takeda Shingen merupakan penguasa yang paling berpengaruh, terampil dan berbakat dalam dunia kemiliteran dari klan Takeda. Pada usia 15 tahun saja, Shingen sudah mengikuti jejak ayahnya untuk berperang memperluas kekuasaan klan dan menjadi salah satu anggota pasukan militer klan Takeda yang berperan penting, karena Shingen berhasil membantu ayahnya dalam memenangkan pertempuran Un No Kuchi pada tahun 1536 (Legault, 1996).

Seni berperang Furin Kazan yang diterapkan oleh Takeda Shingen digunakan untuk menjelajahi wilayah lain dan memperluas wilayah kekuasaannya untuk memperkuat kedudukan klan Takeda. Tentara Takeda Shingen membawa sebuah standar di mana empat semboyan, yaitu Fur-In-Ka-Zan diterapkan di negara Jepang. Makna yang terkandung dari seni berperang Furin Kazan sangat mewakili cara bertarung Takeda Shingen (Inoue, 2011).

Hal yang unik dari penerapan seni berperang Furin Kazan oleh Takeda Shingen adalah bahwa pada dasarnya Furin Kazan merupakan ide pemikiran atau seni berperang dari seorang ahli strategi Tiongkok, yang bernama Sun Tzu, lalu Furin Kazan ini digunakan oleh Takeda Shingen. Furin Kazan sendiri terdiri dari gabungan 4 suku kata, yaitu Fu-Rin-Ka-Zan, di mana setiap suku kata memiliki arti yang berbeda. Pertama, adalah Fu yang berarti cepat seperti angin. Kedua, yaitu Rin yang berarti diam dan sabar seperti hutan. Ketiga, adalah Ka, yang berarti menyerang dan ganas seperti api. Keempat atau yang terakhir adalah Zan, yang artinya tidak tergoyahkan layaknya gunung (Inoue, 2011). Takeda Shingen meneruskan kepemimpinan klan Takeda dari hasil melakukan kudeta terhadap ayahnya, dan juga ia berhasil menduduki dan menaklukan sejumlah besar wilayah, walaupun akibat yang di dapat adalah bahwa Shingen menjadi musuh dan saingan beberapa penguasa dan pemimpin dari provinsi lain seperti penguasa wilayah atau yang dikenal dengan sebutan daimyo, yaitu daimyo provinsi Echigo abad 15 yaitu Uesugi Kenshin (Black, 1998).

Karena kehebatan bela diri, keagresifan dan keganasannya di medan perang, Takeda Shingen mendapatkan julukan The Tiger of Kai yang artinya macan dari provinsi Kai. Takeda Shingen bersama salah satu pengikut setianya Yamamoto Kansuke, memiliki kemampuan analisa militer yang cenderung melawan arus tetapi selalu tepat sasaran, di mana Shingen karena kegigihannya, ketika berusia 49 tahun berhasil mengalahkan gabungan pasukan dari tuan tanah Jepang yang dikenal akan kekejaman dan keagresifannya juga, yaitu Oda Nobunaga dan Tokugawa Leyasu yang melenyapkan bahkan membakar wilayah lain dengan kejam seperti kota Kiyosi dan benteng Iwakura, hal tersebutlah yang membuat Shingen menyerang keduanya, karena ia lebih berpengalaman dalam dunia kemiliteran dan berperang (Legault, 1996). Maka dari itu, di era Sengoku, karir Shingen di dunia militer berada diatas puncak.

Wawasan Shingen mengenai keadaan suatu provinsi, termasuk keadaan penduduknya, keadaan jenderal, pemimpin dan bahkan benteng – bentengnya didapatkan melalui imajinasinya yang kuat dan wawasan luas yang diperoleh Takeda Shingen dari banyak membaca, yang membuat kekuatan pasukan lawan jauh tertinggal darinya. Penerapan seni berperang Furin Kazan oleh Takeda Shingen di negara Jepang, membuktikan bahwa untuk memenangkan suatu peperangan tidak hanya kekuatan fisik saja yang diutamakan. Hal lain yang tak kalah pentingnya juga yaitu, pengetahuan dan wawasan yang luas, baik itu memahami strategi perang ataupun memahami musuh.

Referensi

Black, J. (1998). War In The Early Modern World, 1450-1815. Routledge.

Inoue, Y. (2011). Samurai Banner of Furin Kazan. Tuttle Publishing.

Legault, R. (1996). Elite Military Formations in War and Peace. Greenwood Publishing Group.

Author: Mudhy Azizah

Mahasiswi di kelas Jepang dan Negara Industri Baru

4 thoughts on “Memahami Makna Seni Berperang Furin Kazan yang digunakan Takeda Shingen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *