Kepentingan Jepang Menjalin Kerja Sama Dengan India Dalam Bidang Energi Nuklir Tahun 2016

Nuklir pada abad ke-21 ini bukan lagi dipandang sebagai senjata pemusnah masal yang dapat mengancam keselamatan jiwa manusia, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Namun kini nuklir lebih banyak dimanfaatkan oleh suatu negara demi memenuhi kebutuhan atau kepentingan dalam negaranya. Pasalnya penggunaan tenaga nuklir secara damai dipandang sebagai solusi sumber energi alternatif yang cukup menjanjikan bagi suatu negara. Sehingga menjadi penting bagi negara-negara dalam mempertahankan kapabilitas teknologi nuklirnya dalam jangka panjang.

Jepang sendiri merupakan salah satu negara yang memberikan perhatian serius terhadap ketahanan energinya, termasuk dalam mendorong upaya penggunaan teknologi nuklir. Walaupun teknologi nuklir pernah memberikan kenangan buruk terhadap Jepang pasca kehancuran Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945, namun Jepang tetap bangkit dalam mengembangkan teknologi nuklirnya dengan tujuan non militer hingga saat ini. Diketahui bahwa Jepang merupakan pengguna energi nuklir terbesar ketiga di dunia dengan 53 reaktor nuklir, melampaui jumlah reaktor nuklir Amerika Serikat dan Perancis (Jain, 2007). Hal ini menandakan bahwa tenaga nuklir memang sangat potensial bagi Jepang dalam mendorong reformasi sektor energi di dalam negaranya.

Demi mengembangkan tenaga nuklirnya tersebut, Jepang mulai melakukan relasi dengan negara lain melalui kerja sama penggunaan energi nuklir secara damai dengan India. Pada mulanya kerja sama dengan India ini menimbulkan berbagai penolakan, dikarenakan India sebagai negara yang tidak menandatangani Non Proliferation Treaty (NPT) dikhawatirkan akan mencederai kerja sama nuklir ini dengan Jepang. Namun dengan keringanan yang diberikan oleh Nuclear Supplier Group (NSG) terhadap India dalam hal akses bahan energi nuklir, hal itu memberikan jaminan dan kemudahan bagi Jepang untuk tetap melanjutkan kerja sama nuklir bersama India.

Negosiasi kerja sama antara Jepang dan India ini telah dimulai pada tahun 2010, namun sempat terhambat dikarenakan adanya insiden yang terjadi di Fukushima Daiichi yang mengakibatkan tiga dari enam reaktor pembangkit nuklir Jepang mengalami krisis. Namun, pasca tragedi Fukushima, PM Jepang Shinzo Abe tidak membiarkan pengembangan program nuklirnya berhenti begitu saja. PM Abe berusaha menghentikan stigma negatif dan terus optimis dalam mengembangkan energi nuklir di negaranya tersebut.

Atas dorongan tersebut, akhirnya negosiasi kerja sama energi nuklir yang sempat tertunda ini mulai disepakati secara langsung oleh PM Jepang Shinzo Abe dan PM India Narendra Modi melalui Memorandum Of Understanding (MoU) tentang penggunaan energi nuklir sipil secara damai pada 2015 (Narayan & Pakhorel, 2016). Barulah pada tahun 2016 perjanjian tersebut ditandatangani selama KTT bilateral India-Jepang yang diselenggarakan di Tokyo. Setelah semuanya sudah ditandatangani, Jepang diperbolehkan untuk mengekspor teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), membantu India dalam mengelola limbah nuklir dan ikut serta dalam pembangunan PLTN tersebut, serta berbagai macam kerja sama ekonomi lainnya dalam pengembangan energi nuklir di negara tersebut.

Jepang melakukan kerja sama dengan India sendiri bukan tanpa alasan, di balik bantuan dan transfer teknologi yang dilakukan Jepang terhadap India ternyata Jepang memiliki kepentingan yang ingin dicapai, baik dalam hal ekonomi maupun politik. Terkait kepentingan ekonomi, Jepang ingin mencapai kebijakan ekonomi yang digagas Shinzo Abe yang disebut abenomics dalam rangka mengatasi masalah krisis energi yang melanda Jepang (Abas, 2018). Dikarenakan krisis tersebut hampir mematikan pasar domestik nuklir Jepang dan mengancam perusahaan nasional Jepang kala itu. Perusahaan-perusahaan Jepang akhirnya berusaha mencari jalan keluar dengan cara mengejar kesepakatan luar negeri. Jepang melihat bahwa India dapat menjadi pasar yang sangat potensial bagi industri nuklirnya, mengingat India sedang gencar dalam membangun sektor energi nuklir yang nantinya akan dipergunakan untuk energi listrik penyeimbang di masa mendatang.

Diketahui bahwasannya potensi pasar energi nuklir India sangat menggiurkan, diperkirakan bernilai sekitar US$ 150 miliar (Kompas.com, 2010). Jika Jepang mengantongi sejumlah besar kontrak untuk memasang reaktor nuklir di India, itu akan menjadi dorongan besar bagi kebijakan abenomics Jepang. Selain itu, banyaknya bentuk penolakan dan protes terhadap penggunaan tenaga nuklir pasca bencana mendorong masyarakat Jepang ingin melakukan penghapusan bertahap tenaga nuklir. Oleh karena itu, dengan beraliansi dengan India, Jepang dapat menyelamatkan industri energi nuklirnya yang sedang diambang kehancuran. Jepang juga tidak ingin kehilangan pengaruh ekonominya di pasar PLTA India, setelah Korea Selatan mengalahkan Jepang dalam proyek kerja sama PLTN dengan UEA. Tentunya bagi Jepang, gagasan global partnership dengan India akan memberikan laba, sekaligus manfaat yang besar bagi perekonomian nasional Jepang, dikarenakan kedua negara sama-sama mempunyai kepentingan yang konvergen.

Selain kepentingan ekonomi, juga terdapat kepentingan politik. Dalam hal ini kepentingan politik Jepang meliputi kepentingan Indo-Pasifik. Jepang melakukan aliansi dengan India dikarenakan kekhawatiran Jepang terhadap aktifitas Tiongkok yang semakin meningkat di Kawasan Indo-Pasifik. Jepang juga mendukung India sebagai kekuatan regional baru di Asia, dimana hal ini dijadikan sebagai bentuk rebalancing terhadap kekuatan Tiongkok yang semakin besar pengaruhnya di Laut Tiongkok Timur, Laut Tiongkok Selatan dan Samudra Hindia. Selain itu, kerja sama nuklir dengan India merupakan respon atas kerja sama nuklir Tiongkok dengan Pakistan, serta respon atas penolakan Tiongkok yang selalu melarang masuknya India ke dalam keanggotaan Nuclear Supplier Group (NSG). Dalam hal ini, tentunya Jepang perlu bekerja sama dengan India sebagi mitra yang kuat dalam mendukung eksistensi Jepang di kawasan, sekaligus sebagai batu loncatan bagi Jepang dalam memperluas dominasinya.

Referensi

Abas, A. (2018). Analisis Implementasi Kebijakan Abenomics Di Jepang Tahun 2012-2017. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 6(2), 443-458. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/?p=2543

Jain, P. (2007). Japan’s Energy Security Policy In An Era of Emerging Competition In The Asia-Pacific. Routledge.

Berebut Pasar Senjata dan Teknologi Nuklir. (2010, 24 Desember). Kompas. https://nasional.kompas.com/read/2010/12/24/0347377/Berebut.Pasar.Senjata.dan.Teknologi.Nuklir?page=all

Pakhorel, S., & Narayan, C. (2016, 11 November). India and Japan Sign Civil Nuclear Deal. CNN. https://edition.cnn.com/2016/11/11/world/india-japan-nuclear-deal/index.html

Author:

Silvia Nur Khalifah mahasiswa Hubungan Internasional IISIP jakarta

8 thoughts on “Kepentingan Jepang Menjalin Kerja Sama Dengan India Dalam Bidang Energi Nuklir Tahun 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *