Fenomena Shoushika dan Dampaknya Bagi Jepang

Suatu wilayah dapat diakui sebagai negara apabila memiliki pemerintah yang berjalan, hukum, serta pengakuan nasional lainnya, termasuk adanya keberadaan penduduk. Namun, adakalanya penduduk juga dapat menjadi masalah nasional bagi suatu negara. Di negara-negara berkembang, masalah kependudukan menjadi sulit untuk diatasi, karena angka kelahiran yang terus bertambah sehingga memicu terjadinya ledakan penduduk. Hal ini bertolak belakang dengan negara yang dipandang maju, seperti halnya Jepang yang telah mengalami pasang surut permasalahan terkait dengan fenomena kependudukan.

Dalam beberapa dekade terakhir, Jepang dihadapi oleh masalah yang berhubungan dengan kondisi demografi. Hal ini ditandai dengan terus terjadinya penurunan jumlah angka kelahiran dan pesatnya populasi lansia di Jepang. Walaupun angka harapan hidup di negara maju seperti Jepang cenderung tinggi yaitu diatas usia 80 tahun, namun rendahnya angka kelahiran telah memberikan permasalahan krisis demografi yang begitu besar terhadap Jepang dan jika dibiarkan terlalu lama dapat merugikan negara.

Fenomena menurunnya jumlah kelahiran di Jepang ini dikenal dengan sebutan shoushika. Kata shoushika sendiri dikeluarkan pertama kali oleh pemerintah Jepang tahun 1992 guna menggambarkan hilangnya populasi generasi muda sebagai penerus generasi terdahulu (Widiandari, 2016). Diketahui pasca Perang Dunia II, angka kelahiran di Jepang mengalami pasang surut, jumlahnya terus menurun sejak tahun 1975 hingga saat ini. Kekalahan Jepang pasca PD II membuat pemerintah akhirnya memutuskan untuk menekan angka kelahiran agar dapat mengatasi kondisi kesehatan dan produktivitas masyarakat yang memburuk pasca konflik. Sehingga pada kala itu, penurunan angka kelahiran dinilai positif bagi pemerintah Jepang.

Namun seiring berjalannya waktu, fenomena shoushika memberikan kekhawatiran bagi Jepang. Fenomena tersebut telah merubah pikiran masyarakat Jepang untuk menunda pernikahan, bahkan banyak dari mereka yang lebih memilih untuk tidak menikah. Masyarakat Jepang berfikir bahwa semakin maraknya wanita bekerja membuat mereka sulit dalam mengatur jam kerja dan merawat anak-anak mereka, sehingga keberadaan anak dinilai bisa mengganggu masalah pekerjaan mereka. Kemudian, wanita generasi baru juga menganggap jika melahirkan dapat menghabiskan uang. Mereka harus memberikan pendidikan terhadap anak yang tentunya dapat merugikan secara ekonomi.

Menurut hasil riset yang dimuat Suntory Foundation Research Project, fenomena shoushika telah berdampak pada kebijakan sosial, ekonomi dan budaya Jepang. Ditingkat ekonomi, pemerintah menghadapi kesulitan keuangan untuk membiayai skema pensiunan penduduk lanjut usia, karena terus berkurangnya tenaga usia produktif (Amelia, 2021). Dalam artian, penurunan jumlah sumber daya manusia membuat banyak perusahaan Jepang kekurangan tenaga kerja. Fenomena shoushika ini juga memberikan tekanan pada sektor keuangan publik Jepang untuk membiayai kesejahteraan, serta menjaga kesehatan warga negaranya yang sudah lanjut usia (Fensom, 2017). Hal tersebut nampaknya berpengaruh terhadap penurunan PDB Jepang pada 2020. Jika hal itu terus terjadi, maka bukan tidak mungkin eksistensi Jepang sebagai negara dengan ekonomi terbesar ke-3 di dunia dapat tersingkirkan.

Dengan minimnya usia produktif ini juga mendorong Pemerintah Jepang mencari tenaga kerja di luar negeri, sekaligus mempermudah para pekerja asing ini untuk mendapatkan visanya. Pada 2016, jumlah penduduk asing meningkat menjadi 150.000 dalam rangka membantu mengurangi penurunan populasi Jepang secara keseluruhan. Namun, dampaknya ditingkat budaya, masyarakat menjadi khawatir bahwa pekerja asing ini dapat menimbulkan gejolak dan mengganggu keharmonisan masyarakat Jepang. Budaya dan nilai-nilai Jepang yang cenderung homogen ini dinilai akan sulit berasimilasi dengan tenaga kerja asing yang memiliki perbedaan dari segi kultur maupun bahasa. Sehingga dikhawatirkan budaya Jepang akan semakin terkikis. Fenomena shoushika ini juga telah berdampak terhadap menurunnya warisan tradisi dan budaya masyarakat Jepang, dimana masyarakat beranggapan bahwa konsep keluarga tradisional kuno terlalu menghabiskan banyak biaya. Kemudian membangun gaya hidup yang individualistik, dimana mereka memilih untuk membangun karir dan memenuhi kebutuhannya sendiri, dibanding menjadi bagian dari rumah tangga.

Selain itu pula, fenomena ini mengancam keberlangsungan hidup masyarakat Jepang di masa mendatang. Ditingkat sosial, krisis demografi ini membuat banyak penduduk usia muda lebih memilih untuk tinggal di perkotaan dibanding di desa, sehingga membuat kota-kota kecil perkampungan Jepang menjadi mencekam. Bahkan di desa-desa seperti Nagoro, Tokushima dihuni oleh boneka-boneka buatan tangan manusia yang mempresentasikan para penduduk yang telah pergi (Terapulina et al, 2021). Tentunya daerah-daerah yang sudah sepi dari hunian ini dapat berpotensi menjadi sasaran klaim teritorial negara tetangga. Jika hal ini terjadi, bukan hanya mengancam sosial, ekonomi dan budaya saja, namun juga keamanan militer Jepang.

Referensi

Terapulina, M., Hikmatullah, I., Dwi, M., Nada, Q., & Safa N. (2021). Fenomena Shoushika: Analisis Kebijakan Pemerintah Jepang Pada Era Kepemimpinan Shinzo Abe. Jurnal Transborders, 4(2), 96-110. https://journal.unpas.ac.id/index.php/transborders/article/view/39

Widiandari, A. (2016). Fenomena Shoushika Di Jepang: Perubahan Konsep Anak. Jurnal Universitas Diponegoro, 5(1), 32-39. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/izumi/article/view/11772/9007

Amelia, A. (2021, 20 Maret). 5 Dampak yang Mengancam Jepang Akibat Fenomena Shoushika. Idntimes. https://www.idntimes.com/opinion/social/anggita-rezki-a/opini-5-dampak-yang-mengancam-jepang-akibat-fenomena-shoushika-c1c2/4

Fensom, A. (2017, 07 Agustus). Aging Asia: Turning Demographic Weakness to Strength. Thediplomat. https://thediplomat.com/2017/08/aging-asia-turning-demographic-weakness-to-strength/

Author:

Silvia Nur Khalifah mahasiswa Hubungan Internasional IISIP jakarta

8 thoughts on “Fenomena Shoushika dan Dampaknya Bagi Jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *