Dinamika Hubungan Jepang-Korea Selatan

Hubungan Jepang dengan Korea Selatan bisa dikatakan bagaikan hubungan benci tapi cinta, permasalahan tarik ulur hubungan kedua negara ini memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat internasional. Hubungan antara kedua negara ini memang sedikit membinggungkan banyak konflik yang terjadi diantara kedua negara, permasalahan atau konflik dalam hubungan internasional adalah masalah yang tidak bisa terelakkan (Steans & Pettiford, 2009). Seperti perebutan pulau Dokdo, masalah tuntutan ganti rugi kerugian setelah perang dan yang paling sering diangkat adalah permasalahan wanita hiburan atau budak seks (comfort women) pada saat perang dan juga kejahatan (imperialisme) bangsa Jepang pada zaman dahulu. Namun kedua negara ini tetap melakukan hubungan kerja sama bilateral yang cukup baik dibeberapa aspek. Maka dari itu hubungan diantara kedua negara ini memang sedikit sulit untuk dipahami.


Kerumitan hubungan diantara kedua negara ini berawal pada tahun 1910-1945 karena kejadian imperialisme Jepang di semenanjung Korea Selatan. Karena permasalahan itu, pemerintah dan masyarakat Korea Selatan masih merasakan sakit hati yang dalam dan terus menuntut permintaan maaf atau penyelesaian tentang masalah tersebut kepada pemerintah Jepang. Namun kedua negara tidak tinggal diam saja, mereka mencoba untuk memperbaiki hubungan kedua negara ini. Salah satu upayanya adalah pembentukan kerja sama “New Japan-Republic of Korea Partnership Toward the 21st Century” pada tahun 1988 dengan berupaya untuk melupakan apa yang sudah terjadi dimasa lalu dan mengharapkan terjalinnya kerja sama yang berorientasi jauh kedepan bagi kedua negara.


Setelah itu Jepang dan Korea Selatan bersepakat untuk terus membangun hubungan yang konstruktif berdasarkan nilai-nilai dasar bersama seperti demokrasi liberal dan ekonomi pasar di masa yang akan datang. Upaya rekonsiliasi yang dilakukan pemerintah Korea Selatan dengan Pemerintah Jepang pantas diberi kredit sebagai prestasi diplomatik yang penting. Namun nampaknya masyarakat Korea Selatan belum bisa menerima permintan maaf Jepang begitu saja. Sampai saat ini hubungan kedua negara masih dalam penjajakan dalam mencari solusi agar hubungan diantara kedua negara ini tetap berlanjut dengan damai.


Solusi untuk mengakhiri permasalahan-permasalah yang terjadi diantara kedua negara ini memang sudah banyak dilakukan, namun apa daya belum ada satupun upaya yang berhasil memperbaiki hubungan kedua negara ini. Wajar saja jika masyarakat dan pemerintah Korea Selatan masih mengalami trauma akibat perlakuan Jepang dimasa yang lalu. Sebab konflik yang terjadi diantara kedua negara ini memang bukanlah hal yang sepele dan dapat dilupakan dengan sangat mudah. Maka dari itu, hubungan kedua negara sampai saat ini belum mencapai kata sepakat juga dan masih dihantui oleh bayang-bayang masa lalu.


Hal yang sangat menyulitkan kedua negara ini untuk melakukan normalisasi hubungan secara keseluruhan adalah permasalahan budak seks (comfort women). Comfort women ini diberlakukan sangat tidak etis dan kejam oleh para tentara Jepang pada masa perang terjadi dan masuk kedalam bentuk kejahatan perang yang diakui oleh dunia sebagai kejahatan yang keji dan tidak bermoral (Bakry, 2019). Sebanyak 200.000 wanita berkisar umur 13-25 tahun menjadi korban kejahatan perang yang dilakukan oleh para tentara Jepang ini. Selain itu Jepang juga pada waktu itu sempat ingin menghapuskan sejarah kekejaman ini. Tentu saja hal tersebut dipermasalahkan oleh pihak Korea Selatan. Permintaan maaf Jepang juga dianggap tidak tulus karena adanya sikap yang seperti itu dari Jepang.


Baru-baru ini hubungan kedua negara juga memanas kembali karena masalah sengketa wilayah di pulau Dokdo atau Takeshima (CNN, 2021). Kedua negara bersikeras bahwa pulau tersebut masuk kedalam territorial negaranya masing-masing. Hal ini sudah berlangsung lama dan belum terlihat ujung dari persengketaan ini. Maka dari itu normalisasi hubungan kedua negara pada waktu dekat ini bisa dibilang hamper mustahil, karena masih banyaknya persoalan yang masih belum terselesaikan dan ego dari kedua negara ini masih sangat tinggi, sehingga semakin menyulitkan mediasi diantara kedua negara.

Referensi :
Bakry, U, S. (2019). Hukum Humaniter Internasional Sebuah Pengantar. Prenamedia Group.
Steans, J., & Pettiford, L. (2009). Refleksi Hubungan Internasional. Graha Ilmu.
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210225112303-113-610712/hubungan-jepang-dan-korea-selatan-makin-memanas

Author: Egha Fauziah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *