Abenomics Pasca Shinzo Abe

Jepang merupakan negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia dengan total Gross Domestic Product (GDP) pada tahun 2016 mencapai US$ 5 juta. Meski begitu, Jepang kerap mengalami berbagai permasalahan seperti melambatnya pertumbuhan ekonomi, terganggunya kegiatan ekspor dan impor hingga permasalahan yang terkait dengan ketenagakerjaan. Kondisi tersebut semakin diperburuk dengan terjadinya gempa dan tsunami di beberapa wilayah di sekitar pantai timur laut Jepang Tohoku. Selain menghancurkan lebih dari 130 ribu bangunan dan mengalami kerusakan ekonomi hingga US$ 360 miliar, bencana tersebut juga melumpuhkan sektor industri nuklir yang mengharuskan Jepang melakukan impor minyak untuk menggantikan kapasitas pembangkit nuklir (Abas, 2018).

Melihat permasalahan ekonomi Jepang, Shinzo Abe yang kembali terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang saat itu mengeluarkan sebuah kebijakan ekonomi yang dikenal dengan Abenomics. Istilah ini mengacu pada paket kebijakan Abe yang ditujukan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan ekonomi Jepang sejak masa ‘The Lost Decade’ (Atmaja, 2018). Selain memulihkan perekonomian domestik, kebijakan Abenomics juga ditargetkan untuk menjaga stabilitas ekonomi internasional seperti meningkatkan permintaan domestik, meningkatkan pertumbuhan GDP dan inflasi, serta memperluas kemitraan perdagangan. Adapun tiga panah dalam Abenomics, di antaranya:

  1. Kebijakan Stimulus Moneter, merupakan salah satu mesin utama pendorong Abenomics untuk meningkatkan inflasi hingga 2 persen. Beberapa program kebijakan ini yaitu penggandaan basis moneter, pembelian aset negara dan penurunan suku bunga bank. Sehingga Bank of Japan (BOJ) menjadi penanggung jawab penuh dalam pelaksanaan kebijakan stimulus moneter.
  2. Kebijakan Stimulus Fiskal, adalah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jepang dalam jangka pendek dengan melakukan peningkatan anggaran pembelanjaan negara dan pajak konsumsi.
  3. Kebijakan Reformasi Struktural, terdiri dari beberapa program yaitu Reformasi Agriculture dan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), Reformasi Energi, Reformasi Pajak, Cool Japan, Reformasi Pekerja dan Womanomics, serta Proyek Global 30 (G30) (Abas, 2018).

Namun setelah memimpin Jepang selama 8 tahun, Shinzo Abe mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan sebagai PM Jepang pada tahun 2020 lalu. Dalam konferensi pers yang dilakukan di Tokyo, Abe mengatakan bahwa kemundurannya sebagai perdana menteri disebabkan oleh kondisi kesehatannya yang semakin memburuk. Mundurnya Shinzo Abe kemudian memunculkan tanda tanya besar, terutama terkait dengan Abenomics (Fitriani, 2020).

Meski sempat mengalami keberhasilan, di mana kebijakan tersebut membuat Bank of Japan membeli sejumlah obligasi pemerintah untuk meningkatkan likuiditas pasar yang sekaligus membantu melemahkan yen serta menyebabkan meningkatnya upah dan membuka lapangan pekerjaan baru. Abenomics dianggap sudah mengalami ketidakstabilan oleh beberapa pengamat ekonomi, bahkan sebelum Abe mengumumkan pengunduran dirinya. Ketidakstabilan tersebut semakin diperburuk dengan terjadinya pandemi yang menghapuskan manfaat jangka pendek dari Abenomics serta melumpuhkan potensi pertumbuhan ekonomi Jepang (Fitriani, 2020).

Kemunduran Abe juga memberikan dampak pada pasar saham Jepang, di mana Indeks Topix Tokyo mengalami penurunan sebanyak 1,5% dari sebelumnya mengalami kenaikan lebih dari 1% (Hamdani, 2020). Hal tersebut dikarenakan munculnya kekhawatiran para investor akan berakhirnya program kebijakan moneter dan fiskal Abenomics. Di sisi lain, nilai mata uang yen mengalami peningkatan 0,4% terhadap dolar AS menjadi US$ 106,11 pasca pengumuman pengunduran diri Abe. Menurut Masahiro Ichikawa, menguatnya yen sangat mengejutkan para pelaku pasar karena dapat lebih banyak membuka akses pasar bagi para pemain luar negeri (Hamdani, 2020).

Pasca kemunduran Abe, Yoshihide Suga sebagai politisi Liberal Democratic Party (LDP) dan tangan kanan Shinzo Abe menegaskan bahwa akan tetap mempertahankan Abenomics bersama dengan kebijakan suplementernya yakni Suganomics dalam kebijakan ekonomi dan melanjutkan penindakan Covid-19. Melalui dua kebijakan tersebut, Suga telah berjanji untuk meningkatkan hubungan Jepang dengan Tiongkok walaupun di saat yang bersamaan pemerintah Tiongkok mengambil langkah keras dalam kebijakan pertahanan dan keamanannya terkait Kepulauan Diaoyu. Di sisi lain, Suga juga mengharapkan hubungan Tokyo dengan Washington akan menjadi poros hubungan luar negeri Jepang sehingga Jepang dapat menjaga stabilitas hubungannya dengan Tiongkok dan Amerika Serikat. Jika Suga berhasil menstabilkan perekonomian dan politik Jepang, serta menahan laju penyebaran virus corona, maka kemungkinan Suga dapat menciptakan era pembangunan yang berbeda di Jepang dan keluar dari bayangan Shinzo Abe (Priangani et al., 2021).

Referensi

Abas, A. (2018). Analisis Implementasi Kebijakan Abenomics di Jepang tahun 2012 – 2017. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 6(2), 443-458. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/?p=2543

Priangani, A., Kunkunrat, & Saputra, R.M.S. (2021). Yoshihide Suga Policy to Continue Abenomics in East and Southeast Asia. Jurnal Dinamika Global, 6(1), 1-19. https://doi.org/10.36859/jdg.v6i01.389

Atmaja, G. (2018). Dampak Kebijakan Abenomics terhadap Ekspor Indonesia ke Jepang dan AS [Skripsi]. Repository Universitas Jember. https://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/86251/GANDA%20ATMAJA%20NIM%20120910101054.pdf?sequence=1

Fitriani, A. (2020, 28 Agustus). Shinzo Abe Mundur Sebagai PM Jepang, Bagaimana Nasib Abenomics?. Republik Merdeka. https://dunia.rmol.id/read/2020/08/28/450063/shinzo-abe-mundur-sebagai-pm-jepang-bagaimana-nasib-abenomics

Hamdani, T. (2020, 29 Agustus). Mundurnya Perdana Menteri Shinzo Abe dan Nasib Ekonomi Jepang. detikFinance. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5151166/mundurnya-perdana-menteri-shinzo-abe-dan-nasib-ekonomi-jepang

Author: Iqlima Putri Chaerani

International relations student. //

9 thoughts on “Abenomics Pasca Shinzo Abe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *