Cultural Engineering Sebagai Rahasia Kesuksesan Jepang

Pada akhir Perang Dunia kedua, Jepang dapat dikatakan sebagai negara yang kalah perang. Pengeboman pada kota Hiroshima dan Nagasaki membuat Jepang yang sebelumnya aktif dalam ranah internasional, seketika hancur dan harus merekonstruksi negaranya. Sumber Daya Alam (SDA) yang terbatas serta keadaan pasca perang yang mengerikan, mendorong Jepang untuk mencari solusi hingga dapat membangun kembali negaranya kala itu. Rupanya Sumber Daya Manusia (SDM) berhasil menjadi solusi utama bagi Jepang. Keberhasilan Jepang dalam memanfaatkan SDM dapat dilihat hanya dalam kurun waktu tiga puluh tahun dimana perekonomian Jepang berhasil bangkit dan menjadi bagian dari salah satu New Industrial Countries (NICs).

Rahasia keberhasilan Jepang dalam memanfaatkan SDM tentunya bukan dari sektor perekonomiannya saja, untuk memastikan Jepang menjadi negara yang maju, pemerintah Jepang berupaya melakukan rekonstruksi SDM melalui sektor budaya. Jepang mencoba memanfaatkan budaya sebagai agen perubahan dan target perubahan guna mengembangkan perekonomian negaranya. Sebagai agen perubahan, budaya digunakan untuk mendorong SDM melakukan rekonstruksi pada sistem institusi melalui respon kreatif mereka. Sebagai target perubahan, budaya dilakukan untuk menanamkan nilai, kebiasaan, dan bentuk-bentuk untuk adaptasi dengan cara hidup baru (Harrison, 2000). Untuk menyeleksi jenis budaya yang dapat membantu kemajuan perekonomian negaranya, Jepang melakukan cultural engineering.

Cultural engineering merupakan proses pembentukan ideologi baru yang dilakukan secara sadar oleh SDM untuk diimplementasikan dalam kebijakan sehingga dapat diadaptasi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari (Watanabe, 2008). Bentuk budaya sebagai agen perubahan melalui cultural engineering Jepang dapat dilihat dari terjadinya revolusi organisasi atau yang disebut sebagai Super Lean Revolution yang didorong oleh masyarakat pada tahun 1980-an sampai 1990-an pada sektor industri automobile. Jepang melakukan cultural engineering terhadap revolusi ini dikarenakan Jepang mulai melihat SDM yang tersedia sudah memasuki tahap aging society dan tingkat pertumbuhan populasi negaranya yang rendah. Revolusi ini menjadi dasar bagi kemajuan perekonomian, politik, dan budaya Jepang yang bertransformasi dari abad ke-19 hingga abad ke-20 (Sey, 2000). Tidak hanya itu, Super lean Revolution menjadi cikal bakal pembentukan sistem perusahaan automobile modern dewasa ini, dimana perusahaan Jepang mulai melakukan sistem kerja yang lebih terbuka kepada seluruh gender dalam masyarakat, Jepang juga mulai mengadaptasi pola hierarki eksekutif dengan menciptakan pola-pola baru konsumsi yang menekankan pada pembangunan keorganisasian dalam skala besar (Sey, 2000).

Bentuk budaya sebagai target perubahan melalui cultural engineering yang dilakukan Jepang dapat dilihat dari empat motto yang ditanamkan kepada masyarakat Jepang dalam berfikir yaitu fokoku kyohei, wakon yosei, datsua nyuo, dan bunmei keikai. Fokoku kyohai merupakan nilai yang percaya bahwa dengan meningkatkan sektor militer, Jepang akan menjadi sebuah negara maju yang dapat menghadang serangan dari berbagai aktor internasional yang berusaha mengintervensi negaranya. Wakon yosei merupakan ide mengenai semangat masyarakat Jepang untuk memiliki kemampuan yang sama dengan bangsa barat. Datsua nyuo merupakan ide yang menggambarkan Jepang yang mulai melakukan identifikasi dengan Barat. Motto ke-empat yaitu bunmei keika merupakan ajaran kepada masyarakat Jepang untuk menjadi bangsa yang beradab dengan cara mengubah pola pikir dan ideologi lama tanpa memandang ras (Kitahara, 1986).

Kesuksesan Jepang dalam meningkatkan perekonomian negaranya tidak lepas dari langkah Jepang dalam merekonstruksi budaya melalui cultural engineering. Jepang percaya bahwa untuk menjadi sebuah negara yang kuat, identitas budaya dan karakter bangsa merupakan faktor penting dalam kemajuan bangsa Jepang. Super lean revolution serta penanaman motto hidup masyarakat Jepang merupakan sebuah hasil kerja keras Jepang untuk bangkit menjadi bagsa dan negara yang maju.

Referensi:

Harrison, L. (2000). ” Promoting progressive cultural change”, dalam LE. Harrison dan S Huntington (eds.), Culture Matters: How Values Shape Human Progress (hlm 296-307). Basic Book

Kitahara, M. (1986). “The Rise of Four Mottoes in Japan: Before and After the Meiji Restoration”, Journal of Asian History, 20(1): 54-64. http://www.jstor.org/stable/41930590

Sey, A. (2000). Team Work in Japan: Revolution, Evolution or No Change at All?. Economic and Industrial Democracy Journal, 21(4), 475–503. https://doi.org/10.1177/0143831X00214004

Watanabe, Y., & McConnell, D. L. (Eds.). (2008). Soft power superpowers: Cultural and national assets of Japan and the United States. ME Sharpe.

7 thoughts on “Cultural Engineering Sebagai Rahasia Kesuksesan Jepang

  1. Artikelnya sangat menarik, motto dalam cultural engineering Jepang ini juga ternyata sangat dalam maknanya. Terima kasih untuk artikel ini, Sabrina 🙌

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *