Upaya ASEAN Dalam Menangani Pandemi COVID-19

Penghujung tahun 2019, Tiongkok menyatakan bahwa di Wuhan telah ditemukan adanya penyakit yang di sebabkan oleh virus corona dan sekarang lebih dikenal dengan COVID-19. Penyakit ini terus menyebar ke berbagai negara di penjuru dunia hingga WHO menjadikan COVID-19 ini sebagai pandemic global pad 11 Maret 2020. Di negara Asia Tenggara sendiri jumlah korban meninggal akibat terjangkit Penyakit ini diketahui cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari hasil penelitian menunjukkan bahwa di negara Asia Tenggara dari tanggal 27 Januari hingga 27 April 2020 terdapat 41.907 kasus COVID-19 yang terdiri 1475 kasus Meninggal dan 10.194 orang sembuh. Singapura menjadi pemilik Jumlah kasus COVID-19 tertinggi yaitu 14. 951 kasus dan diikuti oleh Indonesia, Filipina, Lebih dari  di Malaysia dan Thailand yang terdeteksi mempunyai lebih dari 1000 kasus. Namun, Indonesia memiliki angka CFR terbanyak Hingga 8,13%, diikuti oleh Filipina, Myanmar dan Thailand Masing-masing menyumbang 6,66%, 3,36%, 1,84%. Nilai RR tertinggi dimiliki oleh Kamboja, dengan 97,84%, dan Disusul Brunei, Thailand, Vietnam, Dan nilai-nilai Malaysia sebesar 89,86%, 88,8%, 83,3%, 67,63%. Meskipun Vietnam memiliki Memiliki populasi lebih banyak dari Thailand, Tetapi jumlah CFR Vietnam lebih rendah Dari Thailand (El-Matury, 2020).

Sadar bahwa akan sangat sulit bagi para negara untuk menangani pandemic ini sendiri, para negara memutuskan untuk menjalin Kerjasama internasional dalam menangani pandemi COVID-19. Meskipun, setiap negara memiliki kebijakan untuk mengontrol secara ketat perbatasan negaranya untuk mencegah adanya pelintas batas yang akan mempermudah penyebaran COVID-19. Perlu ada kesadaran dari para pemimpin negara di kawasan, bahwa kerja sama dan koordinasi, merupakan tuntutan yang sangat penting dan mendesak saat ini. Dengan demikian, mereka akan harus mencari cara bagaimana menjembatani jurang komunikasi di antara mereka sehingga terbangun jembatan komunikasi, yang bisa menjadi sarana terbangunnya kerja sama dan koordinasi dalam memerangi pandemi COVID-19

Association of Southeast Asian Nations atau ASEAN sebagai organaisasi regional yang menaungi Asia Tenggara ini, Bersama negara anggotanya berupaya menangani COVID-19 di asia tenggara. Para pemimpin ASEAN merumuskan rencana dan membahas beberapa kebijakan sebagai bagian dari kerja sama regional ASEAN. Namun, kerja sama regional ASEAN memiliki banyak kritik dan tantangan dalam menyikapi pandemi COVID-19.

Pada awalnya banyak negara anggota ASEAN kekurangan informasi tentang pandemi ini, yang menentukan ketidakpastian kebijakan yang akan diadopsi oleh semua negara anggota ASEAN. Setelah WHO membuat rekomendasi untuk melacak setiap orang yang didiagnosis dengan COVID-19, mereka akhirnya dapat mengadopsi kebijakan domestik yang berbeda-beda dan melaporkan jumlah orang yang terinfeksi COVID-19. Singapura dan Malaysia langsung menyusul dan melaporkan warganya terjangkit COVID-19, disusul Thailand dan Filipina. Pada saat yang sama, Indonesia lambat dalam dikonfirmasi kasus COVID-19 di antara warganya (Djalante, et al. 2020).

Walaupun sedikit terlambat, nyatanya ASEAN tetap berkomitmen untuk memerangi pandemi COVID-19 ini secara bersama-sama. Hal ini diwujudkan dengan diselenggarakannya KTT khusus COVID-19 ASEAN dan KTT ASEAN+3 diadakan lebih dari sebulan setelah pengumuman WHO.  Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyampaikan tujuh poin penting yang menjadi keputusan hasil dari KTT khusus COVID-19 yang dihadiri oleh para pemimpin negara tersebut. Pertama, untuk menanggulangi terjadinya kekurangan informasi maka ASEAN memutuskan untuk memperkuat kerja sama dengan saling tukar informasi, best practices, pengembangan research, pengembangan epidemiologi dan lain lain. Kedua, ASEAN juga sepakat untuk berkomitmen memberikan perlindungan bagi warga negara ASEAN di tengah masa pandemi  COVID-19. Ketiga, ASEAN sepakat memperkuat komunikasi publiknya dan berupaya untuk memerangi stigmatisasi dan diskriminasi.  Keempat, ASEAN berkomitmen untuk mengambil langkah yang terkoordinasi untuk memitigasi dampak ekonomi dan sosial. Terkait hal tersebut, para pemimpin ASEAN meminta para Menteri Ekonomi ASEAN untuk mengimplementasikan hasil-hasil Pertemuan Koordinasi Tingkat Menteri ASEAN yang diselenggarakan pada 10 Maret. Para menteri ekonomi juga diminta untuk menyusun rencana tindak lanjut masa pemulihan pascapandemi. Dalam konteks sosial ekonomi, para pemimpin ASEAN juga memberikan perhatian khusus pada bidang kelompok yang kurang beruntung seperti UMKM. Kelima, pendekatan terdekat yang melibatkan banyak pemangku kepentingan dan berbagai sektor. Keenam, Menteri Perekonomian ASEAN ditugaskan untuk memastikan konektivitas rantai pasokan agar perdagangan dapat terus berlanjut. Terakhir, dukung redistribusi Trust Fund ASEAN dalam menanggapi wabah virus corona COVID-19.

Dalam KTT 36 ASEAN pada 26 Juni 2020, ASEAN Mencanangkan Hanoi Plan of Action yang berfokus pada penguatan kerjasama ekonomi ASEAN dan konektivitas rantai pasokan menanggapi pandemi COVID-19. Plan of Action ini mengimplementasikan Deklarasi KTT Khusus ASEAN tentang COVID-19 yang diadopsi oleh Kepala Negara/Pemerintah ASEAN pada KTT Khusus ASEAN pada 14 April 2020 lalu, khususnya mandat untuk melaksanakan penguatan Ketahanan Ekonomi ASEAN dalam Merespons Wabah COVID-19 yang dikeluarkan pada 10 Maret 2020. Lalu, Plan of Action ini juga menjajaki pengaturan sementara untuk menjaga konektivitas rantai pasokan selama masa pandemi COVID-19.

Upaya penanganan COVID-19 berlanjut pada saat konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-37 ASEAN yang dilangsungkan secara virtual pada 12 November 2020. KTT ini dihadiri oleh sejumlah pemimpin negara, termasuk Presiden Indonesia Joko Widodo dan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga. Fokus pertemuan ini adalah tentang bagaimana upaya bersama negara-negara ASEAN mengatasi dampak COVID-19.

Di pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kebijakan, antara lain: dengan tersedianya dana tanggap darurat ASEAN untuk COVID-19 bernilai 10 juta dolar, yang berasal dari Jepang, Korea Selatan, China, Singapura, Australia, Inggris, Swiss dan sejumlah negara lainnya. Lalu, juga disetujui kerangka pemulihan yang berisi strategi untuk mengatasi pandemi, baik melalui kerjasama antar-negara ASEAN maupun dengan mitra-mitra lainnya. Lima strategi yang termasuk dalam kerangka kerja ini, yaitu, memajukan sistem kesehatan, memperkuat keamanan manusia, memaksimalkan potensi pasar antar negara ASEAN dan integrasi ekonomi yang lebih luas, mempercepat transformasi digital yang inklusif, dan bergerak menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan berkelanjutan.  negara-negara ASEAN juga secara sukarela menyediakan cadangan perbekalan kesehatan sesuai dengan standar WHO tentang kedaruratan kesehatan.  Dalam pertemuan sebelumnya, ASEAN Tourism Corridor Arrangement (TCA) juga telah berhasil. TCA diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi para pelaku bisnis di negara-negara ASEAN di bawah new normal, dengan tetap memperhatikan kesepakatan kesehatan.

Dengan adanya pandemi COVID19, regionalisme ASEAN ditantang dan dipertanyakan eksistensinya. Dengan berbagai kebijakan dari hasil pertemuan yang dibuat, komitmen negara-negara anggota menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan kawasan ini dalam menangani COVID-19. ASEAN harus mampu membuktikan solidaritas regional dapat diwujudkan dengan memberi prioritas pada negara-negara di kawasan untuk bangkit bersama (Pusat Penelitian Politik, 2020).

Referensi:

Djalante, R., Nurhidayah,L., Lassa,J,, Van Minh., Mahendradhata, Y., Phuong, N., Trias, A., Miller, M,, Djalante,S., Sinapoy, M. (2020). The ASEAN’s responses to COVID-19: A policy sciences analysis. https://doi.org/10.31234/osf.io/8347d

El- Matury, H.J. (2020).Perbandingan Kasus Fatal Akibat COVID-19 di Beberapa Negara Asia Tenggara. Jurnal Inovasi Kesehatan Masyarakat. 1(2), 24-29 http://ejournal.delihusada.ac.id/index.php/JIKM/article/download/251/188/

Pusat Penelian Politik. (2020). Politik Internasional: ASEAN dan Solidaritas Regional Menghadapi COVID-19. http://www.politik.lipi.go.id/kolom/kolom-1/politik-internasional/1359-asean-dan-solidaritas-regional-menghadapi-covid-19

Author:

3 thoughts on “Upaya ASEAN Dalam Menangani Pandemi COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *