Rivalitas Tiongkok Dan Jepang Dalam Institusi Regional Asia Timur

Kawasan Asia Timur merupakan kawasan yang menjadi arena perebutan pengaruh geopolitik atau sering disebut sebagai the grand chessboard for geopolitical struggles. Kawasan Asia Timur menjadi rumah bagi  kekuatan regional seperti Jepang dan Tiongkok serta menjadi arena penyebaran pengaruh kekuatan global seperti Amerika Serikat. Sedikitnya rasa saling percaya antara kedua kekuatan besar tersebut menyebabkan dinamika keamanan dan politik di kawasan menjadi rapuh dan berakibat pada sulitnya membentuk institusi regional di kawasan Asia Timur.

Dua kekuatan regional di kawasan Asia Timur, Jepang dan Tiongkok, memiliki potensi yang besar untuk menjadi pendorong bagi terbentuknya institusi regional di Asia Timur. Jepang sempat mengusulkan untuk membentuk East Asian Community (EAC) untuk menciptakan komunitas berdasarkan nilai-nilai universal dengan sifat keanggotaan tertentu. Tiongkok merupakan inisiator pembentukan free trade agreement (FTA) dengan negara-negara ASEAN pada pertemuan ASEAN Plus Three (APT) tahun 2002 melalui Sino-ASEAN Framework Protocol on Overall Economic Cooperation yang mulai diimplementasikan tahun 2010. Kerjasama ekonomi yang dilakukan oleh Tiongkok-Jepang dalam berbagai forum regional membawa harapan bagi berakhirnya perselisihan yang mewarnai hubungan kedua negara dan memunculkan prospek rekonsiliasi antara keduanya.

Interdependensi yang terjadi antara T iongkok dan Jepang tidak dengan serta-merta menghentikan persaingan perebutan pengaruh antara kedua negara. Persaingan ini diperburuk dengan adanya sejarah konflik yang terjadi diantara kedua negara ini, ketidakpercayaan yang telah mengakar, dan persaingan dalam peningkatan kapabilitas militer yang pada akhirnya membawa pada persaingan yang semakin besar antara keduanya (Buszynski, 2009). Persaingan kepemimpinan antara Jepang dan Tiongkok pada institusi regional terlihat dari adanya upaya Jepang untuk mengintensifkan perannya dalam beberapa institusi regional yang telah ada untuk menghadang kemajuan Tiongkok yang melaju cepat dalam hal ekonomi, diplomasi, dan keamanan di kawasan Asia Pasifik. Sedangkan Tiongkok sendiri menggunakan forum-forum multilateral di kawasan untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan regional baru, apalagi setelah mereka berhasil menggeser Jepang secara ekonomi sejak tahun 2010.

Realisme memiliki beberapa asumsi utama yang mendasari hubungan antara satu negara dengan negara lain. Salah satu asumsi tersebut adalah negara, sebagai aktor utama dan terpenting dalam dunia yang anarki, senantiasa mengedepankan kepentingan nasional. Realisme menganggap negara sebagai aktor yang rasional dan tunggal yang memperhitungkan cost and benefit, dari setiap tindakannya untuk menjamin keamanan nasional. Paradigma ini berfokus pada  struggle of power atau realpolitik. hubungan antara Jepang dan Tiongkok selalu didasari oleh kepentingan nasional masing-masing, khususnya perluasan pengaruh dalam rangka memperoleh power di kawasan.

Menurut Morgenthau, Realisme melihat politik sebagai sebuah area yang berkaitan dengan keinginan untuk memperoleh kekuasaan (struggle for power), termasuk di dalamnya kekuasaan ekonomi (Morgenthau,1993). Dengan begitu, bisa dikatkan bahwa ekonomi tidak dapat dilepaskan dari power dan interest yang dalam pemenuhannya dapat menggunakan segala cara termasuk dengan kompetisi yang dapat berujung pada konflik. Oleh karena itu, persaingan antara Tiongkok dan Jepang dalam institusi regional dapat dilihat sebagai sebuah instrumen untuk mempertahankan power dalam hubungan kedua negara.

Persaingan yang terjadi antara Jepang dan Tiongkok dalam memperebutkan kepemimpinan, untuk mendorong integrasi kawasan Asia Timur dapat dilihat dari peran kedua negara besar itu dalam berbagai forum multilateral seperti ASEAN Plus Three (APT), Six Party Talks (6PT), dan ASEAN Regional Forum (ARF). Di dalam berbagai institusi regional ini, terlihat adanya pengaruh dominan dari Tiongkok maupun Jepang. Contohnya saja, Tiongkok berperan di dalam APT selama ini sangat dominan sehingga seringkali organisasi regional ini dikritik sebagai alat Tiongkok untuk mendapatkan pengaruh di kawasan. Peran Jepang sangat dominan di forum East Asia Summit juga dianggap sebagai perpanjangan tangan kepentingan nasional Jepang yang ingin menjadi kekuatan regional yang unggul secara ekonomi di kawasan.

Rivalitas kepemimpinan antara Tiongkok dan Jepang dalam institusi regional di kawasan Asia masih akan tetap terjadi meskipun kedua negara terlibat dalam hubungan interdependensi yang sangat kuat. Bagi Jepang, perannya dalam organisasi regional merupakan salah satu cara untuk menghadang kemajuan Tiongkok yang pesat dalam hal ekonomi, diplomasi, dan keamanan di kawasan Asia Pasifik. Sedangkan bagi Tiongkok, forum-forum multilateral tersebut sangat bermanfaat untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan regional baru. Tiongkok dan Jepang sama sama  memiliki perannya masing-masing dalam beberapa institusi regional seperti APT, ARF dan 6PT. Dalam forum APT,  Tiongkok sangat berperan besar selama ini dan sangat dominan sehingga seringkali organisasi regional ini dikritik sebagai alat Tiongkok untuk mendapatkan pengaruh di kawasan. Jepang lebih berperan dalam persaingan soft power seperti penyebaran budaya Jepang di Asia Tenggara dan peningkatan peran Jepang dalam misi-misi kemanusiaan. Dalam 6PT dan ARF, peran kedua negara tidak efektif akibat ketidakpercayaan dan perbedaan kepentingan yang muncul. Walaupun kedua negara ini memiliki peran yang sangat penting dalam institusi-institusi regional yang sudah ada, beberapa hambatan membuat kedua negara tidak dapat sepenuhnya dipercaya sebagai pemimpin regional. Untuk kedepan nya kedua negara masih harus berjuang, agar mereka bisa dapat meyakinkan negara Asia Timur lainnya dan mendapatkan kepercayaan dari yang lainnya juga.

Referensi

Buszynski, L. (2009). Sino-Japanese Relations: Interdependence, Rivalry, and Regional Security. Contemporary Southeast Asia, 31(1), 143–71. https://www.jstor.org/stable/41288792

Morgenthau, H. J. (1993). Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace. MacGraw-Hill.

Author:

14 thoughts on “Rivalitas Tiongkok Dan Jepang Dalam Institusi Regional Asia Timur

  1. Good article, rivalitas yang terjadi antara china dan Jepang mempunyai kepentingan masing-masing dalam kawasan regionalnya πŸ‘πŸ»

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *