Politik Hijab dalam Perspektif Feminisme

Terdapat begitu banyak feminisme barat yang percaya bahwa jilbab tidak dipakai karena pilihan, melainkan karena sebuah kekuatan dari asumsi mereka sendiri. Feminisme barat beranggapan bahwa agama Islam adalah agama patriarki dan menindas. Melihat argumen tersebut cukup sempit dalam wawasan feminisme Islam yang sebenarnya. Salah satu nilai inti dari Islam adalah untuk memberdayakan dan melindungi perempuan meskipun sudut pandang ini tidak dapat diterima secara luas oleh komunitas non islam. Gerakan feminisme ini harus menerima perempuan beragama, terutama perempuan muslim, karena tujuannya itu untuk menciptakan penerimaan dan perubahan global. Politik hijab adalah suatu bentuk sikap dari seorang wanita muslim yang menggunakan hijab sebagai identitas mereka dan dengan menggunakan jilbab berarti. Jadi, hijab adalah sebuah sikap politik. Hijab juga memiliki makna yang dipengaruhi oleh keyakinan sosial-politik, hijab tidak hanya mencerminkan iman Islam tetapi juga gaya hidup dan beragam dari para wanita yang memeluknya. Ada banyak alasan mengapa feminisme barat menentang jilbab, termasuk alasan seperti keamanan nasional, dan perjuangan yang seharusnya untuk kebebasan dari tangan agama patriarki. Feminisme secara keseluruhan harus menjauh dari terpaku dengan pakaian wanita dan pindah ke bidang yang memberdayakan semua wanita.

Keamanan nasional telah menjadi pembicaraan yang diperebutkan di media Australia selama beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya ancaman terorisme. Masyarakat di Australia dibuat merasakan seolah-olah mereka sedang berada dibawah suatu ancaman. Jilbab adalah satu-satunya aspek yang lebih terlihat dari orang-orang muslim, dan hal ini menjadikan mereka sebagai incaran orang-orang yang memicu kebencian. Berlawanan dengan kepercayaan yang populer, tidak semua muslim adalah teroris dan tidak semua teroris adalah muslim tetapi dengan media sensasional yang biasa menyebarkan gambar wanita bercadar di negara-negara yang dilanda perang, banyak orang yang merasa sulit untuk percaya (Madadi, 2016, hlm.1). Feminisme barat telah beranggapan bahwa jilbab adalah pengaruh yang penting dalam Islam, dengan wanita yang mengenakan niqab (penutup wajah penuh dan yang terlihat hanya mata) dan burqa (sama seperti niqab tetapi burqa menutupi mata dengan jaring). Australia sendiri mempunyai sejarah yang panjang terhadap ketidakstabilan dengan konsep multikulturalisme, misalnya dengan adanya kebijakan White Australia dan membiarkan orang-orang seperti Pauline Hanson masuk ke dalam pemerintahan dan partai One Nation yang secara aktif mempromosikan kebencian dan rasa tidak percaya terhadap muslim(Poynting & Mason, 2008).

Dengan banyaknya feminisme barat yang menyerukan suatu larangan burqa logikanya menjadi tidak jelas, karena secara realistis sebagian besar seorang wanita muslim di negara-negara barat memilih untuk memakai jilbab dan melarangnya tidak membantu wanita yang dipaksakan untuk memakai jilbab, malah semakin menyakiti mereka karena mereka tidak akan diizinkan bekerja atau mendapatkan pendidikan (Akbarzadeh & Roose, 2011).

Untuk menegakkan sebuah larangan jilbab dan pakaian keagamaan lainnya di dalam lembaga-lembaga publik yang bertentangan dengan hak-hak internasional. Untuk menerapkan agama secara bebas dan juga menyebabkan situasi di mana perempuan muda muslim kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan lebih lanjut (Winter, 2001, hlm.29-30). Logika dibalik gagasan yang menyatakan bahwa pelarangan jilbab/burqa biasanya berasal dari fakta bahwa memang ada beberapa negara yang wajib di bawah paksaan tetapi pelarangan di negara barat tersebut membantu perempuan di negara lain, tidak ada situasi di mana pelarangan pakaian keagamaan akan membantu orang-orang di negara yang tidak melarangnya (Keaton, 2005, hlm.415). Implementasi dari kebijakan seperti pelarangan jilbab di Australia hanya akan meniru reaksi yang terjadi di Perancis, perempuan akan kehilangan hak fundamental untuk bekerja dan mendapatkan pendidikan dan semua feminisme harus peduli dengan itu daripada mendukungnya (Kit, 2014). Wacana dari politik dan feminisme tentang jilbab harus dibatasi dari negara-negara yang memakainya di bawah tekanan dan yang hanya dibicarakan oleh orang-orang yang terkena dampaknya secara langsung. Hal ini bisa memungkinkan kesetaraan di bawah suatu gagasan pembebasan dan kebebasan. Di mana sebuah pemikiran yang bersumber dari sebuah wacana feminisme ini bisa memungkinkan ketidakadilan dan bisa menyebabkan suatu masalah bagi semua wanita. Diskusi mengenai jilbab dihargai dan diterima tetapi pada dasarnya adalah suatu permasalahan dalam islam dan feminisme barat perlu memahami bahwa suatu kebebasan seorang wanita adalah tentang memilih identitas mereka sendiri itu seperti apa dan apa artinya bagi diri mereka.

Referensi

Akbarzadeh, S. & Roose, J. M. (2011). Muslims, Multiculturalism and the Question of the Silent Majority. Journal of Muslim Minority Affairs, 31(3), 309-325. https://doi.org/10.1080/13602004.2011.599540

Keaton, T. (2005). Arrogant Assimilationism: National Identity Politics and African-origin Muslim Girls in the Other France. Anthropology & education quarterly, 36(4), 405-423. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1525/aeq.2005.36.4.405 

Kit, N. (2014). #LifeOfAMuslimFeminit and the Legitimacy of “Muslim Feminists.” MuslimGirl.net. https://muslimgirl.com/lifeofamuslimfeminist-and-the-legitimacy-of-muslim-feminists/

Madadi, Y. (2016). 2016 Is Proving to Be One of the Heaviest Years for Muslims and Sikhs. Medium. https://medium.com/@HijabiHamlet/2016-is-proving-to-be-one-of-the-heaviest-years-for-muslim-and-sikhs-f95bac0b2429#.g0gqbai2c.

Poynting, S. & Mason, V. (2008). The New Integrationism, the State and Islamphobia: Retreat from multiculturalism in Australia. International Journal of Law, Crime and Justice, 36(4), 230-246. https://doi.org/10.1016/j.ijlcj.2008.08.001

Winter, B. (2001). Fundamental Misunderstadings: Issues in Feminist Approaches to Islamism. Journal of Women’s History, 13(1), 9-41. Doi: 10.1353/jowh.2001.0037

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *