Konsep “Trustpolitic” dalam Kebijakan Luar Negeri Korea Selatan Terhadap Korea Utara di Masa Pemerintahan Park Geun Hye

Korea adalah semenanjung dengan luas sekitar delapan puluh lima ribu mil persegi, yang menjorok ke bawah dari bagian timur laut daratan Asia yang luas. Letak Korea itu menyulitkan mereka karena berada di lingkungan yang strategis tetapi berbahaya yang membuat kekuatan-kekuatan besar seperti Cina, Jepang, Mongol telah melakukan banyaknya invasi (Oberdofer & Carlin, 2013). Terjadinya pemisahan bangsa Korea adalah sebuah kenyataan yang tidak pernah diharapkan oleh mereka sendiri, namun merupakan sebuah pengaruh yang berasal dari luar (Hui, 2010). Pasca terjadinya Perang Dunia II, sistem yang dianut dua negara adidaya dunia (Amerika Serikat dan Uni Soviet) berpengaruh besar atas terpecahnya Korea Selatan dan Korea Utara. Pada saat itu, Amerika Serikat berusaha untuk membangun sebuah negara demokrasi di Korea Selatan, dan sebaliknya Uni Soviet berusaha untuk meningkatkan sistem komunisnya di Korea Utara (Suh, 2013). Dampak dari pemisahan Korea tersebut menyebabkan timbulnya ketidakpercayaan dan konfrontasi di antara kedua negara terus meningkat. Dan pada akhirnya membuat para pemegang kuasa dari masing-masing negara, memandang negara satu sama lain sebagai musuh (Hui, 2010).

Perseteruan yang berlangsung sekian tahun lamanya antara Korea Selatan dan Korea Utara di Semenanjung Korea tersebut telah mempengaruhi berkembangnya kebijakan luar negeri Korea Selatan terhadap Korea Utara. Dapat dilihat saat menduduki jabatan presiden Korea Selatan, Park Geun Hye tampaknya sangat berkomitmen untuk melanjutkan usaha para pendahulunya dalam mewujudkan unifikasi, denuklirisasi Korea Utara, dan menangani permasalahan di Semenanjung Korea yang bertahun-tahun terhambat dengan menerapkan sebuah konsep yang dinamakan sebagai pendekatan “Trustpolitic”. Kebijakan yang diserukan Park Geun-Hye, wanita pertama yang terpilih menjadi presiden Korea Selatan ke-18 ini, merupakan cara mengenai bagaimana mendirikan kepercayaan sebagai jalan untuk mengkampanyekan kerja sama institusional pada level yang lebih tinggi dan kolaborasi yang diharapkan kedepannya mampu meraih taraf antar-regional (Yun, 2014). Kebijakan ini adalah strategi yang dilakukan oleh Park Geun Hye yang didasarkan pada tiga hal yaitu pertahanan yang kuat (strong defence), diplomasi yang berdasarkan pada rasa “percaya” (trust diplomacy), dan proses membangun kepercayaan yang dilakukan di Semenanjung Korea (trust process in Korean peninsula) (Cheon, 2013).

Yang pertama yaitu strong deterrence/defense, dapat dilihat dari pernyataan yang sering diucapkan oleh presiden Park Geun Hye yang menyatakan bahwa Korea Utara sebagai negara senjata nuklir, tidak akan pernah diterima dan diakui oleh Korea Selatan, dan selalu mengerahkan segala upaya untuk menegosiasikan kemampuan nuklirnya. Hal ini merupakan asas dari Trustpolitik untuk menghadapi setiap perbuatan pelanggaran yang mengancam perdamaian dengan berdasarkan pada pertahanan yang kuat. Korea Selatan memperkuat kemampuan pertahanannya sendiri dengan selalu sigap dalam pencegahan nuklir untuk menghadapi ancaman nuklir yang tertunda dari Korea Utara. Prinsip kedua yakni diplomasi kepercayaan (trust diplomacy) digambarkan sebagai upaya untuk menciptakan komunitas global yang kooperatif dan terhubung dengan dasar kepercayaan. Menurut Park Geun Hye, dalam hubungan internasional rasa percaya atau trust itu sangat penting, sehingga Korea Selatan selalu berharap akan terciptanya kerja sama yang saling menguntungkan relasi kedua negara. Presiden Park Geun-hye juga mengidentifikasi kepercayaan sebagai dasar untuk kerja sama antar-Korea yang berkelanjutan dan menjelaskan bahwa “Kurangnya kepercayaan telah lama merusak upaya rekonsiliasi sejati antara Korea Utara dan Korea Selatan.” (Kang, 2014).

Trust dipandang sebagai komponen penting yang hilang dalam upaya mencapai tujuan utama di Semenanjung Korea, yang meliputi peningkatan hubungan antar-Korea dan penyelesaian masalah nuklir Korea Utara untuk perdamaian dan stabilitas keamanan. Kemudian, berdasarkan prinsip ketiga (Korean peninsula trust process), gagasan kepercayaan diwujudkan dalam proses kepercayaan di Semenanjung Korea. Pemerintahan yang saat itu baru menjabat pun juga berharap untuk meraih perdamaian yang berkelanjutan dengan mengelola hubungan antar-Korea berdasarkan pembangunan dengan rasa saling percaya. Dalam mewujudkan prinsip ketiga tersebut, ada tiga tahapan yang dilakukan yaitu bantuan kemanusiaan bagi rakyat Korea Utara yang dilanda kemiskinan, pertukaran dan kerja sama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya, serta ‘Vision Korean Project’ untuk mendirikan sebuah masyarakat ekonomi tunggal di semenanjung Korea (Cheon, 2013). 

Dapat disimpulkan bahwa Korea Selatan berupaya untuk mengganti struktur anarki internasional yang awalnya merupakan sebuah konflik menjadi suatu bentuk kerja sama. Dalam hal ini, Korea Selatan mencoba mempersepsikan dirinya sebagai saudara sebangsa Korea dengan mengedepankan trust dan kerja sama dalam hubungannya dengan Korea Utara atau negara lainnya. Melalui Trustpolitic, Korea Selatan saat itu berharap dapat membangun kepercayaan Korea Utara terhadap Korea Selatan dan komunitas internasional terutama untuk menghilangkan identitas Korea Utara sebagai negara yang tidak harus selalu dicurigakan dan tidak dapat ditebak (Fitrah & Ramadhani, 2018). Park Geun Hye juga melakukan berbagai usaha untuk menangani masalah nuklir Korea Utara dengan mengimbangi kerja sama antar-Korea dan kerja sama dengan masyarakat internasional sehingga dapat memperingatkan dan menghalangi Korea Utara dalam pengembangan senjata nuklirnya sehingga denuklirisasi dapat tercapai.

Referensi

Fitrah, E. & Ramadhani, Z. A. (2018). Analisis Pendekatan Trust Politic Korea Selatan dalam Penyelesaian Hambatan Reunifikasi di Semenanjung Korea. Insignia Journal of International Relations, 5(1). 91. http://jos.unsoed.ac.id/index.php/insignia/article/download/1222/998

Kang, S. N. (2014). Building Trust on the Korean Peninsula: An Assessment of Trustpolitik for Inter-Korean Relations, Pacific Forum CSIS, 14(13). 4-5 https://www.csis.org/publication/building-trust-korean-peninsula-assessment-trustpolitik-inter-korean-relations

Oberdorfer, D.,& Carlin, R. (2013). The Two Koreas: A Contemporary History. Basic Books.

Cheon, S. (2013, 6 Mei). Trust – The Underlying Philosophy of The Park Geun Hye Administration. Center for Strategic and International Studies. https://www.csis.org/analysis/trust-underlying-philosophy-park-geun-hye-administration

Hui, M. T. (2010). Reunification of Koreas Is a Major Security Issue on The Korean Peninsula: The North Korean Perspective. (ISDP Occasional Paper). https://isdp.eu/publication/reunification-korea-major-security-issue-korean-peninsula-north-korean-perspective/

Suh, M. B. (2013). A Tale of Two Koreas: Breaking the Vicious Circle. (Semantic Scholar Working Paper No. 156201760). https://www.semanticscholar.org/paper/A-Tale-of-Two-Koreas%3A-Breaking-the-Vicious-Circle-Suh/3f36434ce64b957c7cd38f9c28e21bf62b6e461d

Author:

One thought on “Konsep “Trustpolitic” dalam Kebijakan Luar Negeri Korea Selatan Terhadap Korea Utara di Masa Pemerintahan Park Geun Hye

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *