Kebijakan Politik Jerman dan Politik Hijau

Isu lingkungan hidup pada era 60-70an merupakan isu global yang meresahkan masyarakat dunia. Isu ini mulanya hanya diperjuangkan oleh kelompok minoritas, namun seiring berjalannya waktu menjadi perhatian masyarakat dunia. Gerakan penyelamat lingkungan hidup kian berkembang khususnya di kalangan masyarakat Eropa. Hal itu ditunjukkan dengan gerakan yang mengecam mengenai industrialisasi sebagai pemicu kerusakan lingkungan hidup. Gerakan lingkungan hidup pada era 70-80an mendapatkan respon yang positif dari masyarakat karena mereka mengedepankan kepentingan umum, tanpa pamrih, dan independen. Respon positif dari publik memberi pengaruh politik dan membuat perkembangan gerakan lingkungan hidup berkembang pesat dengan berbagai kegiatan di dalamnya (Sale, 1996).

Lingkungan hidup kemudian merambat menjadi komoditas dalam dunia politik, baik nasional maupun internasional. Politik lingkungan kemudian akrab disebut sebagai Politik Hijau. Awalnya mereka hanya berupa gerakan aksi, kemudian membentuk sebuah lembaga dalam bentuk partai politik. Hal itu disebabkan karena partai politik dinilai mempunyai pengaruh dalam pengambilan suatu kebijakan. Untuk Eropa, perkembangan pesat mengenai Partai Hijau ini yaitu di Jerman (Bundnis 90/Die Grunen). Partai Hijau terus mengalami peningkatan perolehan suara dalam pemilu. Partai Hijau Bundnis 90/Die Grunen berhasil menjadi partai ketiga terbesar pada pemilu tahun 1994 dan menggeser FDP (Freie Demokratische Partei) (European Greens, 2021). Kesuksesan Partai Hijau juga semakin gemilang pada pemilu tahun 1998 dan 2002. Pada kabinet 1998-2002 Partai Hijau memegang 3 kekuasaan di pemerintahan, yaitu Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri (Joschka Fischer), Menteri Perlindungan Konsumen, Makanan, dan Pertanian (Renate Kunast), serta Menteri Lingkungan Hidup (Jurgen Tritin).

Dinamika dari kemunculan Partai Hijau memang cukup kompleks dalam kehidupan politik di Jerman. Politik Hijau dilatarbelakangi oleh keresahan masyarakat mengenai krisis lingkungan sebagai efek dari maraknya industrialisasi serta munculnya kalangan yang memiliki kesadaran terhadap isu-isu lingkungan. Hal itu juga dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap sistem sosialis maupun kapitalis yang tidak mampu memenuhi tuntunan mengenai isu lingkungan. Tuntutan tersebut merupakan perubahan orientasi dari nilai masyarakat materialis menuju masyarakat paska materialis (Apriawan, 2003).

Perkembangan Partai Hijau di Jerman terbilang cukup bagus dibandingkan dengan partaipartai hijau di Eropa lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan keterlibatan anggota Partai Hijau dalam pemerintahan koalisi selama dua periode. Keberhasilan tersbut didasari oleh dua aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal yang dimaksud antara lain sebagai berikut:

1. Komitmen Partai terhadap keberlangsungan ekologi, hal ini sebagai platform utama partai.

2. Komitmen terhadap kesetaraan gender. Partai Hijau bahkan sering disebut sebagai partai feminis, karena sebagian besar dari partisipannya adalah perempuan.

3. Partai Hijau telah mengalami transformasi dan evolusi dalam tubuh partai dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Transformasi yang terjadi yaitu dari partai yang Radikal menjadi partai yang pragmatis serta terlibat dalam pemerintahan, namun tetap mempertahankan identitas, idealisme, serta sifat radikalnya.

4. Munculnya sosialisasi dan pendekatan partai yang lebih inklusif terhadap kelompokkelompok oposisi (pebisnis dan industriawan).

Sementara aspek eksternal mencakup beberapa hal sebagai berikut:

1. Selama perang dunia kedua, di Jerman tidak ada partai sayap kiri. Kehadiran Partai Hijau dinilai memiliki kedekatan secara ideologis.

2. Terdapat kekecewaan terhadap pemerintah yang berkuasa. Hal itu disebabkan oleh sikap pemerintah yang tidak mampu menampung aspirasi yang berupa tuntutan isi lingkungan hidup sebagai dampak dari masyarakat paska industri.

3. Adanya krisis kepercayaan terhadap partai-partai mapan.

4. Adanya isu-isu diluar, domestik maupun internasional yang mendukung keberadaan Partai Hijau. Contohnya skandal keuangan partai-partai Jerman yang melanda CDU, lalu munculnya penolakan Partai Hijau terhadap invasi Amerika Serikat ke Irak yang menyita dukungan publik.

5. Keberadaan Partai Hijau cukup menggolkan kebijakan partai dalam kebijakan pemerintahan.

Jadi, dinamika Partai Hijau Jerman dinilai membawa kesuksesan diantara partai-partai hijau lainnya. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah suara dalam pemilu tahun 2002 dan merupakan perolehan suara tertinggi selama dua puluh tahun berdirinya partai. Serta keterlibatan dalam tubuh pemerintah koalisi menggambarkan bahwa Partai Hijau Jerman mendapat tempat pada partisipasinya.

Referensi

Apriawan. (2003). Dinamika Partai Hijau (Bundnjs 90/Dje Grunen) dalam Kehidupan Politik di Jerman (Sebuah Kajian Politik Hijau di Jerman) [Skripsi, Universitas Jember]. UT-Faculty of Social and Political Sciences. https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/74706

Sale, K. P. (1996). Revolusi Hijau: Sebuah Tinjauan Historis Kritis Gerakan Lingkungan Hidup Di Amerika Serikat. Yayasan Obor Indonesia.

European Greens. (2021). German Greens: Annalena Baerbock Will Run for Chancellor. https://europeangreens.eu/news/german-greens-annalena-baerbock-will-run-chancellor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *