Gerakan Feminisme dalam Dunia Internasional

Ilmu hubungan internasional mempelajari berbagai macam hal, maka dari itu bisa dikatakan sebagai kajian yang kaya dan beragam. Hubungan Internasional juga membuat sesuatu hal dapat dilihat dari berbagai sudut pandang atau bisa dikatakan memiliki berbagai perspektif. Salah satu yang termasuk ke dalam studi ini adalah studi mengenai gerakan feminisme (Yusa, 2021). Feminisme merupakan suatu paham yang digiatkan oleh pada pegiat gender dalam masyarakat. Feminisme berasal dari kata “Femina” yang berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti perempuan. Feminisme muncul pada sekitar tahun 1890-an yang dilatarbelakangi oleh keresahan akibat adanya ketimpangan atau ketidaksetaraan gender antara laki-laki dan perempuan (Purwanti, 2009). Dalam pengertian Internasional, feminisme memiliki arti sebagai sebuah pembeda hak-hak yang dimiliki oleh perempuan berdasarkan dengan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Secara universal, feminisme berorientasi kepada siapapun yang secara sadar berupaya mengakhiri ketimpangan hak yang dimiliki oleh perempuan. Feminisme pada awalnya muncul akibat adanya keresahan masyarakat barat namun pengaruhnya sampai kepada negaranegara lain. Hal ini menjadikan feminisme sebagai suatu filsafat yang mengoreksi pemarjinalan perempuan dalam strata masyarakat dan kehidupan sosial (Amin, 2013).

Sejarah feminisme dalam dunia internasional dimulai sejak tahun 1950-1960an, lebih tepatnya pada tanggal 12 Juli 1963 ditandai dengan adanya gerakan global dengan perempuan sebagai pelopornya. Gerakan ini dilakukan melalui Ecosoc (PBB) kemudian pemerintah Indonesia juga memiliki andil yaitu dengan mengakomodasi gerakan tersebut dengan membentuk Komite Nasional Kedudukan Wanita Indonesia pada tahun 1968. Selepas itu muncul adanya deklarasi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam World Conference International Year of Women PBB yang diselenggarakan di Mexico pada tahun 1975. Kemudian pada konferensi World Conference UN Mid Decaded Women para penggiat gender mulai melakukan optimalisasi peran perempuan dalam segala aspek. Perkembangan selanjutnya yaitu pada Commission on the Status of Women yang diselenggarakan di Vienna pada tahun 1990 melahirkan paradigma baru bagi masyarakat yang bernama GAD (Gender and Development).

Isu utama yang diangkat oleh kaum feminis adalah emansipasi wanita dan suatu individu termarjinalkan. Adapun tema-tema yang diangkat oleh kaum feminisme antara lain:

  1. Kekuasaan Negara

Dalam sudut pandang feminisime, negara adalah patriarki. Hal ini dapat dilihat dari tindakan-tindakan yang berkaitan dengan pengontrolan sekaligus pemaksaan kekuasaan pemerintah yang berkuasa dalam suatu negara. Kaum feminisme melontarkan tuntutan bahwa perempuan juga memiliki hak dan kesempatan untuk ikut terlibat dalam urusan politik suatu negara.

  • Identitas Suatu Komunitas

Penjaminan hak-hak formal sejalan dengan kelangsungan operasi nasionalisme dalam melembagakan laki-laki dan memiliki dampak pada kewarganegaraan kaum perempuan. Meluasnya gerakan feminisme ini menandakan kuatnya kesadaran feminis global dan rasa solidaritas yang kuat.

  • Kelembagaan atau Institusi Dunia

Ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam suatu perusahaan dapat dilihat dari tindakan perusahaan yang seringkali mempekerjakan perempuan dengan biaya yang murah. Hal ini mendasari kaum feminis dalam memperjuangkan hak-hak perempuan yang layak.

  • Kesenjangan sosial

Kaum feminis menolak adanya universalisasi Barat yang terkesan bersifat individualistik dan hanya berdasarkan pengalaman laki-laki borjuis.

  • Konflik dan Tindak Kekerasan

Peran penting kebanyakan hanya diduduki oleh laki-laki. Hal ini membuat kebijakan suatu negara dan ideologi hanya menggunakan maskulinitas laki-laki. Hal ini harus mendasari bahwa perempuan wajib dilindungi, bukannya menjadi korban konflik dan kekerasan.

Feminisme telah memberikan suatu corak baru dalam studi hubungan Internasional. Hal ini membuat analisa hubungan Internasional dapat dilakukan dalam berbagai sudut pandang dan komperehensif. Hubungan Internasional dan Gender bukan hanya sekadar pada perbedaan jenis kelamin semata, dimana seringkali hak-hak perempuan sering mendapatkan diskriminasi. Namun dalam hal ini juga melibatkan pihak-pihak yang sudah termarjinalisasikan.

Referensi

Amin, S. (2013). Pasang Surut Gerakan Feminisme. Marwah: Jurnal Perempuan, Agama Dan Jender, 12(2), 146-156. http://dx.doi.org/10.24014/marwah.v12i2.520

Purwanti, A. (2009). Feminisme Mengubah Masyarakat. Suara Merdeka.

Yusa, M. Y., & Qardlawi, M. Y. (2021). Tawaran Studi Agama Hingga Feminisme Bagi Ilmu Hubungan Internasional. Sriwijaya Journal of International Relations, 1(1 (Juni)), 70-84. http://sjir.ejournal.unsri.ac.id/index.php/sjir/article/view/7

Author:

6 thoughts on “Gerakan Feminisme dalam Dunia Internasional

  1. Artikel tentang feminisme membahas tentang gender atau kesetaraan permpuan dan laki2 cukup menarik di dunia hubungan internasional serta menambah wawasan tentang feminisme

  2. Artikel bagus, kita menjadi tau dan tidak memandang sebelah mata bahwasanya perempuan juga memiliki hak dan jangan sampai termarjinalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *