Dinamika Isu Non-Konvensional: Global Warming dan Tanggapan Dunia Internasional

Hubungan Internasional merupakan suatu kajian ilmu yang terorganisir pada awal abad ke20. Sebelumnya, Hubungan Internasional (HI) terdapat dalam ilmu sejarah. HI muncul terutama setelah Perang Dunia I yang ditujukan untuk mengetahui tindakan pencegahan (preventif) dalam Menghindari terjadinya konflik antar negara-negara di dunia sehingga terciptalah perdamaian dunia (Sayyidati, 2017). Memasuki masa pasca perang dingin, dunia tidak lagi hanya berfokus pada isu konvensional seperti kekuatan militer dan peperangan belaka. Namun, terdapat juga dampak dari isu-isu non konvensional seperti abu-abunya batas kedaulatan suatu negara. Selama Perang Dunia I, Perang Dunia II, hingga Perang Dingin, isu kekuatan militer memiliki andil dan dominasi yang kuat terhadap kebijakan politik negara-negara di dunia (Pratiwi, 2013).

Perjuangan isu-isu non konvensional dalam dunia Internasional telah dilakukan hingga saat ini. Salah satu isu non konvensional tersebut adalah global warming (pemanasan global). Akhirakhir ini isu global warming kian marak menjadi topik pembahasan Internasional dengan serius. Dampak dari pemanasan global yang cukup menakutkan menjadikan kekhawatiran negara-negara di dunia. Hal ini berkaitan dengan perubahan iklim di seluruh dunia akibat adanya global warming. Dunia internasional juga mencanangkan kerjasama dalam mengurangi atau mereduksi efek rumah kaca (Wijoyo, 2012).

 Bertambahnya jumlah populasi manusia menambah deret panjang kerusakan ekosistem bumi. Dengan meningkatnya populasi, hal tersebut juga sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi manusia. Manusia akan cenderung terus-menerus melakukan eksploitasi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Permasalahannya, aktivitas tersebut tidak diimbangi dengan kepedulian terhadap lingkungan sehingga menyebabkan lingkungan menjadi rentan rusak. Sebagai contoh saat ini jumlah hutan di seluruh dunia berkurang secara drastis, padahal hutan merupakan suplai oksigen atau penopang oksigen dunia. Selain itu akibat aktivitas industri, pencemaran marak terjadi baik itu di laut maupun di udara. Limbah aktivitas industri biasanya telah tercemar kandungan logam berat yang sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup. Limbah industri ini menyebar ke negara-negara di seluruh dunia dalam tiap tahun. Kerusakan ekosistem lingkungan bahkan dapat menimbulkan tragedi kemanusiaan seperti pada kasus minamata Jepang yang menewaskan kurang lebih 3000 orang akibat keracunan yang ditimbulkan oleh pencemaran merkuri.

 Pemanasan global merupakan akibat kerusakan lingkungan yang sangat mengerikan dampaknya. Fenomena ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Dampak buruk akibat dari pemanasan global yaitu naiknya suhu di permukaan bumi yang dalam hal ini juga menyebabkan es di kutub mencair. Kejadian ini akan mengancam habitat dari beruang kutub apabila kejadian ini terus berlangsung. Permukaan air laut juga akan terdampak dengan mencairnya es di kutub, yaitu akan semakin naiknya air laut. Hal ini akan berbahaya karena akan mengakibatkan bencana banjir. Untuk itu, berbagai pihak internasional mencoba untuk menghadapi ancaman akibat dampak dari pemanasan global itu sendiri. Dalam agenda politik, upaya mengatasi pemanasan global dilakukan dengan kesepakatan bersama untuk menekan angka pemanasan global. Salah satu kesepakatan tersebut adalah Protokol Kyoto yang berisi kewajiban menurunkan emisi bagi negara-negara industri. Selain itu terdapat juga Vienna Convention for The Protection of The Oxone Layer. Kovensi tersebut diatur dalam Protokol Montreal yang berisi himbauan untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia perusak lapisan ozon. Kesepakatan bersama tersebut nantinya diharapkan untuk benar-benar diterapkan oleh masyarakat global sebagai kontribusi nyata dalam mengatasi dampak buruk akibat pemanasan global. Masyarakat global diharapkan memiliki kesadaran dalam kewajibannya menjaga kelestarian ekosistem lingkungan. Kesadaran masyarakat ini penerapannya dapat dilakukan misalnya dengan mengurangi penggunaan kertas, karena bahan baku kertas diambil dari kayu. Selain itu bisa juga dilakukan dengan hal kecil lain seperti mengurangi penggunaan AC karena di dalamnya terdapat gas yang dapat merusak lapisan ozon (CFC). Kontribusi lainnya yaitu kita gencar melakukan aksi-aksi peduli lingkungan dan mengajak masyarakat luas  untuk memiliki tekad yang tinggi untuk bersama-sama menjaga bumi.

Referensi

Pratiwi, D. A. (2013). Isu Global Warming dan Sikap Dunia Internasional. Jurnal Dimensi, 2(1).1-13. https://doi.org/10.33373/dms.v2i1.141

Sayyidati, A. (2017). Isu Pemanasan Global dalam Pergeseran Paradigma Keamanan pada Studi Hubungan Internasional. Jurnal Hubungan Internasional, 6(1), 38-45. https://doi.org/10.18196/hi.61103

Wijoyo, S. (2012). Dinamika Komitmen Internasional dalam Kerangka Pengendalian Global Warming. Kanun Jurnal Ilmu Hukum, 14(1), 13-35. http://202.4.186.66/kanun/article/view/6197/5093

Author:

8 thoughts on “Dinamika Isu Non-Konvensional: Global Warming dan Tanggapan Dunia Internasional

  1. Artikel yang sangat bagus dirangkum dengan sangat rapi sehingga tidak membosankan untuk dibaca dan mudah untuk dipahami.
    Good job😉

  2. Good article. Isu global warming yang diangkat juga bagus, karna masih banyak orang yang kurang aware dan apatis dengan fenomena ini. Semoga artikel ini bisa menambah kesadaran masyarakat untuk lebih peduli lingkungan

  3. Artikel sangat rapi baik penulisan maupun kata-kata sehingga memudahkan pembaca untuk lebih memahami dan menambah wawasan tentang dinamika isu yg terjadi saat ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *