Wujud Perjanjian IK-CEPA Bagi Indonesia dan Korea Selatan

Korea Selatan dan Indonesia merupakan dua negara yang memiliki hubungan baik dalam banyak aspek salah satunya adalah ekonomi. Indonesia telah menjadi salah satu mitra dagang terbesar bagi Korea Selatan, begitupun sebaliknya. Hal itu mengantarkan kedua negara ini setuju untuk memulai rangkaian kerjasama dalam Indonesia – Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) di tahun 2012. Comprehensive Economic Partnership Agreement Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) merupakan perjanjian perdagangan bebas dalam kerangka kerja sama ekonomi yang berbentuk perjanjian ekonomi dengan sifat menyeluruh meliputi isu investasi, perdagangan, jasa, dan bahkan Intelektual Property Right (IPR). Selain itu CEPA juga memiliki pengertian dalam skema kerjasama ekonomi yang lebih luas, mendalam dan tidak hanya sekedar perdagangan satu bidang. Dengan begitu, CEPA dapat dikatakan sebagai perjanjian ekonomi antar negara yang bertujuan untuk mengurangi dan meningkatkan perdagangan bilateral antara kedua belah pihak. Hal itulah yang membedakan CEPA dan FTA (Ismail, 2018).

Melalui perjanjian IK-CEPA, Indonesia dan Korea berharap dapat memperluas liberalisasi perdagangan dalam aspek perdagangan barang, jasa, maupun investasi serta meningkatkan kerjasama-kerjasama ekonomi lainnya (Ismail, 2018). Perundingan mengenai kerjasama ini akhirnya terhenti selama lima tahun setelah melangsungkan perundingan sebanyak 7 putaran pada periode 2012-2014. Kegagalan Indonesia dan Korea Selatan dalam mencapai kesepakatan setelah menjalani negosiasi  menunjukan adanya kendala dalam perundingan IK-CEPA. Menurut Menteri perdagangan Indonesia pada saat itu, hal utama yang menjadi kendala dalam perjanjian ini adalah tidak tercapainya kesepakatan dalam hal garansi investasi dari Korea Selatan, serta aksi proteksionisme bidang pertanian dari Korea Selatan (Ismail, 2018). Akan tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan perjanjian tersebut pada pemerintahan selanjutnya.

Korea Selatan menjadi negara tujuan ekspor dan asal impor ke-7 bagi Indonesia pada tahun 2018. Di tahun itu, ekspor Indonesia ke Korea Selatan tercatat sebesar USD 9,53 miliar. Sementara impor Indonesia dari Korea Selatan tercatat sebesar USD 9,08 miliar. Dengan nilai tersebut Indonesia tercatat surplus sebesar USD 443,6 juta (Kementrian Perdagangan, 2019). Pada tahun yang sama Indonesia dan Korea Selatan akhirnya sepakat untuk kembali mengaktivasi perundingan IK-CEPA yang kemudian dilanjutkan oleh keputusan Menteri Perdagangan kedua negara dengan meluncurkan reaktivasi perundingan IK-CEPA pada 19 Februari 2019. 

Kedua negara melakukan perundingan ke-8 pada bulan April-Mei 2019 di Seoul yang kemudian dilanjutkan dengan perundingan ke-9 pada bulan Agustus 2019 di Jeju. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mempercepat penyelesaian substansi perundingan IK-CEPA yang ditargetkan selesai pada bulan Oktober 2019. Dalam perundingan tersebut, perwakilan Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo. Sementara itu, Korea Selatan diwakili oleh Yeu Han Koo selaku Deputi Menteri untuk Negoisasi. Perundingan itu berhasil dituntaskan pada putaran ke-10 yang dilaksanakan  di Bali (Pujayanti, 2019).

Pada tanggal 18 Desember 2020, dalam rangka melengkapi penanganan tugas Kementerian Perdagangan untuk menyepakati kesepakatan perdagangan dengan negara lain, perjanjian Indonesia–Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) ditandatangani di Seoul, Korea Selatan. Agus Suparmanto selaku Menteri Perdagangan RI melakukan kunjungan kerja singkat ke Seoul untuk menandatangani IK-CEPA bersama Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi (MOTIE) Korea Selatan Sung Yun-mo. Penandatanganan perjanjian tersebut menambah daftar pencapaian Kementerian Perdagangan pada tahun 2020 di bidang kerja sama perdagangan internasional, dimuali dari implementasi Indonesia–Australia CEPA; ASEAN–Hong Kong, China Free Trade Agreement (AHKFTA); serta ASEAN–Hong Kong, China Investment Agreement (AHKIA); kemudian ditandatanganinya Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP); lalu ditetapkannya oleh Komisi VI DPR RI agar Indonesia– Mozambique PTA dan Protocol to Amend ASEAN–Japan EPA diratifikasi dengan Peraturan Presiden; kemudian Trade Policy Review ke-7 di World Trade Organization (WTO); dan juga penandatanganan IK-CEPA. 

Dalam perjanjian ini, Indonesia akan mengeliminasi tarif untuk beberapa produk seperti gear box of vehicles; ball bearings; dan paving, hearth or wall tiles, unglazed. Selain itu, Indonesia juga akan memberikan preferensi tarif guna memfasilitasi investasi Korea Selatan di Indonesia untuk 0,96 persen pos tarif senilai USD 254,69 juta atau 2,96 persen dari total impor Indonesia dari Korea Selatan. Disisi lain, jika melihat dari nilai impornya, Korea Selatan akan mengeliminasi tarif untuk 97,3 persen impornya dari Indonesia, sementara Indonesia akan mengeliminasi tarif untuk 94 persen impornya dari Korea Selatan. Tidak hanya itu, dalam sektor perdagangan jasa Indonesia dan Korea berkomitmen membuka lebih dari 100 subsektor. Artinya, kedua negara akan meningkatkan integrasi beberapa sektor jasa di masa depan. Misalnya pada sektor konstruksi, layanan pos dan kurir, franchise, hingga layanan terkait komputer; serta memfasilitasi pergerakan intra-corporate transferees (ICTs), business visitors (BVs), dan independent professionals (IPs). 

Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto berpendapat bahwa penandatanganan perjanjian IK-CEPA merupakan tonggak penting dalam hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan. Hal itu didukung oleh fakta bahwa Korea Selatan semakin tertarik untuk menjadikan Indonesia sebagai New Production Base di ASEAN. Ia juga berpendapat bahwa penandatanganan IK-CEPA menunjukan komitmen kedua negara untuk saling mempererat hubungan ekonomi di tengah situasi ekonomi global yang penuh tantangan dalam beberapa tahun terakhir sebelum akhirnya dihadapkan pada situasi pandemi Covid-19. Dalam hal ini, IK-CEPA diharapkan dapat membantu memulihkan ekonomi kedua negara dengan lebih cepat. Melihat dari perjanjian tersebut, IK-CEPA dapat dikatakan membuka babak baru kemitraan kedua negara melalui peningkatan perdagangan barang dan jasa, investasi, serta kerja sama peningkatan kapasitas guna bersama-sama memetik manfaat dari perekonomian global yang diharapkan memasuki tahap pemulihannya tahun 2021. 

Referensi

Ismail, D. M. A. (2018). Pendekatan Behavioralisme dan Kendala Perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA). Jurnal IISIP. 15(2), 33-45. http://dx.doi.org/10.36451/j.isip.v15i2.17

Pujayanti, A. (2019). Potensi Dan Tantangan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Korea Selatan. Jurnal DPR RI. 11(23), 7-12. https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XI-23-I-P3DI-Desember-2019-179.pdf 

Kementrian Perdagangan. (2019). Tingkatkan Hubungan Dagang dan Investasi: Indonesia dan Korea Selatan Aktivasi Kembali IK-CEPA. https://www.kemendag.go.id/storage/files/2019/02/21/tingkatkan-hubungan-dagang-dan-investasi-indonesia-dan-korea-selatan-aktivasi-kembali-ik-cepa-id0-1550716224.pdf

Kementrian Perdagangan. (2020). Indonesia–Korea CEPA:Tonggak Baru Hubungan Ekonomi Bilateral. https://www.kemendag.go.id/storage/article_uploads/y6gvyceDAkZhlgDHnFkJWR3YKZ6jVcr0EoEuDOB5.pdf

Author:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *