Terorisme menjadi Ancaman Besar Bagi Kawasan, Dimana Peran ASEAN?

Terorisme merupakan sebuah tindakan yang melanggar hukum karena dianggap akan mengancam peradaban, aksi terror ini sering kali digunakan untuk mencappaitujuan agama, politis dan tujuan-tujuan yang serupa. Terorisme ini merupakan kejahatan kelas berat dan dapat mengancam human security. Terorisme merupakan sebuah aksi teror yang dilakukan oleh sekalangan kelompok individu yang berdampak pada ketakutan masyarakat. Istilah terorisme ini muncul setelah peristiwa 9/11, yang mana pada saat itu sekelompok terorisme bernama Al-Qaeda menyandera pesawat Amerika Serikat dan menabrakannya ke menara World Trade Centre (WTC) pada tahun 2001. Setelah kejadian tersebut, Amerika Serikat mengkategorikan kejahatan terorisme ini sebagai ancaman keamanan bagi Amerika Serikat yang menduduki peringkat satu (National Security Strategy,2002). Dunia internasional langsung berbondong-bondong untuk meningkatkan keamanan negaranya masing-masing. Pada saat itu masyarakat internasional sangat ketakutan, karena sekelas negara adidaya seperti Amerika Serikat saja bisa lengah dan menjadi korban kejahatan yang sangat keji ini. Namun pada saat itu, isu kejahatan terorisme sudah dibahas lebih dulu oleh ASEAN.
Asia Tenggara menjadi kawasan yang cukup sering mendapat aksi terror, menurut Global Terrorism Database, dari tahun 1970 hingga 2016 terjadi sebanyak 11.453 kasus terror yang terjadi di Asia Tenggara. Hal ini menjadi tekanan tersendiri bagi ASEAN untuk mengurangi atau menangani dengan tegas kejahatan terror ini. Ada banyak kelompok teroris yang sudah melakukan aksi teror di negara-negara kawasan Asia Tenggara ini, contohnya pada tahun 2016 terjadi aksi teror dari kelompok Abu Sayyaf di Filiphina, bom Bali I dan Bali II, peristiwa bom Bali I dan II ini telah menjadi titik balik gerakan terorisme di Asia Tenggara. Kawasan Asia Tenggara menjadi tempat yang strategis bagi para pelaku aksi terror. Tidak aneh lagi jika kawasan Asia Tenggara dijuluki sebagai Second Front dalam Global War on Terrorrism oleh media, politisi dan berbagai cendekiawan (Österlind, 2009). Adanya aksi terror di Hotel JW Marriot dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia. Selain itu keberadaan Malaysia dan Singapura yang juga menjadi jalur transit kelompok terorisme. Juga adanya perkembangan Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Filipina yang juga merupakan salah satu perkembangan terorisme terbesar di kawasan Asia Tenggara. Kejadian-kejadian tersebut sudah seperti sinyal darurat bagi kawasan Asia Tenggara, dan diperlukannya kesiapan yang matang untuk memberantas kejahatan terorisme ini.
Hal ini tidak bisa dibiarkan saja oleh ASEAN selaku organisasi regional Asia Tenggara. Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan dibentuknya ASEAN ini untuk menjaga stabilitas, keamanan dan juga perdamaian di kawasan Asia Tenggara ini. Maka dari itu, ASEAN mengeluarkan beberapa tanggapan terhadap isu terorisme yang sudah mengganggu keamanan negara anggota ASEAN. Diantaranya adalah ASEAN menghimbau kepada negara-negara anggotanya untuk menyetujui ASEAN Convention on Counter Terorism, yang mana berfokus pada lebih mengoptimalkan kerjasama keamanan regional, terutama di 6 level strategis yaitu, pertukaran informasi (melibatkan badan intelijen dan polisi), kerjasama di bidang hukum, kerjasama di bidang penegakkan hukum, pembangunan kapasitas institusi yang diinterpretasi sebagai confidence building measure, pelatihan kontra terorisme bersama antar-pasukan kontra terorisme yang dimiliki oleh setiap negara anggota ASEAN dan juga mencakup kerjasama ekstra regional. Selanjutnya ASEAN Banyak mengeluarkan kerjasama dalam melawan terorisme di Asia Tenggara dengan melakukan pembentukan ASEAN Plan of Action to Combat Transnational Crime pada tahun 2002, Joint Declaration of ASEAN and China on Cooperation in the Field of Non-Traditional Security Issues yang diadakan pada tahun 2002, selanjutnya ada ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACCT) pada tahun 2004. ACCT ini merupakan konvensi terlengkap tentang terorisme yang dikeluarkan ASEAN, karena didalam ACCT ini mencakup pencegahan, penindakan dan juga rehabilitasi kejahata terorisme. Dalam setiap konvensi ASEAN juga selalu disebutkan tentang upaya ASEAN dalam memerangi kejahatan terorisme di kawasan Asia Tenggara ini.
Terorisme merupakan sebuah tindak kejahatan pidana yang sangat membahayakan bagi masyarakat dan harus diberantas sampai habis. Upaya ASEAN dalam mencegah dan juga menangani tindak kejahatan terorisme ini sudah sangat membantu bagi negara-negara anggotanya. Walaupun sebenarnya kejahatan terorisme ini sama dengan kejahatan-kejahatan yang lain, bahwa kejahatan ini sudah ada selamanya dan mungkin akan terus ada (Mueller, 2004: 199). Namun semakin banyak upaya yang dilakukan, tentunya juga semakin memperlebar angka kesuksesannya.

Referensi :
Mueller, J. (2004). The Remnants of War. NY: Conell University Press


Österlind, C. (2009). There Will Be Blood: Southeast Asia as the Second Front on the War on Terror–A case study. Malmö University


National Security Strategy (NSS). (2002). The National Security Strategy of The United States of America. DC: Office of the President

Author: Egha Fauziah

13 thoughts on “Terorisme menjadi Ancaman Besar Bagi Kawasan, Dimana Peran ASEAN?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *