Feminisme di Korea Selatan Masih Jauh dalam Angan

Bahasan dalam hubungan internasional sudah tidak seperti dahulu lagi yang hanya menyorot isu-isu high politic’s saja, beberapa tahun kebelakangan ini isu-isu low politic’s sudah banyak dilirik, salah satunya adalah isu kesetaraan (equality) gender yang mendorong terlahirnya pemikiran feminisme yang mana menjadi bahasan penting dan menarik. Feminisme merupakan pandangan yang menempatkan perempuan sebagai makhluk yang memiliki kebebasan secara penuh dan tidak adanya batasan bagi perempuan itu sendiri. Naomi Wolf berkata bahwa kini perempuan telah memiliki kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta kini saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki (Puspitawati, 2009).
Feminisme menjadi salah satu bahasan yang disoroti oleh banyak kalangan masyarakat internasional. Isu-isu kesetaraan gender dan hak-hak perempuan pada saat ini memang memiliki tempatnya sendiri pada saat ini. Latar belakang munculnya isu kesetaraan gender ini dikarenakan banyak sekali perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Memang pada saat ini sudah banyak hak-hak perempuan yang telah terlaksana, seperti hak dalam sektor pendidikan yang sudah tidak sesulit zaman dahulu.

Namun, bukan berarti seluruh hak-hak perempuan sudah terlaksana. Masih banyak hak-hak perempuan yang masih dianggap remeh dan juga tidak mendapatkan perhatian lebih, atau bahkan masih dianggap tabu oleh beberapa kalangan. Seperti masih adanya pelabelan negatif (stereotipe) yang dialami kaum wanita, seperti pandangan bahwa wanita bukanlah seorang pemikir yang rasional, emosional dan dianggap tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat.
Selanjutnya ada kekerasan, kasus kekerasan yang dialami kaum wanita angkanya masih lebih tinggi dibandingkan dengan kekerasan yang dialami lelaki. Pandangan bahwa wanita merupakan mahluk yang lemah, menjadikan wanita banyak dilakukan dengan semena-mena, karena dianggap sebagai lawan yang mudah. Lalu pandangan bahwa wanita berkodrat untuk mengabdi kepada laki-laki dan mengurus pekerjaan rumah. Hal-hal tersebut yang mnejadikan kedudukan wanita tidak dapat sejajar dengan kedudukan laki-laki. Namun bukan berarti tidak ada kalangan yang menaruh perhatian khusus tentang isu kesetaraan gender ini, sudah banyak kalangan menyadari bahwa isu kesetaraan gender ini menjadi masalah yang sangat penting untuk dilirik dan mulai disuarakan dalam hubungan internasional. Karena dengan adanya ketimpangan antar-gender ini menimbulkan banyak masalah seperti, banyak kaum perempuan mengalami diskriminasi dan selalu menjadi pihak yang lemah dan tertindas, baik di ranah publik, domestik, dan bahkan dalam film sekalipun.
Namun, masih banyak juga kalangan yang masih mengindahkan feminisme ini, salah satunya adalah negara Korea Selatan. Negara yang dikenal sebagai negara demokrasi ini ternyata masih belum bisa melihat kepentingan dari isu kesetaraan gender ini. Korea Selatan merupakan negara penganut paham konfusianisme sejak zaman dahulu yang mana menempatkan perempuan sebagai kaum inferior, sedangkan laki-laki merupakan kaum yang superior.

Paham konfusianisme ini menjadikan Korea Selatan menjadi negara yang sangat amat kental akan budaya patriarkinya. Banyak masyarakat Korea Selatan masih memakai paham ini, fakta bahwa paham ini sudah ada sejak lama ini menjadikan sulit untuk ditinggalkan. Hal ini menjadikan feminisme di Korea Selatan masih jauh tertinggal dan masih dalam bayang-bayang kekuatan patriarki. Namun, ketidakadilan akan gender ini harus diperjuangkan, melalui pembiasaan di masyarakat, baik di lembaga formal maupun informal. Melalui proses pendidikanlah nilai-nilai bisa diperkenalkan, ditransmisikan dan ditransformasikan (Sumbulah, 2008) sehingga masyarakat tidak lagi merasa tabu dengan isu kesetaraan gender ini.
Di Korea Selatan ini sendiri sudah banyak film, serial televisi, buku dan juga public figure yang menyuarakan feminism, membuat masyarakat Korea Selatan semakin sadar bahwa selama ini mereka terkekang dengan budaya patriarkinya yang sangat kental. Sudah banyak wanita di Korea Selatan memperjuangkan hak-haknya, dengan cara memberikan unjuk rasa untuk mengeluarkan pendapatnya, atau yang banyak dijumpai adalah dengan menyuarakan paham-paham feminism di media sosial, yang berisikan bahwa wanita berhak disamaratakan haknya dengan lelaki. Diharapkan kesetaraan gender ini sudah bukan menjadi beban bagi kaum wanita di Korea Selatan dan juga kaum wanita di berbagai belaahn dunia. Semoga kesadaran masyarakat akan kesetaraan gender ini semakin tahun akan semakin besar dengan didukungnya perkembangan pendidikan yang semakin maju dan adanya isu hak asasi manusia yang dilandasi oleh semangat feminisme.

Referensi :
Puspitawati, H. (2009). Teori Gender dan Aplikasinya dalam Kehidupan Keluarga. IPB Press.


Sumbulah, Umi., dkk. 2008. Spektrum Gender: Kilasan Inklusi Gender di Perguruan Tinggi. UIN Malang Press.


Konstruksi Sosial Budaya dan Ketidakadilan Gender di Korea Selatan. (2020). http://psdr.lipi.go.id/news-and-events/opinions-konstrusi-sosial-budaya-ketidakadilan-gender-di-korea-selatan.html

Author: Egha Fauziah

13 thoughts on “Feminisme di Korea Selatan Masih Jauh dalam Angan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *