AFTA: INTEGRASI EKONOMI DI KAWASAN ASIA TENGGARA

Setiap Negara di dunia ini membutuhkan negara lain untuk membantu memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, Negara-negara kemudian melakukan hubungan dengan negara lain dalam berbagai bidang, salah satunya adalah dalam bidang ekonomi, dimana hubungan ekonomi antara satu Negara dengan Negara yang lain akan membentuk suatu sistem ekonomi yang lebih besar yaitu sistem ekonomi internasional. Dalam sistem ekonomi internasional yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman serta perkembangan global saat ini, mulai muncul suatu istilah baru yang dikenal dengan istilah integrasi ekonomi regional. Setiap negara memiliki pengertian tentang integrasi yang berbeda dalam waktu yang berbeda-beda. Menurut (Jovanovic, 2006), Saat integrasi ekonomi internasional menunjuk pada perkembangan dalam tingkat kesejahteraan. Menurut (Dominick Salvatore 1997), integrasi ekonomi adalah suatu kebijakan komersial yang secara diskriminatif mengurangi atau bahkan menghambat penghambatan perdagangan hanya dengan para negara anggota kesepakatan. Dengan demikian integrasi regional berarti suatu kebijakan komersial yang secara diskriminatif mengurangi atau bahkan menghilangkan hambatan- hambatan perdagangan suatu antar negara anggota kesepakatan dalam kawasan tertentu, misalnya saja di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

The Association of South East Asian disingkat menjadi ASEAN, merupakan organisasi regional dikawasan Asia Tenggara. ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967. ASEAN sebagai sebuah entitas pada tahun 1967 dibentuk dengan alasan politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara. Menurut (Narongehai Akrasanee, 2004) Kerja sama politik merupakan agenda utama ASEAN, sedangkan kerja sama ekonomi hanya menjadi senacam “pelengkap” atau “perekat” untuk kerja sama politik pada masa-masa awal. Seiring dengan perkembangan zaman, ASEAN akhirnya lebih berfokus pada pertumbuhan ekonomi, hal ini dikarenakan pesatnya perkembangan perdagangan internasional yang semakin bebas, yang menyebabkan negara-negara anggota ASEAN yang pada umumnya masih merupakan negara berkembang yang merasa belum siap dan memutuskan untuk mulai memfokuskan dirinya pada bidang ekonomi agar tidak tertinggal dan dapat mempersiapkan diri sebelum akhimya benar-benar terjun dalam perdagangan bebas dunia.

Untuk itu ASEAN memutuskan untuk membentuk ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada Januari 1992. AFTA telah membentuk pasar tunggal yang fungsinya menampung produk-produk dari seluruh negara ASEAN, mulai dari barang hingga jasa. Dimana perdagangan dalam AFTA ini dilakukan dengan cara menurunkan atau menghilangkan semua bentuk tarif. Pembentukan AFTA adalah salah satu cara ASEAN untuk melindungi anggotanya dari perdagangan bebas dunia. Dalam AFTA, meskipun disebut perdagangan bebas, tetap memungkinkan negara-negara anggota perdagangan bebas untuk mengenakan tarif impor 1-5%, dan memperkenalkan kebijakan khusus untuk melindungi industri sensitif atau produk dalam negeri. Kegiatan perdagangan antar negara didasarkan pada konsep keunggulan komparatif, memungkinkan setiap negara untuk berpartisipasi, meskipun tidak memiliki keunggulan absolut dalam bidang apapun.

AFTA mulai berlaku pada awal tahun 2015, mewajibkan negara-negara anggota ASEAN untuk memasukkan ekonomi nasional mereka ke dalam sistem perdagangan bebas. Pelaksanaan AFTA bertujuan untuk membangun perekonomian negara-negara anggota ASEAN yang masih lemah. Hal ini tidak terlepas dari permasalahan implementasi AFTA itu sendiri. Artinya, adanya perdagangan bebas diharapkan memberikan dampak positif, selain itu juga memiliki dampak positif. Dampak negatif yang paling terasa adalah persaingan tenaga kerja, pekerja dari satu negara tidak hanya harus bersaing dengan pekerja rumah tangga lainnya, tetapi juga dengan pekerja dari negara lain. Padahal, sebagai negara berkembang, banyak pekerja rumah tangga dari negara-negara ASEAN tidak memiliki keterampilan atau kemampuan khusus, juga tidak memiliki pendidikan yang layak.

Karena negara-negara anggota ASEAN memberikan kesempatan kerja bagi pekerja dari negara-negara anggota ASEAN lainnya, hal ini telah menyebabkan penghapusan pekerja yang tidak berpendidikan atau tidak terampil. Hal ini dikarenakan para pengusaha pada dasarnya akan lebih memilih pekerja yang berpendidikan atau pekerja dengan kemampuan khusus dibandingkan dengan pekerja tanpa pendidikan dan kemampuan khusus. Selain itu, persoalan lain, yakni persaingan untuk menarik investor asing atau investor menanamkan modalnya juga semakin sulit. Hal ini karena semua negara menerapkan pengaturan yang sama, sehingga semakin sulit menarik investor asing bagi negara yang dulu menawarkan insentif khusus untuk menarik investor.

Referensi: 

Akrasanee, N. (2004). ASEAN in The Past Thirty-Three years: Lessons for Economic Co-operation. lnstitute of Southeast Asian Studies. 

Jovanovic, M, N. (2006). The Economics of Internasional Integration. Edward Elgar Publishing.  

Salvatore, D. (1997). Internasional Economics. Prentice Hall-Gale New Jersey. 

Author: Adjie Lionel

Jepang dan negara industri(C)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *