Upaya The Japan Foundation Mempromosikan Budaya Jepang di Indonesia Melalui Proyek Tahunan “Discover Japan” (2014-2016)

The Japan Foundation didirikan pada Oktober 1972 di Jepang hanya sebagai organisasi nirlaba milik pemerintah yang di dedikasikan khusus untuk menangani pertukaran budaya internasional. Tujuan didirikannya The Japan Foundation adalah sebagai pertukaran internasional di bidang kebudayaan, khususnya di masa penjajahan Jepang sebagai pemulihan citra Jepang pasca perang (Lubis, 1981). Dengan tujuan untuk memperdalam rasa saling pengertian di antara masyarakat Jepang dan negara-negara lainnya, The Japan Foundation berupaya untuk mewujudkan berbagai aktivitas serta menyediakan fasilitas dan informasi yang menciptakan kesempatan bagi para individu untuk dapat saIing berinteraksi (Japan Foundation Jakarta, n.d.).

The Japan Foundation berpusat di Tokyo yang memiliki 24 kantor cabang di seluruh dunia. Untuk mencapai misi yang diusung, The Japan Foundation menjalin hubungan baik dan bekerjasama erat dengan Kedutaan Besar Jepang dan Konsulat Jepang di seluruh dunia, institusi bahasa Jepang dan organisasi pertukaran budaya di luar negeri untuk memperluas aktivitas skala global. Sebagai lembaga independen, The Japan Foundation membangun divisi khusus Asia Center pada bulan April 2014 dengan program The Japan Foundation Asia Center (Japan Foundation Jakarta, nd). Program ini memberikan kesempatan bagi negara-negara di Asia, khususnya ASEAN, untuk menggagas dan mewujudkan ide pertukaran budaya melalui proyek kolaborasi. Melalui interaksi dan kolaborasi di bidang pendidikan bahasa Jepang, seni dan budaya, olahraga serta pertukaran intelektual, divisi The Japan Foundation Asia Center berupaya memperkuat hubungan kekerabatan dan keberlangsungan hidup bertetangga di Asia.

Kegiatan The Japan Foundation dalam Promosi Budaya Jepang melalui Diplomasi Publik.

Ada empat tujuan yang bisa dicapai dengan adanya diplomasi publik. Pertama, tingkatkan rasa kekeluargaan dengan negara lain, dengan membuat mereka memikirkan negara lain dan memiliki citra yang baik dari suatu negara. Kedua, meningkatkan penghargaan publik ke negara tertentu, seperti memiliki persepsi positif. Ketiga, memperkuat hubungan dengan orang-orang di suatu negara, misalnya dari segi pendidikan menjadi kerjasama ilmiah, meyakinkan orang-orang di suatu negara untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, menjadi konsumen buatan lokal produk, memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai yang dijunjung oleh aktor. Keempat, mempengaruhi orang di negara lain untuk berinvestasi, dan menjadi mitra dalam politik hubungan. Dalam diplomasi publik ada hubungan antara gambar dan masalah. Setiap negara memiliki banyak masalah yang berbeda dari yang lain. Masalah yang umumnya mempengaruhi hubungan (Leonard, 2002).

Kemudian Jepang mendirikan The Japan Foundation yang melakukan beberapa aksi dalam mempromosikan budaya Jepang di Indonesia seperti “Discovery Japan” adalah proyek tahunan yang diselenggarakan oleh Japan Foundation Kantor Jakarta. Tujuan “Discovery Japan” adalah untuk mengenalkan bahasa Indonesia orang-orang tentang budaya tradisional Jepang seperti Chanoyu, Ikebana, Kimono, dan Origami. Tindakan yang dilakukan oIeh The Japan Foundation membantu memelihara hubungan Indonesia dan Jepang, juga untuk meningkatkan citra positif Jepang.

Ikebana muncul pada praktik agama Buddha abad ke-6 di Jepang. Ikebana adalah seni merangkai bunga Jepang. Ikebana lebih dari sekedar meletakkan bunga dalam sebuah wadah. Ikebana adalah bentuk seni disiplin di mana pengaturannya menjadi penghidupan hal di mana alam dan manusia disatukan. Menurut filosofi Ikebana untuk mengembangkan kedekatan dengan alam. Ikebana adalah ekspresi kreatif dalam aturan konstruksi tertentu. Bahannya adalah bunga. batang, daun, dan cabang (Thespruce.com, nd). Setelah itu diperkenalkan Chanoyu (upacara minum teh), Chanoyu sebagai air panas untuk teh, mengacu pada tradisi menyiapkan dan menyajikan teh hijau bubuk. Seni Chanoyu juga disebut “pertemuan teh” oleh praktisi, menggabungkan unsur-unsur yang meliputi seni terapan, arsitektur, desain lansekap, dan etiket. Melalui Chanoyu, berbagi semangkuk teh menjadi tindakan yang membangkitkan kesadaran diri, kemurahan hati orang lain, dan penghormatan terhadap alam (Asian Art Museum, n.d.). Sejak tahun 2008, The Japan Foundation Indonesia mengadakan kursus upacara minum teh yang diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan dan usia, kesenian ini menjadi sangat populer sehingga kegiatan ini menjadi kegiatan rutin yang diadakan setiap tiga bulan sekali di The Japan Foundation Indonesia.

Kimono adalah pakaian tradisional yang berasal dari Jepang. Kimono adalah pakaian longgar seperti jubah. Kimono bisa dipakai sebagai pakaian luar atau di dalam dan biasanya dipakai pada setiap musim panas, musim semi, dan musim gugur dan di musim dingin (Munstenberg, 1981). Kemudian, Origami adalah seni melipat kertas dan origami secara tradisional terkait dengan budaya Jepang. Kata “Oru” artinya dalam Bahasa Jepang adalah untuk melipat, dan “kami” artinya dalam Bahasa Jepang adalah untuk kertas. Origami sering digolongkan sebagai kerajinan Jepang kuno, karena nama Origami sendiri di ambil dari bahasa Jepang. Orang Jepang menggunakan kertas ke dalam kehidupan sehari-hari yang digunakan dalam arsitektur dan untuk fungsi seremonial (Robinson, n.d.).

Referensi

Leonard, M. (2002). PubIic DipIomacy. The Foreign PoIicy Centre.

Lubis, M. (1981). “Kekuatan yang Membisu: Kepribadian dan Peranan Jepang”. Sinar Harapan.

Munsternberg, H. 1981. “Dictionary of Chinese and Japanese Art”. Hacker Art Books.

Asian Art Museum. (n.d.). Chanoyu: The Japanese Art of Tea. https://education.asianart.org/ resources/chanoyu-the-japanese-art-of-tea/

Japan Foundation Jakarta. (n.d.). About Japan The Foundation. https://www.jpf.or.id/id/

McIntosh, J. (2020, 16 December). What is Ikebana? The Art of Japenese FIower Arranging. Thespruce. https://www.thespruce.com/what-is-ikebana-1316134

Robinson, N. (n.d.). Origami. Britannica. https://www.britannica.com/art/origami/History-of-origami

Author: Nurul Puspita Sari

Mahasiswi kelas Politik Internasional

39 thoughts on “Upaya The Japan Foundation Mempromosikan Budaya Jepang di Indonesia Melalui Proyek Tahunan “Discover Japan” (2014-2016)

  1. Good article and make the new insight for me about the Japan Foundation’s Efforts to Promote Japanese Culture in Indonesia Through Annual Projects

  2. Kultur jepang juga tidak asing dimata masyarakat indonesia karena memang pernah di jajah jepang serta fashion jepang sudah menjadikan trend di dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *