Upaya Peningkatan Kapasitas Kerjasama ASEAN dan Indonesia Dalam Menghadapi Isu Keamanan Kawasan

H00F00Z016 

Dalam ruang lingkup kerjasama ASEAN yang menjadi fokus lebih ke hubungan ekonomi dan sosial budaya, dibandingkan masalah keamanan terkesan dikesampingkan. Menurut Cabalero-Anthony (2015), ASEAN berupaya untuk membentuk kerangka regional yang dapat memberikan dampak terhadap region seperti yang diamanatkan dalam Deklarasi Bangkok. Dalam perkembangannya setelah terjadi banyak peristiwa yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan, maka dibentuklah suatu rezim keamanan secara khusus. Dimana untuk melindungi kawasan ASEAN dari berbagai ancaman, seperti dibentuknya ASC setelah terjadi banyak kejadian aksi peledakan bom dikawasan Asia Tenggara dan ARF yang merupakan upaya multirateralisasi ASEAN untuk melindungi keamanan kawasannya bersama-sama dengan negara-negara Asia Pasifik. Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini kerjasama keamanan bilateral terbilang dianggap tidak cukup untuk menangani peningkatan interdependensi regional dan lingkup ketidakpastian keamanan di Asia Tenggara. Hingga pada akhirnya ASEAN memutuskan untuk membentuk ASEAN Regional Forum (ARF). Pembentukan ARF sebagai upaya multirateralisasi keamanan di Kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya (Luhulima, 1997). Pembentukan ARF didorong adanya perubahan lingkungan regional sehingga dibutuhkan suatu kerjasama multirateral di dalam asosiasi untuk menangani masalah keamanan. Adapun faktor lain yang menguatkan ASEAN untuk membentuk ARF adalah keinginan anggotanya untuk lepas dari ikatan ketergantungan terhadap Cina, Jepang, dan Amerika. Demikian halnya dengan terbentuknya ASC (ASEAN Security Community) dengan tujuan untuk memperkuat kapasitas nasional dan regional guna memberantas terorisme dan kejahatan lintas batas lainnya. Selain itu, ASC juga berfungsi memberikan jaminan agar kawasan Asia Tenggara terbebas dari senjata pemusnah masal. Apabila terjadi perbedaan di kawasan yang dapat mengarah pada konflik, maka ASC harus bertugas meredam perbedaan itu agar tidak menimbulkan konflik, pertentangan, atau bahkan peperangan di kawasan dengan didasari pandangan bahwa keamanan setiap negara saling terkait secara mendasar yang terikat oleh letak geografis, visi, dan tujuan bersama ASEAN.

Pada pembahasan ini akan dibahas tentang upaya Indonesia dan ASEAN dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan kawasan pada saat ini maupun tantangan baru yang akan datang di masa depan. Adapun berbagai upaya peran kerjasama Indonesia dan ASEAN, antara lain :

  1. Indonesia dan ASEAN memastikan sentralisasi ASEAN. Indonesia memiliki peran dalam memastikan sentralitas atau kesatuan ASEAN. Ini dilakukan Indonesia dengan memprakarsai dikeluarkannya Joint Statement of the Foreign Ministers of ASEAN Member States onthe Maintenance of Peace, Security, and Stability in the Region pada Juli 2016 (Welianto, 2020).
  2. Mengoptimalkan Cetak Biru Masyarakat Politik-Keamanan ASEAN yang terdiri atas tiga karakteristik utama, yaitu: Masyarakat yang mengacu pada peraturan dengan kesamaan nilai dan norma (a rules based community with shared values and norms); Kawasan yang kohesif, damai dan berdaya tahan tinggi dengan tanggung jawab bersama untuk menciptakan keamanan komprehensif (a cohesive, peaceful and resilient region with shared responsibility for comprehensive security); dan Kawasan yang dinamis dan berpandangan keluar (a dynamic and outward looking region) (Kementrian Luar Negeri RI, 2015).
  3. Mengoptimalkan perwujudan Masyarakat Politik Keamanan ASEAN didasarkan pada berbagai instrumen politik ASEAN yang telah ada seperti Piagam ASEAN, Deklarasi Kawasan Damai, Bebas, dan Netral (Zone of Peace, Freedom and Neutrality/ZOPFAN), Traktat Persahabatan dan Kerja Sama Negara-Negara ASEAN (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia/TAC), dan Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (Treaty on Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone/SEANWFZ) termasuk Piagam PBB dan prinsip-prinsip hukum internasional terkait lainnya.
  4. Meningkatkan pembangunan politik bagi negara-negara Anggota ASEAN, dalam hal ini negara-negara anggota ASEAN diwajibkan untuk memajukan politik serta mendukung pemimpin ASEAN didalam mencapai Visi bersama dan untuk mencapai perdamaian, stabilitas, demokrasi, serta kesejahteraan wilayah.
  5. Membentuk dan membagi norma, hal ini bertujuan untuk mebuat standar umum atas kepatuhan terhadap norma-norma umum diantara negara anggota ASEAN, guna mengkonslolidasi, memperkuat solideritas ASEAN, serta berkontribusi terhadap pembangunan yang demokratis, toleran, dan menciptakan masyarakat yang partisipatif dan transparan.
  6. Meningkatkan pencegahan konflik, mencegahan konflik ini dilakukan untuk memperkuat keyakinan dan kepercayaan masyarakat, mengurangi ketegangan dan mencegah timbulnya perselisihan didalam negara anggota ASEAN maupun intra-ASEAN.

Indonesia dan ASEAN sebagai penggerak utama ARF dan ASC dalam membentuk rezim keamanan harus mengambil sikap terhadap keberagaman masalah keamanan di kawasan. Dimana sebagai aktor dalam ARF dan ASC, ASEAN harus berperan melakukan konsolidasi di kalangan anggotanya dan peka terhadap perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat tentang masalah terorisme.

Referensi 

Caballero-Anthony, M. (2005). Regional Security in Southeast Asia. ISEAS

Luhulima, C. P. F. (1997). Asean Menuju Postur Baru. CSIS

Kementrian Luar Negeri RI. (2015).  Masyarakat Politik-Keamanan ASEAN. https://kemlu.go.id/portal/i/read/121/halaman_list_lainnya/masyarakat-politik-keamananasean

Welianto, A. (2020, 5 Januari). Peran Indonesia di Asia Tenggara. KOMPAS.com. https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/05/180000369/peran-indonesia-di-asiatenggara?page=all

 

Author:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *