Revolusi Iran: Konfrontasi Iran Dan Amerika Serikat Dalam Joint Comprehensive Plan Of Action (JCPOA)

Hubungan AS-Iran tidak pernah akur sejak Revolusi Islam Iran di tahun 1979. Sebelumnya hubungan mereka sangat dekat yang mana setiap kebijakan yang dilakukan oleh Raja Iran saat itu, Shah Mohammed Reza Pahlevi selalu didukung oleh Amerika Serikat. Dengan kebijakan Shah Pahlevi yang dikeluarkan sangat berbanding terbalik dengan nilai – nilai agama maupun demokratis dalam konstitusi Iran, membuat para oposisi maupun organisasi penentang rezim Shah Pahlevi murka. Puncaknya adalah naiknya harga minyak dan inflasi serta tidak meratanya pertumbuhan ekonomi masyarakat Iran, di tambah lagi dengan sikap rezim Shah Pahlevi yang represif dan berkembangnya anggapan di tengah masyarakat Iran bahwa rezim Shah telah menjadi boneka Amerika Serikat dengan meluasnya sekularisme dan westernisasi di Iran (Abrahamian, 1982).

Ketika revolusi terjadi, mahasiswa Iran beramai – ramai menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran selama 444 hari. Para mahasiswa tersebut menduduki kedutaan yang dianggap sebagai perpanjangan wilayah sama dengan menduduki negara (Tamara, 2021). Peristiwa tersebut, menjadi penyebab konflik AS-Iran yang kita lihat saat ini. AS melancarkan dendamnya dengan melakukan embargo bahwa AS dan sekutunya tidak akan mengambil minyak dari Iran lagi. Tidak berhenti di situ, AS juga menuduh bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir untuk keperluan militer. Iran sebagai negara yang sudah membangun teknologi nuklir sejak lama kemudian menjadi ancaman nyata bagi AS. Tetapi Iran membantah bahwa tenaga nuklir yang dikembangkannya adalah hanya untuk kepentingan sipil yaitu sebagai pembangkit tenaga listrik, riset teknologi dan misi luar angkasa.

Sikap keras Iran membuat negara – negara Barat akhirnya melakukan sebuah upaya dengan mengajak Iran untuk melakukan sebuah perundingan untuk membahas senjata nuklir tersebut. Pada era Barack Obama, Amerika Serikat berhasil membawa Iran ke dalam perundingan. Akhirnya mereka berkomitmen untuk memiliki senjata nuklir yang sebelumnya menjadi polemik bagi negara – negara besar. JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) atau dikenal dengan Kesepakatan Nuklir Iran merupakan jalan keluar yang diambil oleh AS, Inggris, Perancis, Rusia, Tiongkok dan Jerman dalam mengatasi polemik kepemilikan senjata nuklir Iran. Bagi Presiden Obama, kesepakatan ini dinilai sebagai salah satu harapan baru untuk dunia yang lebih aman (Hafezi, 2015). Kesepakatan tersebut juga membuat Iran terbebas dari embargo/sanksi ekonomi yang sebelumnya dilakukan oleh Organisasi Multilateral maupun negara – negara lain akibat pengembangan nuklirnya.

Pada 2018, Trump menjadi presiden Amerika Serikat menggantikan Barack Obama yang masa periodenya telah habis. Dengan terpilihnya Trump terdapat kebijakan – kebijakan yang baru terkait isu nuklir Iran, yang puncaknya pada tanggal 8 Mei 2018 Amerika Serikat secara resmi keluar/menarik diri dari kesepakatan nuklir yang sebelumnya dibangun oleh masa pemerintahan Obama. Keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir dibarengi oleh dilakukannya kembali penerapan sanksi terhadap Iran yang sebelumnya ditarik para era Obama. Menurut Trump, kesepakatan yang membuat terbebasnya Iran dari sanksi ekonomi hanya menguntungkan bagi Iran. Trump bahkan menuduh Iran telah melanggar kesepakatan. Kebijakan Amerika Serikat keluar dari JCPOA memunculkan pertanyaan dasar mengenai apa yang menyebabkan Amerika Serikat mengambil langkah tersebut (Sabur, 2018). Dalam pengambilan keputusan keluarnya Amerika Serikat dari perjanjian JCPOA yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump, keputusannya dilatarbelakangi oleh 3 faktor yaitu nuklir, energy dan foreign policy.

Pertama, masalah nuklir. Amerika Serikat tidak ingin Iran menjadi negara yang dapat menghalangi pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah, seperti halnya kecurigaan Amerika Serikat terhadap Iran yang secara diam-diam mengembangkan senjata pemusnah massa sebagai alat penekan negara lainnya. Iran secara diam-diam melakukan pengembangan nuklirnya yang menjadi salah satu bukti nyata alasan Amerika Serikat untuk keluar dari perjanjian nuklir Iran dan memberikan sanksi tambahan terhadapnya. Hal tersebut menjadi pilihan yang sangat rasional bagi Trump untuk mengutuk perjanjian JCPOA tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa Amerika Serikat keluar dari perjanjian JCPOA yang disebabkan Iran mengotori perjanjian itu secara diam-diam benar.

Kedua, masalah energi. Amerika Serikat tidak menginginkan akan adanya perubahan harga minyak di dunia yang disebabkan oleh Iran. Hal itu didasari karena Iran menjadi salah satu negara produksi minyak bumi terbesar di dunia yang kemudian Iran mendapatkan sanksi dari Amerika Serikat tidak diperbolehkannya Iran mengekspor minyak bumi ke negara – negara sehingga membuat Iran memiliki stok minyak yang sangat melimpah. Jika perjanjian JCPOA tetap dilaksanakan maka segala sanksi yang ditetapkan Amerika Serikat kepada Iran akan dicabut sehingga membuat Iran dapat leluasa menjual minyaknya ke berbagai negara dengan harga yang diluar dari ketentuan harga dari OPEC dan Amerika Serikat, sehingga Iran dapat memainkan instrumen perdagangan nya untuk melemahkan pendapatan Amerika Serikat dari ekspor minyak milik negaranya. Sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat di penghujung tahun 2019 membuat Iran tercekik hingga dapat menurunkan nilai mata uangnya yang dapat memicu inflasi. Dapat juga dikatakan, sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat merupakan sanksi terburuk bagi macroeconomic sebuah negara sehingga dapat dipastikan bahwa Amerika Serikat keluar dari perjanjian JCPOA yang disebabkan Iran memiliki potensi untuk menggoncang pasar energi.

Ketiga, Kebijakan Luar Negeri (Foreign Policy). Amerika Serikat melihat potensi bahwa Iran akan menjadi negara yang memiliki pengaruh di Timur Tengah. Iran terkenal sangat memerangi sekutu Amerika Serikat seperti Israel dan Arab Saudi, sehingga Amerika Serikat merasa khawatir jika Iran menjadi negara besar karena militer dan perekonomian nya. Iran mampu untuk menekan negara-negara yang memiliki hubungan yang tendisius terhadap Iran melalui instrument kebijakan luar negerinya. Iran memiliki potensi untuk menggunakan kebijakan luar negerinya untuk memberikan tekanan terhadap sekutu Amerika Serikat sehingga menyebabkan perjanjian tersebut tidak relevan dengan keharusan Amerika Serikat untuk tetap menjaga Iran dari ambisinya menyerang sekutunya, yaitu Arab Saudi, Uni Emirate Arab, dan Israel.

Referensi

Abrahamian, E. (1982). Iran Between Two Revolutions. Pricenton University Press.

Tamara, N. (2021). Revolusi Iran. Kepustakaan Populer Gramedia.

Hafezi, P. (2015, 14 Juli). Iran deal reached, Obama hails step towards ‘more hopeful world. Reuters. https://www.reuters.com/article/us-iran-nuclear-idUSKCN0PM0CE20150714

Sabur, R. (2018, 9 Mei). Donald trump announces ‘withdrawal’ from iran nuclear deal. The Telegraph. https://www.telegraph.co.uk/news/2018/05/08/donald-trump-announces-decision-iran-nuclear-deal-live-updates/

Author:

16 thoughts on “Revolusi Iran: Konfrontasi Iran Dan Amerika Serikat Dalam Joint Comprehensive Plan Of Action (JCPOA)

  1. Woah it’s such good article!!!
    Penulis mampu menjelaskan secara baik mengenai Revolusi Iran: Konfrontasi Iran dan Amerika Serikat dalam Joint Comprehensive Plan Of Action (JCPOA). Penjelasannya juga diperkuat dengan adanya pengutipan teori pendukung dari beberapa tokoh. Penulis juga berhasil mengajak pembaca untuk ikut berfikir mengenai pendapat yang ia tuangkan ke dalam artikel. Bahasa yang di pakai dalam penulisan artikel ini merupakan bahasa yang mudah dimengerti sehingga inti yang ingin disampaikan penulis dapat di terima dengan mudah oleh pembaca. Jadi, artikel di atas memiliki penyampaian isi dan maksud yang jelas bagi pembaca, khususnya bagi saya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *