Respon Cina terhadap Kebijakan Amerika Serikat atas Taiwan dalam Perlawanan Reunifikasi Cina

Cina merupakan sebuah negara yang berada di Asia Timur dan dalam perkembangannya Cina dianggap menjadi sebuah negara yang berhasil dalam meningkatkan ekonominya dan disebut akan mengalahkan ekonomi dan hegemoni negara superpower seperti Amerika Serikat, walaupun berhasil dalam ekonomi dan memodernisasi negaranya di era Deng Xiaoping namun masih ada masalah internal yang belum bisa diselesaikan Cina yaitu terkait masalah reunifikasi dengan Taiwan atau Republik Cina.

Masalah terkait terbelahnya Cina menjadi republik rakyat Cina dan republik Cina atau Taiwan sebenarnya bisa ditelusuri sejak adanya perbedaan ideologi antara partai komunis tiongkok yang dipimpin mao zedong dan partai kuomintang yang dipimpin oleh ciang kai sek dimana kedua kubu saling berperang dan pada akhirnya yang memenangkan perang adalah pihak dari partai komunis Cina dan menjadikan PKC sebagai pemerintah yang sah dalam mengatur seluruh wilayah Cina dan hal ini juga menyebabkan kuomintang lari ke pulau formosa atau yang dikenal sebagai Taiwan saat ini. Dan setelah kuomintang mundur ke pulau formosa mulai saling terjadi klaim kedaulatan. dalam hal ini partai nasionalis Cina tetap menyatakan bahwa mereka sebagai pemerintahan yang sah di seluruh Cina (Sherridan, 2018).

Bagi Cina penyatuan dengan Taiwan merupakan hal yang sangat sulit karena terdapat hambatan, salah satu hambatannya adalah Amerika Serikat yang akan membantu Taiwan jika secara tiba-tiba Cina menyerang Taiwan dimana hal ini ditunjukan dengan pernyataan dari Geogre W Bush yaitu “The United States would do Whatever it takes to help Taiwan defend herself” . Hal ini seolah menunjukan bahwa Amerika Serikat berpihak kepada Taiwan namun kenyatannya kebijakan Amerika untuk memberi dukungan khusus kepada Taiwan ini sangat bertentangan dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh Amerika dengan Cina dalam Joint Communiqué, yang diratifikasi pada 1 Januari 1979 (Darmawan, 2015).

Joint communique merupakan sebuah perjanjian Amerika untuk hanya mengakui satu Cina saja dan Taiwan merupakan bagian dari daratan utama Cina, sehingga seharusnya Amerika harus dan tidak boleh melakukan kerjasama atau hubungan diplomatik dengan Taiwan tanpa seizin Cina, akan tetapi peraturan tersebut dilanggar oleh Amerika sesaat setelah pembentukan joint communique Amerika membentuk Taiwan Relations Act pada tahun 1979 dan meratifikasi undang-undang tersebut. Dari kesepakatan tersebut juga dimulailah hubungan antara Taiwan dan Amerika Serikat (Darmawan, 2015).

Melalui Taiwan relations act atau TRA, Amerika menjalin hubungan yang tidak resmi dengan Taiwan seperti perdagangan, kebudayaan dan berbagai hubungan lainnya secara tidak resmi. Di dalam TRA juga Amerika menjalankan kebijakan diantaranya: 1. Memelihara dan mengembangkan hubungan kultural, perdagangan dan lainnya secara ektensif dan bersahabat diantara AS dan rakyat Taiwan 2. Mendeklarasikan perdamaian dan stabilitas di area kepentingan politik,keamanan dan ekonomi AS dan di area yang menjadi perhatian internasional 3. Memperjelas masa depan Taiwan ditetapkan oleh jalan damai ;menganggap bahwa usaha‐usaha yang menentukan masa depan Taiwan,selain jalan damai, termasuk boikot atau embargo,merupakan ancaman keamanan dan perdamaian kepada negara‐negara Pasifik Barat dan menjadi atensi khusu bagi AS, 4. Menyediakan persenjataan defensive untuk Taiwan 5. Meyakinkan hak untuk melawan segala macam bentuk serangan atau koersi yang akan mengancam keamanan atau sistem ekonomi dan sosial rakyat Taiwan (Prasetya, 2012).

Berdasarkan kesepakatan TRA tersebut Amerika mulai menjual alutista miliknya ke Taiwan dengan tujuan pertahanan diri bagi Taiwan dimana pada era obama Amerika menjual senjatanya ke Taiwan sebesar 6,4 milyar dolar AS, jumlah itu terdiri dari beberapa macam barang seperti 114 misil patriot dengan harga 2,81 milyar dolar as, Helikopter jenis black hawk seharga 3,1 milyar dolar as dan sisanya digunakan untuk membeli peralatan komunikasi jet F-16 (Prasetya, 2012). Tentu apa yang telah diperbuat Amerika dengan menjual senjatanya ke Taiwan telah mencederai perjanjian joint Sino-US communique dan dikatakan akan mengganggu perdamaian dan stabilitas di kawasan selat Taiwan. Namun demikian Amerika Serikat juga menyatakan bahwa mereka tidak mendukung Taiwan untuk memerdekakan diri secara mandiri dan melakukan separatisme dan apabila Taiwan memliki niat melakukan hal tersebut maka Amerika akan berhenti memberi dukungan apapun kepada Taiwan (Darmawan, 2015).

Cina bagaimanapun tidak akan melepaskan Taiwan begitu saja karena mereka masih bagian dari Cina dan apabila Taiwan lepas maka ini merupakan sebuah pukulan dan kekalahan bagi Cina dan oleh karena itu Cina melakukan sebuah kebijakan dalam menghadapi Amerika terhadap reunifikasi dengan Taiwan yaitu kebijakan defensif. Dalam hal ini Cina lebih mengedepankan dialog dan meningkatkan mutual trust di bidang politik serta mewujudkan kesepakatan pertukaran surat,transportasi dan perdagangan ,sebagaimana meningkatnya hubungan ekonomi dan finansial diantara China dan Taiwan. Dalam menjalankan kebijakan defensif Cina juga menyatakan bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan penyerangan kecuali diserang terlebih dahulu dan tidak berniat mengejar hegemoni dan tidak akan melakukan pendekatan yang bersifat militer dalam melakukan ekspansi. Cina juga tidak akan membiarkan Taiwan mendeklarasikan kemerdekaanya dan akan menggunakan jalur militer. Demi bisa menyaingi Amerika Serikat terkait pemberian bantuan ke Taiwan, Cina melakukan modernisasi militer dan meningkatkan anggaran militernya dalam mencegah konfrontasi dengan Amerika Serikat (Prasetya, 2012).

Apabila dilihat dengan kacamata neorealisme apa yang diperbuat Taiwan dalam melakukan pembelian senjata dari Amerika merupakan sebuah upaya dalam survival di struktur sistem internasional yang bersifat anarki ini dan berusaha mencari keamanan. Amerika juga tentu dengan melakukan kerjasama dengan Taiwan melalui TRA merupakan sebuah strategi mereka dalam mencapai kepentingannya yaitu mencegah dominasi Cina di Asia Timur sehingga bisa dianggap sebagai sebuah deterens dalam mencegah agresi Cina ke Taiwan dan tentu dengan adanya pemberian senjata secara massive oleh Amerika kepada Taiwan akan menimbulkan sebuah konflik baru yaitu perlombaan senjata antara Taiwan dan Cina dan Amerika Serikat akan terseret kedalam konflik tersebut karena sebagai penyuplai senjata bagi Taiwan.

Referensi

Prasetya, D, M. 2012. Strategi Defensif China Dalam Merespon Kebijakan Amerika Serikat Atas Taiwan. Jurnal Studi Hubungan Internasional, 2(1), 60-62. Diakses dari https://www.neliti.com/id/publications/132027/strategi-defensif-china-dalam-merespon-kebijakan-Amerika-Serikat-atas-Taiwan#cite

Darmawan, F, E. 2015. Dampak kerjasama militer Amerika Serikat-Taiwan terhadap hubungan Amerika Serikat-Cina. Jurnal Online Mahasiswa, 2(2), 5-9. Diakses dari https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view /7518

Sheriddan, I. 2018. Hubungan Taiwan dan China dalam status kedaulatan Taiwan. [Skripsi, Universitas sumatera utara]. Repositori Institusi Universitas Sumatera Utara. Diakses dari http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/5593/140906045.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Author:

5 thoughts on “Respon Cina terhadap Kebijakan Amerika Serikat atas Taiwan dalam Perlawanan Reunifikasi Cina

  1. Terima kasih karena telah berbagi pengetahuan mengenai hubungan internasional, bahasa yang disampaikan juga mudah diapahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *