Referendum Kurdistan dan Respon Negara Turki

Wilayah kurdi terdapat di beberapa negara seperti negara Turki bagian Tenggara, Irak pada bagian Utara , Suriah pada bagian Utara dan Soviet pada bagian Selatan. Komunitas Kurdi juga dapat dijumpai di Lebanon, Armenia dan Alzebaijan secara etnis ini memiliki hubungan dengan bangsa Iran. Orang Kurdi memiliki cita-cita untuk mendirikan sebuah suku Kurdi yang otonom dimana tempat tersebut membuat mereka mengatur diri mereka sendiri dan dapat mempertahankan identitas mereka serta memiliki system dan budaya mereka sendiri. System mata pencaharian suku kurdi adalah dengan pertanian dan mengembala yang menjadikan wilayah kurdi menjadi semi eklusif sepanjang sejarah. . Kemudian awalnya masyarakat Kurdi  baru memperjuangkan nasib suku bangsa mereka pada Abad ke XIX tepatnya pada tahun 1880 yang mana pada saat itu terjadinya pemberontakan dipimpin oleh Syaikh Ubaidullah dibawah kekuasaan dinasti Utsmaniah Turki.. Pada tahun 1897 masyarakat Kurdi menerbitkan surat yang diberi nama suku kurdi surat ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi mengenai budaya dan perjuangan bangsa Kurdi yaitu mendapatkan tanah air mereka sejak awal abad XIX. (Berwari & Ambrosio, 2008)

Adanya perjanjian Sevres 1920 yang mana perjanjian tersebut memberikan jaminan berdirinya sebuah negara suku Kurdi merdeka. Namun pada kenyataannya perjanjian tersebut tidak pernah terlaksanakan. Kemudian negara Turki yang merupakan sebuah republic konstitusi yang demokratis, sekuler, dan Bersatu, suku Kurdi yang berada di Turki lebih besar mencapai 20 juta jiwa. Dalam mencapai cita-citanya masyarakat Kurdi melakukan tiga kali pelancaran pemberontakan secara besar besaran pada tahun 1925, kemudian pada tahun 1930 dan tahun 1937. Semua pemberontakan ini kemudian diakhiri dengan kegagalan yang didapat orang Kurdi. Kemudian banyaknya orang Kurdi yang dibantai ataupun dideportasi oleh rezim Ankara. Kurdi yang merupakan salah satu bagian dari keberagaman berabad-abad, Kurdi yang tanah tradisionalnya terletak di sebelah timur sungai Efrat dan di luar wilayah Utsmaniyah yang utama. Daerah Kurdi Sebagian besar otonom dari istambul dan pemimpin daerah yang menguasai tanah ini dibawah ottoman disebut Kurdistan. (Riesa,2018)

Referendum Irak Kurdistan pada senin 25 september 2017 yang mengakibatkan 90% suara dalam mendukung kemerdekaan dari Irakdan telah memicu perdebatan internasional diantara negara tetangga Irak. Respon Turki dalam memandang referendum Kurdistan adalah dengan mengutuk proses suara sebagai illegal dan menganggap bahwa referendum dari Kurdistan ini mengancam keamanan regional Turki dan Irak. Sebelumnya pada akhir Januari 2005 para aktivis dari Kurdi menggelar referendum tidak resmi di Kurdistan Irak Bersama dengan pemilihan majelis nasional Irak. Sebuah referenduk ini meskipun KDP dan PUK sama sama mengutuk adanya referendum tersebut namun mereka  mengizinkan diadakan tetapi menolak untuk memberikan sanksi resmi apapun dan sekitar 98 persen orang Kurdi di Kurdistan Irak memilih mendukung untuk kemerdekaan.Terlepas dari dukungan besar-besaran ini tidak ada Gerakan social masa yang berkembang yang akan merubah.(Berwari & Ambrosio, 2008)

Adapun kepentingan dari Turki yang menyebabkan referendum ini tidak berjalan seperti kepentingan politik Turki, kepentingan ekonomi Turki. Upaya Turki dalam penolakan hasil referendum dianataranya dengan mengintervensi Irak agar tidak mengesahkan hasil dari referendum tersebut kemudian Turki melakukan pemboikotan terhadap minyak dari KRG dan melakukan Latihan militer di dalam wilayah perbatasan. Wilayah Kurdistan tidak nyata nya tidak mendapatkan restu referendum dari wilayah sekitar negaranya. Kepentingan Turki menolak adanya referendum dari Kurdistan adalah karena dianggap sebagai referendum yang illegal dan referendum ini mengancam keamanan regional Irak dan Turki karena sebelum nya Irak dan Turki terlibat Latihan militer dan keduanya melakukan Latihan di perbatasan dan kepentingan ekonomi dari Turki adalah dalam minyak dan gas alam yang mana akan tetap menjadi sumber utama konsumsi energi Turki. Yng kemudian minyak dari Kurdi  menjadi prospek investasi yang sangat menarik bagi perusahaan minyak global. Kemudian adanya kepentingan kemanan Turki dalam referendum Kurdistan ini akan menjadi sumber yang berkepanjangan dan konflik yang tidak terkendali tidak hanya mengirim Irak dalam kekacauan juga mengirim KRG. Turki menilai bahwa konflik ini beresiko tinggi antara perselisihan etnis. Yang nantinya akan memicu pemindahan internal dan arus dari pengungsi ke Turki dimana Turki sendiri juga telah menampung banyak ratusan ribu pencari suaka dari Irak.oleh karena itu Turki ingin menghindari Konflik yang memperburuk karena sparatisme dan Turki untuk mempertahankan hubungan dengan KRG akan terus menekan Erbil melalui jalur diplomasi baik ekonomi maupun politik atau bahkan militer yang memastikan bahwa pemerintah daerahnya menghormati intergritas dan territorial kesatuan dari negara Irak. ( Riesa, 2018)

Referensi

Riesa, L. M. (2018) Kepentingan Turki Menolak Hasil Referendum Suku Kurdi Irak Tahun 2014-2017. Jurnal fakultas ilmu social ilmu politik5(1).1-11. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/19945/19284

Berwari, A & Ambrosio, T(2008). The Kurdistan Referendum Movement: Political Opoortunity Structures and National Identiry. Democratization, 15(5). 891-908 .https://doi.org/10.1080/13510340802362489 

Author:

10 thoughts on “Referendum Kurdistan dan Respon Negara Turki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *