Presiden Donald Trump Menarik Amerika Serikat Dari Paris Agreement: Apa Alasannya?

Isu lingkungan merupakan salah satu isu yang penting dalam Hubungan Internasional dan menduduki posisi ketiga setelah isu keamanan internasional dan ekonomi global. Dalam hal ini, Isu lingkungan menjadi sangat penting untuk dibahas dalam sebuah forum karena tidak dapat dipungkiri bahwa jika terjadi suatu tragedi atau bencana alam di suatu wilayah negara maka akan berdampak pada negara tetangga. Salah satu di antara banyaknya  masalah lingkungan yang ada, terdapat isu lingkungan wajib dibahas yaitu isu perubahan iklim. Untuk mengurangi adanya dampak dari perubahan iklim, maka dibutuhkan suatu hukum dan peraturan yang mengikat berbagai setiap negara agar bersama-sama bertanggung jawab dalam menanggulangi permasalahan perubahan iklim tersebut (Shinta, 2020).

Menanggapi perubahan iklim tersebut, maka dibentuklah Protokol Kyoto yaitu suatu komitmen yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan. Namun, dalam regulasinya Protokol Kyoto masih dianggap belum efektif dan berhasil dalam menangani perubahan iklim yang terus terjadi. Hal ini dikarenakan dalam implementasinya, masing-masing negara tidak dapat berkomitmen secara keseluruhan dan belum adanya hukum yang mengikat (Wahyuni, 2018). Karena dianggap gagal dalam mengatasi masalah perubahan iklim yang terjadi, maka dibentuklah Paris Agreement pada 12 Desember 2015 dan dinegosiasikan oleh 195 negara yang berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Paris Agrerment merupakan  suatu kesepakatan yang membahas tentang perubahan iklim internasional yang berada di bawah naungan UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). Negara maju maupun berkembang diharapkan untuk bergabung ke dalam kesepakatan ini untuk mengatasi perubahan iklim dan mengurangi dampak buruk dari dampak yang dapat terjadi dari masalah bersama tersebut (Shinta, 2020).

Dalam Paris Agreement ini, Amerika Serikat merupakan negara penghasil emisi terbesar kedua (17.9%) di dunia setelah Tiongkok (20%), sehingga dengan tergabungnya Amerika Serikat maka akan menyumbangkan banyak emisi dan dapat menstabilkan iklim dunia. Memasuki era kepemimpinan  Donald Trump, Amerika Serikat mulai mengedepankan agenda-agenda kepentingan politik-ekonomi demi mengembangkan kembali masa kejayaan ekonomi Amerika Serikat, terlihat dari kebijakan kontroversial di era Donald Trump yaitu “America First” dimana kebijakan tersebut sangat berbeda dari kepemimpinan terdahulunya yaitu Obama yang lebih cenderung mengedepankan agenda-agenda yang fokus terhadap kepentingan bersama, seperti halnya isu-isu lingkungan global yang cenderung cukup kooperatif terhadap tatanan dunia internasional (Wahyuni, 2018).

Atas perbedaan pandangan terhadap pengambilan kebijakan inilah yang menjadi salah satu dari beberapa alasan AS keluar dari Perjanjian Paris. Namun, alasan lain atas keluarnya AS dari Kesepakatan Paris, tak lain dan tak bukan adalah untuk kepentingan ekonomi dan politik Amerika Serikat seperti yang telah dipaparkan diatas. Faktor internal yang tampak jelas atas alasan AS keluar dari Perjanjian Paris adalah AS dibawah kepemimpinan Trump berusaha untuk merestorasi industri batu bara. Kepentingan ekonomi menurut Trump adalah suatu pertimbangan yang paling utama untuk diperhatikan, biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk merealisasikan Paris Agreement membuat Trump mengambil sikap terhadap perubahan iklim dan isu lingkungan dengan memandang isu tersebut bukanlah isu-isu krusial dan penting yang membutuhkan perhatian khusus. Bahkan presiden Donald Trump mengubah banyak kebijakan-kebijakan yang telah diambil presiden sebelumnya yaitu Obama terkait lingkungan global dalam merealisasikan Paris Agreement dengan alasan bahwa hal tersebut dapat mengganggu perekonomian Amerika Serikat (Wahyuni, 2018).

Tak hanya itu, alasan lain Trump mengubah kebijakannya tersebut adalah karena Donald Trump lebih mempercayai konsep dimana isu pemanasan global atau Global Warming merupakan kesalahan China yang diciptakan untuk mengganggu perekonomian dan daya saing Amerika Serikat. Saat masa kampanye, Donald Trump berjanji akan merestorasi industri batu bara yang dianggapnya menjadi menurun dan terganggu karena adanya peraturan-peraturan tentang lingkungan hidup global (Wahyuni, 2018). Trump pun menganggap bahwa, Penurunan minat dan daya serap energi batu bara Amerika yang berubah haluan menjadi energi bersih ramah lingkungan yang dimulai di era Presiden Obama, telah melemahkan industri batu bara AS sendiri. Donald Trump juga menganggap bahwa, apabila negara diseluruh dunia tidak lagi menggunakan bahan bakar dan energi konvensional, permintaan dan minat atas bahan bakar energi fosil dan batubara akan menurun yang pada suatu saat dimasa yang akan datang akan melemahkan industri dan pasar Amerika Serikat.

Tindakan yang diambil Trump yang fokus kepada kepentingan ekonomi Amerika karena besarnya kerugian serta industri pasar AS akan terganggu dan terusik oleh peraturan dan kebijakan-kebijakan yang ada di Perjanjian Paris salah satunya adalah mengubah negara di dunia untuk beralih kepada perindustrian dan perekonomian yang ramah terhadap lingkungan global. Atas persoalan dinamikan industri batu bara yang semakin menurun inilah yang menjadi faktor utama dari kepentingan ekonomi AS dibawah kepemimpinan Trump. Tak berhenti disitu, alasan lain keluarnya AS dari Perjanjian Paris adalah untuk mewujudkan Kepentingan Politik Amerika Serikat seperti yang telah dipaparkan diatas. Lantas apa kepentingan politik AS? Kepentingan politik AS mula-mula berasal dari adanya desakan terkait industri energi-energi konvensional melalui perwakilan yang ada di daerah perindustrian ini, desakan-desakan tersebut muncul akibat di masa kampanye nya. Trump menjanjikan untuk merestorasi industri energi konvensional dengan mengatasnamakan masyarakat Amerika banyak yang kehilangan pekerjaan jika Perjanjian Paris dilaksanakan dengan sukses dan sempurna. Desakan-desakan dari pihak konservatif meminta Donald Trump untuk segera menarik posisi AS dari Paris Agreement. Pihak-pihak konservatif mengambil kesempatan ini dan berusaha memajukan kepentingan ekonomi dan industrinya melalui ranah perpolitikan yang sejalan dengan kampanye politik Trump yang berhasil mengambil hati dan simpati masyarakat. Momen yang tepat inilah yang membuat aktor-aktor industri konvensional mendesak Trump untuk segara menarik AS dari Kesepakatan Paris agar kepentingan mereka terlindungi (Wahyuni, 2018). Hal inilah yang membuat Trump bersikeras mengeluarkan AS dari Perjanjian Paris selain munculnya perubahan minat negara di dunia terkait penggunaan energi ramah lingkungan yang mulai meninggalkan energi konvensional yang dapat mengganggu perekonomian dan industry batu bara yang dimiliki Amerika Serikat.

Referensi

Shinta, Fardha D. (2020). Desekuritisasi Isu Perubahan Iklim Amerika Serikat Melalui Kebijakan Penarikan Diri Dari Paris Agreement  2015. Padjadjaran Journal of International Relations (PADJIR), 2(1), 84-104. https://doi.org/10.24198/padjir.v2i1.24010

Wahyuni, H. (2018). Keluarnya Amerika Serikat dari Kesepakatan Paris 2015. eJournal  Ilmu Hubungan Internasional, 6(4), 1787-1806. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2018/11/26.%201102045175%20-%20Henni%20Wahyuni%20(11-14-18-03-49-03).pdf

One thought on “Presiden Donald Trump Menarik Amerika Serikat Dari Paris Agreement: Apa Alasannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *