Persepsi Feminisme Dalam Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dunia Politik

Dalam mengartikan feminisme, kaum feminis sendiri memiliki perbedaan pendapat mengenai hal tersebut, hal ini disebabkan feminisme tidak mengambil dasar konseptual dan teoritis dari rumusan teori tunggal, karena itu, definisi feminisme selalu berubah-ubah sesuai dengan realita sosio-kultural yang melatar belakanginya, tingkat kesadaran, persepsi, serta tindakan yang dilakukan oleh feminis itu sendiri (Ilyas, 1997). Istilah feminisme yang ditinjau secara etimologis berasal dari bahasa latin femmina yang berarti perempuan. Kata tersebut diadopsi dan digunakan oleh berbagai bahasa didunia, terbukti dalam bahasa Perancis, telah digunakan kata femme untuk menyebut perempuan, adanya feminitas dan maskulinitas dalam arti sosial (gender) yang dibedakan menjadi istilah male (laki-laki) dan female (perempuan) dalam arti biologis (jenis kelamin). Dalam hal ini istilah feminisme terasa lebih dekat dengan feminin, sehingga tidak jarang feminisme seringkali diartikan sebagai sebuah gerakan sosial bagi kaum feminin (Nugroho, 2004).

Wolf mengartikan feminisme sebagai sebuah teori yang mengungkapkan harga diri pribadi dan harga diri semua perempuan. Pada pemahaman yang demikian, seorang perempuan akan merasa percaya pada diri mereka sendiri. Sementara itu, Budianta mengartikan feminisme sebagai suatu kritik ideologis terhadap cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas sosial berdasarkan perbedaan jenis kelamin (Sofia, 2009). Feminisme telah dianggap sebagai ide revolusioner dari dunia Barat, yang akhirnya menyebar ke seluruh belahan dunia dan memasuki segala aspek kehidupan. Dimulai dari aspek ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya. Feminisme memunculkan berbagai macam teori dan aliran seperti feminis liberal, radikal, marxis, sosialis, ekofeminis bahkan feminis islam.

Feminisme juga dianggap sebagai sebuah ide serta usaha untuk memperoleh pengakuan persamaan kedudukan, derajat, hak dan kewajiban yang seharusnya didapatkan oleh perempuan, Di Eropa dan AS pada awalnya dan sebelum adanya feminism, kedudukan wanita terlihat sungguh tidak adil dan setara. Sebagai ide dan gagasan, feminisme berusaha membebaskan perempuan maupun laki-laki dari ketidakadilan. Perlakuan terhadap perempuan dianggap tidak adil karena feminisme melihat dunia yang ada sejak dulu hingga kini bersikap seenaknya terhadap wanita yang disebabkan oleh adanya perbedaan gender (gender differences) yang melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities).

Ketidakadilan gender termanifestasi dalam berbagai bentuk ketidakadilan yaitu marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, kemudian anggapan tidak penting dalam keputusan politik. Di dalam bidang politik, Feminisme juga menuntut adanya emansipasi dan juga kesamaan dan keadilan yang setara di antara pria dengan wanita. Keterlibatan wanita kedalam politik sebenarnya bukanlah hal yang asing lagi di dunia ini. Peranan para wanita di dunia, khususnya dalam politik memiliki pengaruh tersendiri, pengaruh tersebut dianggap tidak terlalu berbeda dengan laki-laki yang menjabat pada pemerintahan sebelumnya, bahkan ada mitos yang menyebutkan bahwa suku Amazon memiliki kepala suku, panglima dan pasukan perang wanita.

Tertulis dalam sejarah bahwa Cleopatra sebagai pemimpin Mesir yang terkenal dengan berbagai pesona dan kharismanya telah menaklukkan pemimpin pria dunia yang terkenal dimasanya yaitu: Marcus Antonius dan Julius Caesar. Kemudian St. Joan of Arch adalah wanita pertama yang menjabat sebagai panglima perang dalam Hundred Year’s Wars. Lalu, Wu Chao di China serta Catherine the Great yang berprestasi terlama dalam berkuasa penuh terhadap Rusia dan Eropa. Pada zaman sekarang, ada Ratu Elizabeth serta ratu-ratu lainnya yang berhasil menjabat dan mengendalikan perpolitikan yang ada di dunia.

Selama ini dalam kacamata gender dan feminisme, muncul anggapan bahwa keterlibatan wanita sebagai pemimpin negara, maupun kedudukan strategis lain secara langsung dalam pengambilan kebijakan pemerintahan dapat menghasilkan jalan keluar bagi permasalahan wanita yang ada. Namun ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang dirasakan wanita belum kunjung hilang hingga kini, permasalahan pun menjadi lebih kompleks. Di dalam perpolitikan, memang sudah banyak wanita-wanita yang menduduki dan menjabat jabatan tinggi di dalam pemerintahan, namun gender inequality tetap tidak terhindarkan.

Dapat dilihat melalui Map yang digambar oleh Inter-Parliamentary Union (IPU) bersama UN Women, di lihat bahwa pada tahun 2021 perkembangan perempuan yang memegang jabatan telah melambat, dengan hanya sedikit peningkatan menjadi dari 21,3 persen pada tahun 2020 menjadi 21,9 persen pada tahun 2021, kemudian jumlah negara tanpa perempuan dalam pemerintahannya pun telah meningkat; dan hanya 25,5 persen anggota parlemen nasional adalah perempuan, dibandingkan dengan 24,9 persen pada tahun sebelumnya (UN Women, 2021). Kekerasan perpolitikan pada wanita juga tidak terhindarkan, jika dilihat melalui kasus Elisa Zepeda Lagunas, seorang aktivis perjuangan hak perempuan asal Mexico yang mengalami kekerasan dalam rangka untuk menghentikan aksinya dalam memperjuangkan hak perempuan dan mencalonkan diri menjadi walikota Eloxochitlán de Flores Magón, di Distrik Teotitlán, Negara Bagian Oaxaca, Meksiko 2016 silam.

Amerika Latin yang memiliki 32 persen wanita yang menduduki pemerintahan telah memberlakukan undang-undang pemilu kesetaraan gender, namun hambatan pada masing-masing negara kawasan masih sangat terlihat, karena upaya untuk mencapai kesetaraan gender dinilai dapat membahayakan perempuan, karena banyak calon pemimpin dan kandidat terus menghadapi kekerasan dan intimidasi layaknya Elisa. Kekerasan politik yang menargetkan perempuan dilakukan secara berbeda di seluruh dunia karena bervariasi menurut wilayah, latar konflik dan non-konflik, di dalam dan di luar siklus pemilu. Menurut Dr. Kishi, UN Women menangkap beberapa jenis kekerasan seperti serangan non-seksual yang menargetkan perempuan karena penistaan agama, serangan militer negara terhadap perempuan pembela HAM, kemudian kekerasan seksual yaitu perkosaan masa perang atau kasus pemerkosaan pendukung oposisi, kemudian berbagai bentuk ledakan dan kekerasan jarak jauh seperti pemboman sekolah anak perempuan dan granat dilemparkan ke jurnalis perempuan (UN Women, 2021).

Dengan tujuan untuk mengakhiri semua bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di tahun 2030, Uni Eropa dan PBB telah bekerja sama sejak 2017 untuk memberdayakan, mempromosikan, dan melindungi hak-hak perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia. Spotlight Initiative adalah program senilai EUR 500 juta yang menyebarkan investasi berskala besar yang ditargetkan di Afrika, Asia, Karibia, Amerika Latin, dan Pasifik. Dalam hal ini, Global Spotlight Initiative akan mendorong tindakan UN Women untuk mengubah hukum, memperkuat institusi, mempromosikan norma baru, dan menyediakan data dan layanan yang lebih baik untuk mengakhiri kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan.

Dorongan lain adalah pada pemilu, UN Women akan bersekutu dengan gerakan perempuan dan organisasi masyarakat sipil untuk menempatkan kekerasan berbasis gender dan femisidal sebagai pusat perdebatan politik dan kesadaran publik. Di bagian lain dunia, Spotlight mendukung advokasi untuk memperkuat undang-undang yang melindungi perempuan dari kekerasan dengan memperluas jangkauan komunitas-komunitas wanita dan anak perempuan dalam negri hingga kota sehingga akan lebih banyak lagi yang akan mengklaim hak-hak mereka dan melaporkan kasus kekerasan yang akan segera diselesaikan dengan adil.

Referensi

Ilyas, Y. (1997). Feminisme Dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik Dan Kontemporer. Pustaka Pelajar.

Nugroho, H. W. (2004). Diskriminasi Gender (Potret Perempuan dalam Hegemoni Laki-laki). Hanggar Kreator.

Sofia, A. (2009). Aplikasi Kritik Sastra Feminisme ”Perempuan Dalam Karya-Karya Kuntowijoyo”. Citra Pustaka Yogyakarta.

UN Women. (2021). Mexico joins Bolivia in efforts to stop violence against women in politics.
https://www.unwomen.org/en/news/stories/2021/3/feature-mexico-joins-bolivia-in-efforts-to-stop-violence-against-women-in-politics

UN Women. (2021). Women in politics: 2021. UN Women Publishing.
https://www.unwomen.org/en/digital-library/publications/2021/03/women-in-politics-map-2021

Author:

10 thoughts on “Persepsi Feminisme Dalam Kekerasan Terhadap Perempuan Di Dunia Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *