Perkembangan Kebudayaan Perfilman Korea Selatan di Asia Tenggara

Pada era globalisasi saat ini negara sudah tidak memiliki batasan (borderless). Dengan meningkatnya teknologi saat ini memudahkan kebudayaan negara lain masuk dan bercampur ke negara hingga kawasan lainnya. Korea Selatan yang dikenal sebagai negara yang maju dan memiliki kemajuan teknologi yang cukup pesat telah berhasil memanfaatkan globalisasi menjadi media untuk mengembangkan soft power-nya ke negara lain. Salah satu bentuk soft power yang digunakan Korea Selatan adalah diplomasi kebudayaan. Korea Selatan menggunakan diplomasi kebudayaan sebagai strategi diplomasinya. Pengaruh kebudayaan Korea Selatan telah menyebar hingga ke kawasan Asia Tenggara, bahkan kebudayaan Korea Selatan berhasil menunjukkan pengaruh yang sangat kental dalam menggeser tren konsumen Asia Tenggara. Hal ini dapat terjadi karena kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu target utama Korea Selatan dalam melakukan diplomasi budayanya.

Penyebaran kebudayaan Korea Selatan ke negara-negara lainnya berawal sejak tahun 2002 tepatnya ketika piala dunia berhasil dilakukan di Korea Selatan. Sejak peristiwa tersebut, perfilman dan drama Korea telah berhasil diterima dan ditayangkan di televisi-televisi nasional negara lain. Kemudian, semakin berkembang dengan diikuti masuknya industri musik Korea Selatan atau yang kita kenal sebagai K-Pop (Islamiyah dkk, 2020). Dalam kawasan Asia Tenggara, Vietnam menjadi negara yang paling awal mendapatkan pengaruh Korean Wave ketika drama Korea berhasil masuk pada tahun 1990-an (Suryani, 2015). Di Indonesia telah berkembang istilah Korean Wave atau Hallyu yaitu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan kebudayaan Korea Selatan seperti acara televisi, serial drama, film, musik, tari-tarian modern, makanan, bahasa, video game hingga produk kecantikan (Jang & Paik, 2012). Serial drama Korea yang pertama kali ditayangkan di Indonesia adalah Mother’s Sea di stasiun televisi nasional Trans TV, kemudian diikuti dengan disiarkannya Endless Love di stasiun televisi nasional Indosiar (Astuti, 2017). Lalu, hal ini terus berkembang hingga muncul penyedia layanan video on demand (VOD) di Indonesia seperti iFlix, VIU, Netflix, IQIYI dan WeTV. Kehadiran aplikasi tersebut semakin memudahkan masyarakat dalam mengakses serial drama Korea. 

Berkembangnya Korean Wave di Asia Tenggara tak lepas dari adanya peran media lokal yang menjadikan Korean Wave sebagai tren lokal dalam konsumsi media nasional. Media lokal juga turut mengambil peran dalam memfasilitasi pertukaran budaya lintas batas. Perkembangan Korean Wave semakin terlihat ketika produser-produser media di Asia Tenggara mengikuti standar produksi yang ditetapkan oleh produser media Korea Selatan. Kemudian, produser-produser media di Asia Tenggara mengadopsi konten Korean Wave untuk menghasilkan musik, program televisi dan film lokal. Salah satu contohnya yaitu stasiun televisi di Vietnam yang menyiarkan serial drama Korea Selatan untuk memenuhi waktu siaran yang secara bertahap dideregulasi. Stasiun televisi lokal di Asia Tenggara lainnya seperti Media Corp di Vietnam dan ABS-CBN di Filipina juga mengimpor konten Korea Selatan dan menyiarkannya selama berjam-jam. Salah satu faktor stasiun televisi lokal mengimpor serial drama Korea Selatan adalah harga yang mahal serta sulitnya mengimpor film Hollywood, drama Hong Kong dan China pun dikategorikan cukup mahal. Oleh karena itu, serial drama Korea Selatan menjadi pilihan bagi produser-produser media di Asia Tenggara (Peichi, 2013).

Pengaruh perfilman Korea Selatan semakin kuat dengan terjadinya nasionalisasi kebudayaan Korea Selatan dalam produksi konten media nasional. Salah satunya film Thailand yang berjudul Hello Stranger (2010), film tersebut merupakan film komedi romantis yang menceritakan kisah tentang seorang pria dan wanita asal Thailand yang bertemu secara tidak sengaja selama perjalanan mereka ke Korea Selatan. Keseluruhan cerita film tersebut pun bercerita dan diambil di Korea Selatan. Sejak ditayangkan, film Hello Stranger berhasil mencetak rekor sebagai film Thailand yang sukses dalam sejarah dan berhasil hingga ke negara-negara lainnya seperti Indonesia, Singapura, Filipina dan Korea Selatan. Kesuksesan film tersebut menandai pergeseran tren perfilman di Thailand yang berada di bawah pengaruh Korean Wave (Peichi, 2013). Film ini juga menunjukkan selera penonton lokal terhadap Korean Wave cukup besar dan terus meningkat.

Dalam perkembangannya, Korea Selatan berhasil memadukan nilai Timur dan Barat sehingga menjadi sesuatu yang bernilai “Korea” yang memiliki keunikan, terlihat lebih segar dan orisinil dengan nilai budaya khas Korea yang kuat. Hal ini menjadi salah satu faktor serial drama maupun film Korea dapat diterima baik di kawasan Asia Timur hingga ke kawasan Asia Tenggara. Selain itu, industri perfilman dunia yang telah lama didominasi oleh hiburan ala barat membawa angin segar dengan kemunculan wajah-wajah dan ciri khas yang baru dari Asia. Bagi Asia, kemunculan Korean Wave ini dianggap tidak mengancam karena berasal dari Asia sendiri sehingga hal tersebut memudahkan budaya Korea tersebut masuk. Tidak hanya itu, Korean Wave juga dianggap mampu mewakili Asia di industri global. Di Indonesia, meningkatnya minat masyarakat dalam menonton serial drama Korea dipengaruhi oleh kualitas yang dimiliki Korea Selatan dalam mengemas drama-dramanya yang cenderung lebih baik dibanding industri drama Indonesia. Dalam mengemas drama-dramanya, Korea Selatan mengangkat tema yang jelas serta penulisannya didasarkan pada riset yang mendalam. Selain itu, drama Korea umumnya dikemas dalam 16 hingga 20 episode, sehingga setiap drama yang disajikan memiliki alur yang padat dan jelas. Hal ini berbanding terbalik dengan sinetron Indonesia yang umumnya memiliki episode yang sangat panjang dan alur cerita yang melebar jauh.

Dampak globalisasi serta peran media lokal yang menjadi wadah dalam memfasilitasi pertukaran budaya lintas batas menyebabkan Korean Wave berhasil berkembang di Asia Tenggara. Semakin meningkatnya minat Korean Wave tentu akan menggeser tren konsumen di negara-negara Asia Tenggara. Oleh karena itu, produser media lokal yang melihat minat pasar yang sedang populer tentu akan menyebabkan masuknya konten media Korea Selatan guna memenuhi permintaan pasar. Kemudian, konten media Korea Selatan akan bercampur dengan konten lokal di negaranya. Hal ini kemudian menciptakan tampilan dan nuansa ala Korea di dalam kebudayaan mereka sendiri. Melihat hal tersebut, hal ini tentu akan menimbulkan ancaman baru bagi pemerintah untuk perlu mengkaji ulang representasi dari identitas konten media lokal. Selain itu, krisis identitas dan lunturnya minat pada kebudayaan nasional juga menjadi perhatian yang perlu segera diatasi oleh pemerintah. Namun, kehadiran Korean Wave juga berperan dalam meningkatkan standar perfilman di negara-negara Asia Tenggara sehingga bukan hal yang tidak mungkin produksi film negara-negara di Asia Tenggara juga dapat menyebar hingga ke kawasan lainnya.

Referensi

Islamiyah, A. N., Priyanto, N. M., & Prabhandari, N. P. D. (2020). Diplomasi Budaya Jepang dan Korea Selatan di Indonesia tahun 2020: Studi Komparasi. Jurnal Hubungan Internasional13(2), 257-278. https://e-journal.unair.ac.id/JHI/article/download/21644/12795

Jang, G., & Paik, W. K. (2012). Korean Wave as Tool for Korea’s New Cultural Diplomacy. Advances in Applied Sociology, 2(3): 196-202. http://dx.doi.org/10.4236/aasoci.2012.23026

Peichi, C. (2013). Co-creating Korean wave in Southeast Asia: Digital convergence and Asia’s media regionalization. Journal of Creative Communications8(2-3), 193-208. https://doi.org/10.1177%2F0973258613512912

Suryani, N. P. E. (2015). Korean Wave Sebagai Instrumen Soft Power Untuk Memperoleh Keuntungan Ekonomi Korea Selatan. Global: Jurnal Politik Internasional16(1), 69-83. https://doi.org/10.7454/global.v16i1.8

Astuti, L. D. P. (2017, 25 Oktober). Drama Korea Menjadi Tayangan Favorite Generasi Z dan Milennial. Viva.co.id. https://www.viva.co.id/showbiz/serial/970591-drama- korea-jadi-tayangan-favorit-generasi-z-dan-millennial

Author:

2 thoughts on “Perkembangan Kebudayaan Perfilman Korea Selatan di Asia Tenggara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *