Perdagangan Ilegal Trenggiling di Asia Tenggara

Pasca Perang Dingin, isu-isu keamanan non-tradisional (Non-Traditional Security/NTS) muncul sebagai tantangan bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat serta berbagai negara di kawasan Asia Tenggara. Keamanan non-tradisional berfokus pada ancaman non-militer salah satunya yaitu kelangkaan sumber daya (Caballero-Anthony, 2016). Kelangkaan sumber daya dipahami sebagai suatu kondisi di mana permintaan konsumen melebihi ketersediaan pasokan sehingga berdampak pada penurunan sumber daya yang ada. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan sumber daya tak terbarukan atau sumber daya terbarukan yang tidak diolah dengan baik. Kelangkaan sumber daya bukan hanya berupa hasil tambang saja, tetapi juga kelangkaan sumber daya biotik khususnya fauna atau satwa. 

Di kawasan Asia Tenggara, kelangkaan satwa disebabkan oleh adanya deforestasi. Deforestasi dianggap sebagai ancaman utama bagi kepunahan satwa liar karena telah menghilangkan habitat untuk jutaan spesies satwa dan memperburuk perubahan iklim. Penyebab lain yaitu adanya perdagangan ilegal satwa liar untuk kebutuhan sehari-hari, pengobatan alternatif, hewan peliharaan dan pernak-pernik (Hance, 2019). Perdagangan satwa liar merupakan pusat dari konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan yang secara nasional telah membantu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat (Nijman, 2010). Meskipun begitu, kegiatan ini dianggap merugikan dan melanggar hukum yang ada. Sehingga beberapa konsensus dan organisasi konservasionis telah diluncurkan untuk melindungi spesies yang hampir punah beserta habitatnya. Sementara di Asia, perdagangan satwa liar telah diatur melalui kerangka Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yang telah diratifikasi oleh seluruh negara di kawasan Asia Tenggara. 

Sejak awal didirikannya, CITES telah memberikan perlindungan kepada lebih dari 37 ribu spesies hewan dan tumbuhan yang dibagi berdasarkan 3 kategori, yaitu Appendices I, Appendices II dan Appendices III. (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora, n.d.).  Salah satu satwa yang dilindungi oleh CITES yaitu Trenggiling Jawa (Manis Javanica). Meskipun kata Javanica merujuk pada Pulau Jawa, tetapi penyebaran spesies ini juga meliputi beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Laos dan Brunei Darussalam. Selama bertahun-tahun, spesies ini menjadi sasaran utama bagi para pemburu dan penyelundup. Berdasarkan data dari Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia, jumlah trenggiling yang diselundupkan ke Tiongkok mencapai 26 ribu ekor selama sepuluh tahun terakhir. (Nuswantoro, 2020). Sementara pada tahun 2017, TRAFFIC sebagai LSM Internasional yang memantau perdagangan satwa liar melaporkan bahwa setidaknya sekitar 47 ribu trenggiling utuh disita oleh 67 negara. Bahkan studi tersebut juga menemukan bahwa penyelundup bergerak dengan sangat cepat menggunakan lebih dari 150 rute dan terus menambah rute baru setiap tahun (Law, 2018). 

Trenggiling merupakan satwa yang dari kepala hingga kukunya tertutup sisik yang mengandung keratin, di mana keratin berguna bagi penyusunan kulit, rambut dan kuku pada manusia. Selain itu, di daratan Tiongkok sisik trenggiling sangat diminati dan bernilai tinggi karena dianggap ampuh dalam menyembuhkan penyakit. Satu keping sisik trenggiling bisa dihargai US$ 5, sementara trenggiling utuh harganya bisa mencapai US$ 600. Pada awal bulan Juni lalu, Pemerintah Tiongkok telah menghapuskan trenggiling dari daftar resmi Traditional Chinese Medicine (TCM), tetapi masih ada delapan obat paten dalam katalog Pharmacopoeia 2020 dan 72 produk TCM di luar katalog tersebut yang mengandung sisik trenggiling, serta masih bisa diperjualbelikan secara legal di Tiongkok (Nuswantoro, 2020). 

Meskipun perdagangan segala jenis Trenggiling Jawa telah dilarang oleh CITES dengan menerapkan kuota nol (zero quota), namun di masa pandemi seperti saat ini perdagangan satwa tersebut masih terus berjalan dan cenderung meningkat. Dilansir dalam situs lingkungan pada tahun 2020, tim gabungan dari Centre for Orangutan Protection (COP), Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) LHK Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara, serta Polda Yogyakarta telah menangkap seorang pedagang sekaligus pemburu trenggiling di Gunung Kidul, Yogyakarta. (Nuswantoro, 2020). Padahal beberapa ahli telah menegaskan bahwa mengkonsumsi satwa liar seperti trenggiling dapat menimbulkan penyakit zoonis seperti MERS, SARS dan Covid-19. (Pratiwi, 2021).  

Referensi 

Caballero-Anthony, M. (2016). An Introduction to Non-Traditional Security Studies: An Transnational Approach. Sage Publications.  

Nijman, V. (2010). An Overview of International Wildlife Trade from Southeast Asia. Biodiversity and Conservation, 19, 1101-1114. https://doi.org/10.1007/s10531-009-9758-4 

Pires, F. S., & Moreto, W. (2016). The Illegal Wildlife Trade. Oxford Handbooks Online, 1-41. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199935383.013.161 

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. (n.d.). What is CITES?. https://cites.org/eng/disc/what.php 

Hance, J. (2019). Asia Tenggara, Wilayah dengan Laju Kepunahan Satwa Tertinggi di Dunia. Mongabay. https://www.mongabay.co.id/2019/12/15/asia-tenggara-wilayah-dengan-laju-kepunahan-satwa-tertinggi-di-dunia/ 

Law, Y. (2018). Saving the World’s Most Trafficked Animal. BBC Earth. https://www.bbcearth.com/news/saving-the-worlds-most-trafficked-animal 

Nuswantoro. (2020). Perburuan dan Perdagangan Ilegal Trenggiling Tidak Kenal Masa Pandemi. Mongabay. https://www.mongabay.co.id/2020/07/06/perburuan-dan-perdagangan-ilegal-trenggiling-tidak-kenal-masa-pandemi/ 

Pratiwi, I. E. (2021). Trenggiling Terancam Punah, Pentingnya Edukasi dan Rehabilitasi. Kompas.com. https://www.kompas.com/tren/read/2021/03/05/140000865/trenggiling-terancam-punah-pentingnya-edukasi-dan-rehabilitasi-?page=all 

Author: Iqlima Putri Chaerani

International relations student. //

3 thoughts on “Perdagangan Ilegal Trenggiling di Asia Tenggara

  1. Isu-isu kayak gini yang harusnya lebih sering di up biar kita bisa lebih aware lagi. good job dan semangat terus, Iqlima!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *