Manfaat ASEAN Economic Community (AEC) pada Brunei Darussalam

Selama empat dekade terakhir, ASEAN telah mempertahankan pertumbuhan ekonomi jauh di atas rata-rata global, dengan produk domestik bruto meningkat lebih dari 5% setiap tahun. Kecuali saat Krisis Keuangan Asia 1997/98 dan Krisis Keuangan Global 2008/09. Jika tingkat pertumbuhan saat ini terus berlanjut, ASEAN akan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia pada tahun 2030 di belakang Amerika Serikat (AS), Republik Rakyat Tiongkok, dan Uni Eropa (Gentile, 2019). Pembentukan AEC atau dalam Bahasa Indonesia adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tanggal 31 Desember 2015 diharapkan agar perekonomian kawasan ini akan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi serta lebih terintegrasi dari sebelumnya.

            Tentu hadirnya AEC memberikan manfaat pada tiap negara anggotanya tidak terkecuali Brunei Darussalam. Brunei adalah negara pengekspor minyak dan gas kecil yang terletak di pantai barat laut pulau Kalimantan dengan luas 5765 km2. Agama resmi adalah Islam dan jenis pemerintahannya adalah Kesultanan Konstitusional di mana raja memiliki otoritas penuh dalam negara. Brunei merupakan negara Asia Tenggara yang meraih kemerdekaan paling akhir dibanding negara lainnya. Brunei mencapai kemerdekaan pada 1 Januari 1984 setelah 96 tahun sebagai Protektorat Inggris, yang menyebabkan Sultan melanjutkan kekuasaannya sebagai raja absolut selain memegang posisi sebagai perdana menteri, menteri pertahanan, dan menteri keuangan. Manfaat Brunei terlibat dalam integrasi regional ekonomi AEC ini menurut Macdonald (2019) adalah adanya kesinambungan antara kebijakan, standar, dan regulasi, lalu reformasi kebijakan domestik untuk meningkatkan bisnis dan peningkatan arus masuk Foreign Direct Investment (FDI).

            Adanya AEC membuat prosedur standar bisnis di sepuluh negara ASEAN memungkinkan akses yang lebih mudah bagi barang untuk diekspor tanpa banyak kesulitan sehingga hal ini akan memungkinkan UMKM untuk menembus pasar regional yang lebih besar. Selain itu, pada pertengahan 2016, 99,2% dari semua tarif intra-ASEAN di Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand telah dihapuskan (Macdonald, 2019). Hal ini memungkinkan Brunei untuk mengimpor bahan baku dengan harga yang lebih murah dan meningkatkan daya saing biaya ekspor Brunei. Beberapa UMKM sukses yang memanfaatkan hal ini adalah Sabli Foods, BMC, KTM, Tri-Sun dan Hasmit Roofing. Mereka memiliki akses ke bahan baku yang lebih murah dan selanjutnya mengekspor barang-barang mereka secara lebih kompetitif ke negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina.

            Integrasi regional khususnya dalam ekonomi seperti AEC juga mendorong pelaksanaan reformasi dan kebijakan domestik yang efektif. Sebagai contoh, sejumlah reformasi telah dilakukan untuk membangun lingkungan bisnis yang kondusif di Brunei untuk menarik FDI dan mendukung pertumbuhan UMKM. Beberapa reformasi baru-baru ini dalam hal ini termasuk penerapan Perintah Pengawasan Bangunan untuk menjamin keselamatan bangunan sambil merampingkan proses untuk mendapatkan izin kerja, penyempurnaan Brunei Darussalam National Single Window (BDNSW), portal online untuk persyaratan dokumen terkait impor dan ekspor, pengenalan Sutera Lane Merchant Scheme (SLMS) pada September 2017 untuk membantu importir dan eksportir, penyederhanaan prosedur akses listrik oleh Departemen Pelayanan Listrik dan peningkatan pemantauan pasokan listrik.

            Dengan adanya kemudahan dalam prosedur berbisnis serta kebijakan-kebijakan yang mendorong adanya kerja sama maka aliran dana asing akan semakin deras masuk pada negara dan ini yang terjadi pada Brunei Darussalam dengan hadirnya AEC yang meningkatkan arus masuk FDI. Pada tahun 2017, 17 proyek FDI yang diperkirakan sekitar US$4 miliar beroperasi di Brunei, menyediakan lapangan kerja bagi 1.321 pekerja lokal. Selain itu, ada sembilan proyek FDI lagi dalam tahap implementasi awal dengan total nilai investasi lebih dari US$4,7 miliar. Dari 2017 hingga 2019, semua proyek FDI akan beroperasi dan diproyeksikan akan menciptakan 1.600 lapangan kerja langsung (Macdonald, 2019).

            ASEAN Economic Community sebagai integrasi regional ekonomi telah memberikan banyak manfat pada Brunei Darussalam. Integrasi regional adalah jalan ke depan bagi Brunei untuk mempertahankan dan meluaskan ekonominya. Beberapa manfaat integrasi regional untuk bisnis Brunei adalah harmonisasi kebijakan, standar dan peraturan, pelaksanaan reformasi domestik dan peningkatan arus masuk FDI. Manfaat ini kemudian berkontribusi pada peningkatan lingkungan bisnis di Brunei menarik lebih banyak FDI dan memungkinkan UMKM lokal untuk mengakses pasar yang lebih luas yang akan mengembangkan sektor swasta dan memberikan lebih banyak kesempatan kerja bagi warga Brunei.

Referensi:

Gentile, E. (2019). Skilled Labor Mobility and Migration: Challenges and Opportunities for The ASEAN Economic Community. Edward Elgar Publishing.

Macdonald, R. (2019). Southeast Asia and the ASEAN Economic Community. Palgrave Macmillan.

Author:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *