HIV/AIDS Sebagai Isu Global

Human Immunodeficiency Virus (HIV), HIV merupakan virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia (Gunawan et al., 2016, hlm. 54) sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat virus HIV (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Sejumlah ilmuwan mengatakan pandemi AIDS pertama kali muncul tahun 1920-an di kota Kinshasa, yang sekarang menjadi Republik Demokratik Kongo (“Aids pertama kali muncul di Kinshasa”, 2014). Para ilmuwan mengatakan hal ini terjadi akibat adanya pertumbuhan atau pertambahan jumlah penduduk dalam skala besar, seks dan kemajuan transportasi seperti rel kereta api yang memungkinkan para penumpang berdekatan dalam gerbong sehingga hal ini yang memungkinkan virus HIV menyebar secara cepat dan membawa virus ke beberapa wilayah yang dilintasi dan pada tahun 1980-an terjadi ledakan epidemik AIDS.

Penderita AIDS yang disebut juga ODHA (Orang dengan HIV AIDS) memiliki sistem imunitas yang lemah, tubuh penderita akan melemah seiring dengan berjalannya waktu. Tubuh penderita ODHA akan mudah terserang penyakit seperti infeksi dan kanker, belum ditemukan obat untuk penderita HIV atau AIDS. Penyakit ini telah menjadi wabah di dunia hingga saat ini dan menjadi salah satu tantangan kesehatan dan pembangunan serius di dunia. Berbagai tantangan yang ditimbulkan oleh penyakit menular dalam lingkungan global ini dikonseptualisasikan sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan manusia. Peningkatan akibat globalisasi juga menjadi potensi besar dalam perkembangan dan penyebaran penyakit akibat pergerakan manusia.

HIV/AIDS menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang serius. Pada tahun 2019 diperkirakan 38 juta orang hidup dengan HIV (termasuk 1,8 juta anak-anak), dengan prevalensi HIV global 0,7% di antara orang dewasa, sekitar 19% dari orang-orang ini (7,1 juta) tidak tahu bahwa mereka memiliki virus (avert, n.d). Penyebaran yang diakibatkan oleh epidemi virus HIV/AIDS ini dirasakan dampaknya oleh berbagai tingkatan masyarakat. Banyak orang yang hidup dengan HIV/AIDS tidak memiliki akses untuk pencegahan, pegobatan, perawatan, dan penyakit ini belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Dibawah program Sustainable Development Goal 3, komunitas global sepakat untuk mengakhiri epidemi HIV/AIDS ini pada tahun 2030, namun dalam pencapaian tersebut tidak merata dan target sementara “90-90-90” terlewatkan (The Kaiser Family Foundation, 2021).

Seiring dengan berjalannya waktu, muncul inisiatif baru dan mekanisme pembiayaan dalam membantu meningkatkan perhatian terhadap HIV dan berkontribusi dalam upaya mencapai tujuan global ini. Diantaranya yaitu, the Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) yang dibentuk pada tahun 1996 yang berfungsi sebagai koordinasi sistem PBB dan membantu untuk menyadarkan masyarakat dunia dan menaruh perhatian terhadap HIV/AIDS dan the Global Fund to Fight AUDS, Tuberculosis, and Malaria (Global Fund) yang didirikan oleh PBB pada tahun 2001 oleh United Nations General Assembly Special Session (UNGASS) sebagai lembaga pembiayaan internasional yang memberikan hibah kepada negara-negara yang terkena dampak dari HIV (UNAIDS, 2020). Terdapat upaya global lain dalam hal memerangi HIV, yaitu The President’s Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR) yang dibuat pada tahun 2003 untuk menangani epidemi global. Program Amerika Serikat ini juga melakukan koordinasi yang erat dengan organisasi multilateral seperti Global Fund dan UNAIDS (U.S. Department of State, n.d).

Upaya dalam memerangi HIV/AIDS ini telah melibatkan pemerintah maupun organisasi penting lainnya dengan memberikan bantuan berupa dana terhadap negara-negara yang terkena dampak yang parah dan menyediakan sumber daya untuk mengatasi epidemi di negara yang berdampak. Dapat diketahui pula, suatu bangsa dapat mengalami penurunan 1% dari GDP (Gross Domestic Product) setiap tahunnya jika 20% dari populasi dewasa terinfeksi HIV seperti yang terjadi di Botswana dimana 35% dari populasi dewasa terinfeksi HIV dan 25% di Swaziland dan Zimbadwe. Tidaklah mengherankan bahwa beberapa pemimpin dunia menyatakan bahwa epidemi HIV sebagai bencana nasional sekaligus ancaman terhadap keamanan global (Soedirham, 2013).

Dibutuhkan kesepakatan serta komitmen antar negara dalam memperhatikan masalah HIV/AIDS. Negara juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menangani isu kesehatan global serta melaksanakan perjanjian-perjanjian internasional terkait dengan upaya penanganan HIV/AIDS yang sudah menjadi masalah global. Masalah kesehatan global saat ini masih menjadi tantangan yang besar bagi setiap negara. Resiko bersama yang dialami akibat virus HIV/AIDS ini tidak mungkin dapat ditangani sendiri melainkan perlu dengan adanya kerja sama internasional dan kesadaran dari masing-masing individu.

Referensi

Gunawan, Y., Prasetyowati, I., & Ririanty, M. (2016). Hubungan Karakteristik ODHA dengan Kejadian Loss To Follow Up Terapi ARV di Kabupaten Jember. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 12(1), 53-64. https://jurnal.unej.ac.id/index.php/IKESMA/article/view/4822

Soedirham, O. (2007). HIV/AIDS Sebagai Isu Human Security. Journal of Universitas Airlangga. 1(1), 25-35. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/4.%20pak%20oedojo-HIV.pdf

Aids Pertama Kali Muncul di Kinshasa. (2014, 6 Oktober). BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/10/141006_iptek_origin_aids

Avert. (n.d). Global HIV and AIDS Statistics. https://www.avert.org/global-hiv-and-aids-statistics

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Situasi HIV AIDS di Indonesia. https://www.kemkes.go.id/article/view/17010600004/situasi-hiv-aids-di-indonesia.html

The Kaiser Family Foundation. (2021). The Global HIV/AIDS Epidemic. https://www.kff.org/global-health-policy/fact-sheet/the-global-hivaids-epidemic/

UNAIDS. (2020). Global HIV & AIDS statistics – 2020 fact sheet. https://www.unaids.org/en/resources/fact-sheet

U.S Department of State. (n.d). About Us-PEPFAR. https://www.state.gov/about-us-pepfar/

Author: Rosa Lestari

keep moving.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *